zaQ corner

Posts Tagged ‘itb

Baru aja ngisi diskusi tentang internet economy yang diselenggarakan oleh ShARE ITB. Biar yang lain juga ngrasain manfaat dari diskusi ini berikut ini saya share slidenya :

Advertisements

Dulu ketika awal masuk ITB bayangan saya tentang seorang insinyur adalah mereka yang sering ngotak-atik di depan mesin atau alat (kalo anak IF ya komputer). Mereka juga harus freak/geek dengan yang namanya teknologi dan umumnya cerdas secara intelektual. Namun beberapa tahun ini pandangan itu berubah seiring dengan aktivitas saya di dunia entrepreneurship di Kampus. Puncaknya menurut saya adalah pada seminar kemarin (mungkin itu seminar paling besar yang terakhir saya ikuti di ITB) yang diberikan oleh Pak Arifin Panigoro. Insinyur disamping harus geek juga harus memberikan nilai tambah bagi masyarakat secara langsung.

Pergolakan antara kubu progresif dan konservatif di antara jajaran penggede ITB sebenarnya sudah lama terjadi. Kubu konservatif digawangi oleh para guru besar dan beberapa anggota MWA (mungkin sebagian besar). Kubu konservatif tidak ingin hadirnya tokoh-tokoh semacam Arifin, Bakrie, atau Ciputra mewarnai kehidupan ilmiah kampus karena mereka kurang sepakat dengan cara-cara mereka mendapatkan kesuksesan (masih menjadi perdebatan). Mereka juga umumnya menggunakan cara-cara lama untuk menggalang dana ITB (salah satunya mengandalkan USM-ITB). Lain halnya kubu progressif, mereka umumnya digawangi golongan muda (umumnya orang bisnis). Ada juga golongan tua yang secara tidak langsung mendukung seperti Pak Gede Raka dan Pak Iskandar Alisjahbana (paling tidak saya lihat lewat pemikiran2nya). Mereka umumnya mengkritik kebijakan ITB yang menggunakan cara yang kuno untuk mendapatkan dana seiring BHMN-nya ITB sehingga harus nyari sendiri dana untuk operasional. Walaupun sekarang sudah lumayan maju pesat (mungkin karena masuknya beberapa kubu progresif ke jajaran pengambil kebijakan kampus). Salah satu pernyataan ekstrim yang pernah diungkapkan Pak Iskandar adalah usulan untuk memberikan DrHc kepada Arifin Panigoro atas jasa-jasanya menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologinya sehingga memberikan nilai tambah yang sangat besar bagi masyarakat. Namun tampaknya itu cukup sulit diwujudkan karena Majlis Guru Besar menolak usulan tersebut (masih dengan alasan yang sama seperti yang sudah saya tuliskan). Namun begitu, saya benar-benar bersyukur dengan diundangnya Pak Arifin Panigoro dalam kuliah umum yang dibuka langsung oleh rektor ITB dan dipublikasikan di beberapa media nasional.

Keberhasilan menghadirkan Pak Arifin Panigoro menurut saya memiliki pengaruh yang sangat besar ke depan bagi kemajuan kampus ITB terutama paradigma yang dianut oleh mahasiswa ITB. Tak salah kalau saya mendengar Pak Gede Raka memerintahkan Ibu Presiden KM-ITB untuk mengundang teman-teman mahasiswa sebanyak-banyaknya untuk hadir dalam Kuliah Umum itu. Kuliah Umum kemarin merupakan peristiwa penting dalam sejarah kampus ITB (mungkin bisa diartikan kemajuan kubu Progresif secara politik). Yang sebelumnya sudah didahului oleh simposium-simposium yang menggulirkan isu dikotomi World Class University dan Kontribusi langsung ITB di masyarakat. Walaupun yang saya sayangkan mahasiswa ITB yang hadir dalam Kuliah Umum tersebut cukup sedikit, karena banyak diisi oleh orang luar dan mahasiswa luar.

