zaQ corner

Archive for the ‘entrepreneurship’ Category

Dulu sewaktu mahasiswa, terlintas anggapan bahwa ide dalam sebuah bisnis adalah segala-galanya. Sampai-sampai saya pernah ketakutan kalau ide saya dicuri orang lain. Sehingga urung mengungkapkan ide tersebut ke orang lain yang berakibat ide saya ga pernah dapet feedback. Lagipula ide hanya akan menjadi angan kalo cuma didiemin, ga dieksekusi. Ketangguhan ide kita bakal teruji selama mengeksekusi ide tersebut. Misalnya ditengah jalan produk yang kita kembangkan ada masalah, baik itu keuangan ato operasional, kita bisa menyelesaikan masalah tersebut dengan ide-ide kreatif kita. Jadi kesuksesan sebuah ide tidak datang dari awal itu sendiri, tetapi dari orang-orang yang membangun ide tersebut.

Profesor di bidang entrepreneurship William Bygrave mengamati fenomena bagaimana perusahaan-perusahaan venture capital sukses memilah-milah ide bisnis yang mereka terima. Sang profesor menemukan sebuah fenomena yang sangat menarik. Banyak bisnis sukses dengan ide kelas B daripada kelas A tapi semua bisnis yang sukses mereka danai itu ternyata punya orang-orang kelas A. Makanya tak heran kalo venture capital company berprinsip “danai aja bisnis dengan orang kelas A dengan ide kelas B”. Tak salah kalo pengusaha yang sudah sukses diberbagai bisnis dikejar-kejar sama Bank. 90% Kemungkinan bisnis mereka berhasil. Daripada mendanai orang yang baru terjun bisnis dengan ide besar yang belum tentu berhasil?

Relevansi teori di atas saya uji di lingkungan sekitar saya, terutama sejak saya aktif di dunia entrepreneurship di ITB. Banyak sekali kompetisi tentang ide bisnis dulu diadakan. Komunitas-komunitas yang merangsang ide bisnis baru tumbuh juga digalakkan. Bahkan di ITB, I2B(Inkubator Industri dan Bisnis) sempat menggelontorkan dana besar-besaran bagi siapapun yang punya ide bagus di bidang industri kreatif. Tapi tampaknya belum ada hasil yang signifikan. Banyak lomba ide bisnis belum bisa melahirkan pengusaha yang real, bahkan tak sedikit juara lomba di tingkat nasional ataupun internasional mandeg dengan idenya dan tak dapat menjadikan idenya sebuah bisnis yang menggurita. Dana-dana dari angel investor juga hilang rimbanya (hasil pengamatan dari alumni ITB yang mendapat dana dari alumni ITB juga). Adakah yang salah?

Sekali lagi ide bukanlah segala-galanya. Ujilah ide-ide itu terlebih dahulu, sampaikan ke orang lain. Dengan begitu anda bisa dapet feedback. Dengan feedback ide anda disempurnakan. Uji lagi ke pasar, perbaiki lagi produk yang sudah anda kembangkan dengan keinginan pasar. Cobalah sedikit poles produk anda dengan kekreatifan anda. Proses kecil-kecil seperti inilah yang menentukan kesuksesan bisnis.

(antara pengamat dan praktisi)

Advertisements

Namanya Christoper Kleem, direktur Austin Entrepreneurship Program di OSU. Beruntung saya bisa berdiskusi dengan beliau tentang Indonesia dan Amerika. Salah satu isu yang saya bawa adalah, masih tentang bagaimana Amerika bisa menghasilkan wirausaha-wirausaha hebat yang menjadi tulang punggung ekonomi Amerika. Menurut beliau ada 3 hal. Yang pertama adalah “People”. Amerika dulu adalah tanah kosong, banyak masyarakat Eropa yang bermigrasi ke Amerika. Mereka yang bermigrasi ini ternyata bukan orang sembarangan. Orang-orang Eropa yang punya ide-ide hebat tetapi dikekang oleh Gereja (kebanyakan dari Prancis). Orang-orang Eropa yang merupakan wirausaha tapi karena kondisi yang buruk di Eropa mengakibatkan mereka pindah ke Amerika. Dan juga Orang-orang Yahudi yang hebat karena adanya Holocaust sehingga mereka pindah ke Amerika. Mr Christ bilang “We have these people”.

Poin kedua adalah ‘Tradition’. Beliau bilang tradisi yang paling kental di Amerika adalah, mudahnya menjadikan ide menjadi bernilai ekonomi. Ini tidak dimiliki negara lain. Disini ide-ide baru sangat dihargai dan diapresiasi. Ini menimbulkan poin ketiga yang sangat krusial yaitu “Intelectual Property”. Setiap ide yang terlahir dilindungi oleh hukum. Di Amerika setiap hari ratusan mungkin ribuan paten terlahir dan ini menakjubkan. Yang menarik adalah, ada daerah-daerah tertentu yang sangat entrepreneurial seperti Silicon Valley, Mashachuset, dan Seatle. Daerah itu bisa menghasilkan ide-ide baru jauh lebih banyak dari daerah lain. Saya belum menemukan jawaban kenapa hal ini bisa terjadi.

Lalu saya tanya, dimana peran pendidikan di Amerika? Pendidikan di Amerika , kata beliau, tercipta setelah proses pembentukan ‘people’ dari Eropa tadi. Sebenarnya contoh yang menarik tentang bagaimana kesuksesan pendidikan dalam menumbuhkan jiwa entrepreneurship sehingga memajukan bangsanya ada di Korea Selatan. Taun 60an Korsel adalah Negara yang sangat miskin, bahkan lebih miskin dari Indonesia. Lewat push pendidikan yang kuat, mereka kita bisa menghasilkan LG, Hyundai, KIA, Samsung, bahkan beberapa paten produk dunia dipegang Korsel.

Pembicaraan mulai keluar dari topik entrepreneurship. Beliau mulai membicarakan bagaimana Negara-negara bisa maju. Amerika bisa melesat juga karena kondisi geografi, kesukuan, dan bahasanya. Demikian juga Korsel. Kondisi geografi yang satu hamparan membuat mereka lebih mudah dalam berdagang. Bahasa mereka yang satu membuat mereka mudah berkomunikasi dalam berbisnis. Suku-suku yang ada di Kedua negara itu juga seragam. Saya bertanya ke beliau, mungkinkah keberagaman suku di Indonesia menghambat kemajuan Indonesia? Beliau menjawab “bisa jadi”. Tapi ada satu yang menarik dari Indonesia kata beliau, yaitu satu agama yang dominan. Mungkin itu yang bisa menutup semua hambatan dan bisa menjadikan Indonesia menjadi bangsa yang besar.

Banyak wirausahawan hebat Amerika umumnya lulusan universitas.  Seperti sergey brin/Larry Page (pembuat Google), Warren Buffet, dan Jerry Yang (pembuat Yahoo), dan masih banyak lagi. Saya kira ini wajar, karena lingkungan kampus sangat mendukung untuk tumbuhnya jiwa-jiwa wirausaha seperti yang saya paparkan di part I. Lalu bagaimana dengan wirausahawan seperti Bill Gates, Steve Jobs, dan Michael Dell yang tidak pernah lulus di universitas? Bisa dibilang, Amerika merupakan negeri yang cukup banyak memiliki wirausahawan yang tidak lulus kuliah. Cukup sulit untuk menjelaskan fenomena ini. Tapi saya memberanikan diri membuat tulisan ini. Mereka yang sukses wirausaha tanpa kuliah, yang ada dibenak saya pasti lingkungan dan budaya tempat dia tinggal sangat mendukung. Tak salah memang, selama berada di negeri ini, saya amati budaya masyarakatnya sangat mendukung tumbuhnya jiwa wirausaha. Saya mengamati bagaimana budaya primordial tidak bisa tumbuh disini. Anak muda yang hebat tentu lebih disegani dari orang tua yang tidak bisa apa-apa. Masyarakat Amerika sangat menghargai kapasitas individu. Mereka juga sangat apresiatif terharap suatu ide apalagi sikap suka memujinya yang tidak bisa saya lupakan.

Mereka umumnya juga pemberani dan percaya diri. Anak-anak kecil disini sangat berbeda dengan anak kecil di Indonesia. Anak kecil di Amerika sangat dewasa sekali. Mereka bahkan bisa bebas berdebat dengan orang dewasa akan suatu hal tanpa ada larangan. Ini tentu bisa menumbuhkan sikap kreatif. Kalo kita mengajukan pertanyaan ke anak kecil disini “Apa ada pertanyaan?”, hampir seluruh anak mengangkat tangannya. Yang saya lihat di Indonesia, budaya seperti ini cukup jarang ditemui.