Ketika melihat publikasi Kuliah Umum tersebut, saya langsung membayangkan seperti ceramah Steve Jobs di Stanford. Kontennya begitu substansial dan mengena ke seluruh pendengar bahkan orang awam pun, selain juga tentunya menginspirasi. Namun ketika mendengar kuliah umum kemarin, saya sebenarnya sedikit kecewa. Kontennya begitu makro dan terlalu mengawang-awang untuk mahasiswa (padahal target audiens utamanya para mahasiswa). Kesan saya seperti mendengarkan kuliah Steve Jobs hilang seketika. Tapi walaupun begitu saya cukup mendapat banyak insight terutama tentang Energi dan Pangan (karena pendidikan sedikit sekali dibahas).

maju terus ITB progressif!!

This is my first english article at this blog. May be you think why i use english. This is because i will share about share. heh? Share about share? what the hell is that? yea…ShARE!! Yesterday i joined ShARE welcoming event for new ShARE member. ShARE is an International student organization that focused on study about economics. You can learn more about share at http://www.share-economy.com.

ShARE ITB is the second branch of ShARE Global in Indonesia after establishment of ShARE UI first. ShARE ITB was established by Karlisa cs (including me). We established ShARE because ITB was lack of international organization that focused on economy affair. We hope that this organization could bring ITB issue to the world especially on technological research.

I’m very glad that this organization is running well on Demi leadership (after Karlisa). I saw this after attended at ShARE new member meeting yesterday (they held discussion). I think that is the most awesome discussion i’ve ever attended. They discussed 4 issues in English. They are IT, Energy, Social, and Entrepreneurship. Many of them have briliant thought. Imagine that first year student have known the defition about entrepreneurship well. I hope that ShARE can be alternative thinkthank organization in ITB.

Tags: ,

Keprihatinan saya terhadap kampus ITB semakin menjadi-jadi setelah tadi siang ada acara makan siang bareng temen-temen. Sebelumnya saya menemukan beberapa fakta salah satunya dari teman saya petugas registrasi ulang USM bahwa mahasiswa yang masuk ITB melalui USM berjumlah 1900 orang (sekitar 65% dari total jatah). Saya disini tidak memperdebatkan antara USM dan SNMPTN tetapi lebih kepada substansinya itu sendiri yaitu cara yang diambil ITB untuk mengumpulkan pundi2 uangnya (kalo kata pak Larso SBM “tidak elegan”). Dari data yang saya dapat dari MWA wakil mahasiswa, mahasiswa ternyata menyumbang sebagian besar pundi2 dana ITB tersebut.

Beberapa seminar yang saya ikuti dan juga saya moderatori sering membahas masalah ini. Kritikan miring terhadap ITB yang membahas masalah tersebut umumnya datang dari dosen/pembicara yang berasal dari kubu “REFORMIS” (istilah saya sendiri). Mereka umumnya memiliki jiwa-jiwa entrepreneurship dan berasal dari jurusan TI dan SBM. Walaupun saya bukan mahasiswa SBM dan TI tapi akal pemikiran saya membenarkan pernyataan-pernyataan mereka. “Something wrong with ITB!!”. Namun saya tidak akan membahas terlalu jauh masalah tersebut, saya akan membahas secuil kecolongan-kecolongan ITB yang harusnya tidak terjadi.

Mengalirnya dana-dana orang tajir keluar

ITB Kecolongan

ITB Kecolongan

Makan siang bareng temen (anak SBM) tadi berlangsung di “Ngopi Doeloe”. Sebelumnya emang belum pernah kesitu. Karena datang duluan saya amat-amatin dulu deh tu warung makan. Ada yang menarik, pengunjungnya ternyata banyak sekali dan kebanyakan mahasiswa. Beberapa temen saya di Arsitektur juga mengungkapkan kalo mereka sering makan di sekitar situ (Jl Hasanuddin & Imam Bonjol). Hal itu diperkuat dengan pernyataan temen saya SBM tadi kalo anak-anak SBM memang sering makan di situ juga (pokoknya banyakan yang keluar dah daripada ke KBL ato yang lain di dalam kampus). Lantas saya berpikir “pantas saja ITB ga ada duit (yang berefek memperbesar jalur USM), duit mahasiswanya aja larinya keluar”.