Satu lagi yang amat sangat kental, masyarakat Amerika sangat logis dan efektif. Budaya ini menarik buat saya karena saya menemukan fenomena yang sangat berbeda dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Tentunya budaya seperti ini bisa menjadi faktor juga kenapa wirausahawan yang tidak kuliah bisa tumbuh subur di negeri ini. Ketika datang pertama kali ke negeri ini, saya terkejut dengan banyaknya toko barang bekas disini. Di toko buku besar (kalo di Indonesia mungkin sekelas gramedia), juga banyak menjual buku-buku bekas. Anehnya buku-buku bekas ini seperti baru, hampir sangat sulit membedakan antara bekas dan baru. Saya kadang berpikir, kalau buku-buku dan barang-barang bekas orang Indonesia larinya pada kemana yah? perlu ada riset lebih mendalam sepertinya untuk menjawab pertanyaan ini.

Selain barang bekas yang dengan mudah bisa kita temui, budaya logis dan efektif mereka juga bisa kita temui di papan pengumuman di berbagai tempat. Yang sering saya temui, banyak pengumuman mahasiswa yang mencari teman serumah karena ia di rumah sendiri. Selain itu juga kalau pergi ke suatu tempat yang jauh umumnya mereka menawarkan tumpangan di papan ini, tentunya yang mau ikut harus ikut bayar bensin. Demikian juga sebaliknya jika mau pergi ke suatu tempat pada tanggal tertentu umumnya mereka menempel info kalau mereka butuh tumpangan. Papan itu setiap hari sering berubah kontennya saya amati, sangat dinamis. Yang lebih menarik lagi adalah, budaya setelah makan masyarakat sini. Adalah sangat umum bagi masyarakat sini untuk membawa pulang makanan sisa apabila tidak habis. Cukup minta kardus ‘take home’ trus masukin deh makanan itu, mereka dengan pedenya bilang “I don’t have money” ketika saya tanya ‘kenapa dibawa pulang? di Indo itu makanan bekas lo..’. Lagi, banyak saya temui orang bawa mobil di dalemnya isinya kaleng bekas. Mereka datang ke vending machine tempat penukaran kaleng/botol. Setiap kaleng/botol dihargai 5 sen oleh vending machine itu. Saya juga terkejut melihat fenomena ini, bagaimana bisa orang bawa mobil didalamnya isinya sampah botol/kaleng. Masyarakat disini sangat menghargai sekecil apapun yang mereka punya.

kaleng

Pada nuker kaleng/botol dengan duit

Apa-apa yang saya lihat di atas baru sedikit dari budaya masyarakat sini yang sangat relevan dengan tumbuh kembangnya jiwa-jiwa entrepreneurship masyarakatnya. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia.

Amerika merupakan negara dengan PDB paling besar di dunia. Bahkan hampir sama dengan gabungan seluruh PDB seluruh negara Eropa. Ini berarti kegiatan ekonomi di negara ini sangatlah besar. Yang membuat saya heran adalah, kenapa wirausahawan-wirausahawan hebat umumnya datang dari negeri ini? Bill Gates, Waren Buffet, Richard Branson, Dell, Steve Jobs merupakan sedikit dari banyak wirausahawan dari negeri ini yang menjadi tonggak kemajuan bangsa ini. Jadi terinspirasi kata Malcolm Gladwell dalam buku barunya Outliers, orang-orang seperti ini tidak bisa dicetak begitu saja. Ia, bak pohon yang tinggi, tidak lahir hanya dari bibit yang bagus, tapi juga karena ada matahari yang menyinarinya, ada tanah yang membuatnya tumbuh subur, dan juga ada zat-zat yang mendukung buat ia tumbuh tinggi.

Keheranan saya membuat saya mencari tau faktor-faktor yang membuat mereka tumbuh sedemikian banyak, paling tidak di kampus tempat saya belajar. Berbeda dengan gerakan wirausaha di kampus ITB Indonesia yang umumnya independen dan terkesan underground. Di kampus amerika ini gerakan entrepreneurship memang serius didukung oleh kampus. Sering sekali ada pengusaha atau praktisi entrepreneurship yang datang ke kampus untuk mengisi seminar dan resmi diundang oleh rektor. Di kampus ini juga ada lembaga yang bernama Austin Entrepreneurship Program (AEP). AEP memiliki program-program yang sangat bagus untuk mahasiswa kampus ini yang ingin menumbuhkan jiwa wirausaha. Mereka punya satu gedung yang sebagian besar digunakan untuk asrama bagi mahasiswa yang ingin menumbuhkan jiwa wirausaha. Mereka juga diberi ruang khusus untuk mereka yang ingin berwirausaha.

Ketika saya berkunjung ke AEP untuk mencari info lebih dalam tentang apa yang mereka lakukan, saya cukup terkejut. Salah satu pengurus AEP menuturkan bahwa AEP tidak menyarankan mahasiswa untuk memiliki usaha. Akan tetapi tugas mereka hanya menumbuhkan jiwa-jiwa wirausaha, diantaranya : berani mengambil resiko, kerja keras, kreatif, sosial, passion, dan juga mandiri. Saya kemudian diajak mereka untuk mengikuti proses pembentukan jiwa-jiwa itu, yaitu mengikuti kelas Introduction to Entrepreneurship.

Masuk kelas ini serasa tidak sedang mengikuti kelas entrepreneurship seperti di Indonesia yang cenderung provokatif. Kita hanya diberi tugas mengeksekusi project Boys&Girls (akan saya ceritakan lebih lanjut). Project ini semacam project sosial yang ditujukan bagi anak-anak SD, SMP, dan SMA di daerah sekitar kampus. Dari project inilah sang dosen menumbuhkan jiwa-jiwa yang saya sebutkan di atas. Setiap proses dalam eksekusi project ini, sang dosen benar-benar menanamkan nilai-nilai wirausaha. Baru saja sore tadi ikut kuliah ini, begitu teringat di kepala saya dosen itu cerita tentang bagaimana bisnis besar teletubies dibuat. “Bisnis bernilai triliunan ini awalnya dibuat dari iseng-iseng ibu rumah tangga yang berusaha membuat anaknya yang belum berumur 1 tahun lebih atraktif. Demikian juga project ini, kalian bisa menyelediki dan memikirkan hal-hal kecil yang menantang anda, sehingga jadi bisnis. Maka kerjakan dengan hati/passion.”

Tampaknya, besarnya jumlah wirausaha hebat (terutama lulusan universitas) dari negeri ini tidak terlepas dari faktor di atas. Dukungan dari institusi dimana masyarakat Amerika hidup yaitu universitas. Tidak hanya kampanye untuk punya usaha tetapi bagaimana jiwa-jiwa wirausaha itu bisa tertanam dalam diri mahasiswa-mahasiswa amerika, yang saya anggap ini sebagai “Substantial Entrepreneurship”.

Tulisan ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi (karena saya banyak gagalnya..he..he..) dan juga dari pengamatan temen-temen (kebetulan lingkungan juga kalangan entrepeneur dan mereka beberapa ada yang gagal juga ternyata). Tulisan ini juga dibuat untuk memenuhi kebutuhan wirausaha. Karena satu hal yang saya suka dari seorang wirausaha adalah jangkauan belajarnya yang sangat luas. Saya harap tulisan ini juga bisa dijadikan pelajaran bagi mereka sehingga tidak mengulang kesalahan yang telah dilakukan oleh orang-orang yang telah salah. Saya percaya dunia entrepreneurship yang selama ini dianggap sebagai seni (sesuatu yang ga teratur) bisa dikristalkan menjadi sebuah pengetahuan, yaitu sesuatu yang memiliki pola/pattern teratur sehingga bisa dipelajari.