Saya jadi kebayang Gedung Campus Center ITB yang banyak “idle”nya itu. Ya, ITB kecolongan di sini, kenapa Campus Center ga dijadiin foodcourt atau semacamnya yang mewah biar duit orang-orang tajir larinya kesitu? Mungkin banyak beberapa mahasiswa berpikiran “Ah ini komersialisasi kampus namanya”. Bodoh saya pikir kalo ada mahasiswa yang bilang kek gitu. Dinamakan komersialisasi kalo sudah tidak ada pilihan lain selain makanan yang mahal di Campus Center. Tapi ini lain, karena masih ada pilihan makanan murah di Salman atau Gelap Nyawang. Yang terjadi sesungguhnya jika Campus Center dibangun foodcourt yang mewah adalah tersegmentasinya pasar. Dengan adanya foodcourt mewah di CC otomatis mahasiswa tajir di kampus ga bakalan lari keluar seperti yang saya lihat di atas. Dengan begitu ITB dapet pemasukan secara tidak langsung. Tentunya manajemennya harus professional, yang ngelola foodcourtnya jangan karyawan ITB..he..he..apalagi mahasiswa. Cara-cara seperti ini telah dilakukan olah mantan Dekan FISIP UI (yang sekarang jadi rektor UI). Saat berkunjung ke FISIP UI, saya cukup tersentak “woww!!”. Di sana kehidupan ekonomi begitu semarak, mahasiswa-mahasiswa tajir begitu konsumtifnya makan disitu, sambil beli-beli buku. Sementara yang ga tajir ya lari ke tempat lain. Perputaran uang tersebut ternyata berimbas pada naiknya gaji-gaji karyawan dan dosen di FISIP UI. Mahasiswa senang, dosen juga turut senang…

kecolongan lain akan dibahas di part selanjutnya… masih banyak he..he..pegel nulisnya…

Tags:

Seperti kita tahu, rektor kita ini sekarang sedang gencar-gencarnya melakukan kampanye visi ITB World Class University. Salah satu komponen terpenting ukuran world class university adalah paper hasil risetnya. Baik kualitas ataupun kuantitasnya. Namun, benarkah kalo paper ITB banyak dan berkualitas kemudian ITB layak menjadi World Class University. Tunggu dulu…itu kan hanya paper, paper = kertas.

Beberapa waktu lalu Prof Yanuar salah satu senat ITB dari Teknik Elektro STEI mengungkapkan hal lain. ITB ternyata terlalu terbawa oleh isu World Class University dengan paper-papernya. ITB tidak memberikan solusi konkrit terhadap permasalahan bangsa. Bahkan untuk sampah dalam kasus Bandung tempo dulu saja ITB tidak bisa berbuat apa-apa. Isu itu bisa saja dibawa oleh kaum imperialis untuk membuat bangsa kita tidak maju karena terus berkutat pada paper-paper saja. Walaupun itu hipotesis yang terlalu cepat untuk ditelurkan rasanya ada benarnya juga kalau kita analisis lebih dalam.

Coba saja kita lihat sekarang, adakah karya ITB di sekitar kita yang memberikan systemic impact (dampak yang dahsyat) terhadap masyarakat? Walaupun ada beberapa saya lihat seperti di jurusan saya sendiri seperti dmr (www.digitalmarkreader.com). Rasanya produk-produk seperti ini jarang sekali ditelurkan ITB. Sebagai universitas terbaik di Indonesia, harusnya ITB bisa memberikan sesuatu lebih kepada masyarakat Indonesia bukan hanya paper-paper belaka. Saya kira kita harus meredefisini ulang istilah World Class University menurut definisi kita sendiri bahwa World Class University merupakan universitas yang banyak memberikan nilai lebih terhadap masyarakat sekitar. Secara empirik bisa kita lihat dengan mudah bahwa hasil riset dosen dan mahasiswa ITB bisa diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Tentunya dengan memberikan nilai tambah tertentu.