1. Melakukan segalanya sendiri (single fighter)

Di awal menjalani kehidupan berwirausaha saya punya sifat seperti ini. Mungkin juga karena lagi semangat2nya dan idealis2nya. Entah kenapa teman-teman saya wirausaha pemula juga beberapa melakukan hal ini dan mereka sepertinya gagal juga. Analisis saya kenapa orang melakukan wirausaha sendiri gagal adalah mungkin karena mereka jarang melihat sudut pandang lain. Setiap mengambil keputusan mereka menggunakan sudut pandang pribadi. Padahal kalo ilmu masih cetek keputusan tersebut cenderung salah. Tapi ada juga yang wirausaha sendiri berhasil. Temen-temen saya yang berwirausaha sendirian (single fighter) berhasil umumnya mereka memiliki sifat berikut : supel, banyak teman, humble. Analisis saya lagi, mungkin dengan sifat inilah mereka mendapatkan banyak masukan atau sudut pandang lain sehingga keputusan-keputusan bisnisnya kemungkinan besar tepat. Oh ya, saya ga percaya kalo dikatakan wirausaha hebat punya intuisi, yang ada adalah mereka tekun dan terus belajar dari apa yang ada di sekitarnya. Ini yang saya rasakan.

2. Salah memilih bidang bisnis
Lagi-lagi ini pengalaman bisnis saya juga. Tapi lagi-lagi beberapa temen yang gagal saya amati juga demikian. ketepatan memilih bidang bisnis menurut saya cukup urgent. Kenapa sih bidang bisnis yang dipilih harus tepat? jelas, ini menentukan sustanability bisnis. Mereka yang berbisnis dengan market yang kecil, banyak kompetitor, dan juga jenuh umumnya kurang sustain. Bisa aja si diawal sukses, tapi kalo bicara masalah sustanability kita bicara jangka panjang. Ada juga yang tahu mereka salah memilih bidang bisnis, kemudian mereka expand ke bisnis yang memiliki rantai nilai tak jauh dari bisnis sebelumnya. Oh ya, ini asumsi kalo sukses bisnis dinilai dari banyaknya revenue yang didapat. Kalo anda menilai sukses bisnis karena bisnis tersebut survive bisa jadi anda punya pandangan lain dengan saya. Contohnya menyikapi orang-orang yang motivasi bisnisnya karena kesenangan/passion. Bisnis distro, indie band, atau game indie. Tapi ada juga yang sukses dalam dua sudut pandang itu. Mereka berawal dari passion dan mereka sukses secara revenue. Analisis saya, mereka sukses karena pas memilih bidang bisnis atau pas pasar sedang mengarah kesitu (terjadi pergeseran asumsi di masyarakat), contohnya terjadi pada industri distro. Walaupun menurut saya, teori ‘passion’ atau ‘lentera hati’ yang pernah disiarkan di kick andy masih bisa menjadi perdebatan. Jujur, saya pribadi bisa menciptakan passion terhadap apapun disekitar saya. Kurang tau kalo temen-temen lain.he..he..

3. Terpaku pada hasil/Uang
Sungguh di dunia ini tidak akan ada hasil tanpa melalui proses yang cerdas, efektif dan bermutu. Saya suka mengkritik motivator-motivator yang suka menggambarkan betapa mudahnya sebuah kesuksesan (terutama orang-orang di bisnis MLM). Seolah-olah hasil tersebut bisa didapatkan hanya dalam sekejap tanpa proses yang cerdas, efektif dan bermutu. Jelas ini filosofi yang menyesatkan. Apalagi kalo framework seperti ini kita gunakan terus dalam dunia bisnis atau misalkan jadi professional. Yang ada walaupun sukses tapi caranya sangat merugikan orang lain dan cenderung tidak adil. Tentu ini tidak baik bagi peradaban dunia ini (halah ngomongnya ko uda peradaban aja..). Lalu kenapa sih orang yang terpaku pada hasil bisa gagal berwirausaha? umumnya yang saya lihat mereka tidak terpaku pada proses. Porsi berpikirnya banyakan hasil daripada proses itu sendiri. Inilah yang membuat mereka gagal. Semacam mimpi tanpa diimbangi eksekusi yang bermutu. Hati-hati untuk para mahasiswa, kadang sikap idealisme sering menjerumuskan pada sikap seperti ini. Makanya sikap idealisme harus diimbangi dengan sikap realisme dan juga konkritisme agar eksekusi atas semua idelisme kita berjalan mulus.

Itu saja beberapa poin penting yang saya amati, mudah-mudahan temen-temen lain yang punya sudut pandang lain bisa menambahkan dengan menjawab pertanyaan, “Kenapa sih anda gagal bisnis?” agar bisa menjadi pelajaran bagi orang lain.

Dulu ketika awal masuk ITB bayangan saya tentang seorang insinyur adalah mereka yang sering ngotak-atik di depan mesin atau alat (kalo anak IF ya komputer). Mereka juga harus freak/geek dengan yang namanya teknologi dan umumnya cerdas secara intelektual. Namun beberapa tahun ini pandangan itu berubah seiring dengan aktivitas saya di dunia entrepreneurship di Kampus. Puncaknya menurut saya adalah pada seminar kemarin (mungkin itu seminar paling besar yang terakhir saya ikuti di ITB) yang diberikan oleh Pak Arifin Panigoro. Insinyur disamping harus geek juga harus memberikan nilai tambah bagi masyarakat secara langsung.

Pergolakan antara kubu progresif dan konservatif di antara jajaran penggede ITB sebenarnya sudah lama terjadi. Kubu konservatif digawangi oleh para guru besar dan beberapa anggota MWA (mungkin sebagian besar). Kubu konservatif tidak ingin hadirnya tokoh-tokoh semacam Arifin, Bakrie, atau Ciputra mewarnai kehidupan ilmiah kampus karena mereka kurang sepakat dengan cara-cara mereka mendapatkan kesuksesan (masih menjadi perdebatan). Mereka juga umumnya menggunakan cara-cara lama untuk menggalang dana ITB (salah satunya mengandalkan USM-ITB). Lain halnya kubu progressif, mereka umumnya digawangi golongan muda (umumnya orang bisnis). Ada juga golongan tua yang secara tidak langsung mendukung seperti Pak Gede Raka dan Pak Iskandar Alisjahbana (paling tidak saya lihat lewat pemikiran2nya). Mereka umumnya mengkritik kebijakan ITB yang menggunakan cara yang kuno untuk mendapatkan dana seiring BHMN-nya ITB sehingga harus nyari sendiri dana untuk operasional. Walaupun sekarang sudah lumayan maju pesat (mungkin karena masuknya beberapa kubu progresif ke jajaran pengambil kebijakan kampus). Salah satu pernyataan ekstrim yang pernah diungkapkan Pak Iskandar adalah usulan untuk memberikan DrHc kepada Arifin Panigoro atas jasa-jasanya menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologinya sehingga memberikan nilai tambah yang sangat besar bagi masyarakat. Namun tampaknya itu cukup sulit diwujudkan karena Majlis Guru Besar menolak usulan tersebut (masih dengan alasan yang sama seperti yang sudah saya tuliskan). Namun begitu, saya benar-benar bersyukur dengan diundangnya Pak Arifin Panigoro dalam kuliah umum yang dibuka langsung oleh rektor ITB dan dipublikasikan di beberapa media nasional.

Keberhasilan menghadirkan Pak Arifin Panigoro menurut saya memiliki pengaruh yang sangat besar ke depan bagi kemajuan kampus ITB terutama paradigma yang dianut oleh mahasiswa ITB. Tak salah kalau saya mendengar Pak Gede Raka memerintahkan Ibu Presiden KM-ITB untuk mengundang teman-teman mahasiswa sebanyak-banyaknya untuk hadir dalam Kuliah Umum itu. Kuliah Umum kemarin merupakan peristiwa penting dalam sejarah kampus ITB (mungkin bisa diartikan kemajuan kubu Progresif secara politik). Yang sebelumnya sudah didahului oleh simposium-simposium yang menggulirkan isu dikotomi World Class University dan Kontribusi langsung ITB di masyarakat. Walaupun yang saya sayangkan mahasiswa ITB yang hadir dalam Kuliah Umum tersebut cukup sedikit, karena banyak diisi oleh orang luar dan mahasiswa luar.

Ketika melihat publikasi Kuliah Umum tersebut, saya langsung membayangkan seperti ceramah Steve Jobs di Stanford. Kontennya begitu substansial dan mengena ke seluruh pendengar bahkan orang awam pun, selain juga tentunya menginspirasi. Namun ketika mendengar kuliah umum kemarin, saya sebenarnya sedikit kecewa. Kontennya begitu makro dan terlalu mengawang-awang untuk mahasiswa (padahal target audiens utamanya para mahasiswa). Kesan saya seperti mendengarkan kuliah Steve Jobs hilang seketika. Tapi walaupun begitu saya cukup mendapat banyak insight terutama tentang Energi dan Pangan (karena pendidikan sedikit sekali dibahas).

maju terus ITB progressif!!