zaQ corner

Archive for the ‘opinion’ Category

Ini bukan studi ilmiah, tapi berdasarkan pengamatan kasat mata, bisa jadi bener bisa jadi salah. Sangat subjektif dan kasuistik, tapi mudah-mudahan mencerahkan. Tapi akan saya coba untuk objektif.
1. Proses-Hasil
Pendidikan bagi Amerika adalah proses. Saya merasakan betul bagaimana perbedaan pengajaran di US dan di Indonesia. Dosen disini sangat terpaku pada proses. Bobot penilaian juga banyak di tugas-tugas. Selain itu, hampir semua dosen mengamati perkembangan setiap anak didiknya. Mereka meminta kami untuk membawa hasil yang kemarin buat dibandingin, untuk menunjukkan improvement. Di Indonesia, saya terparadigma bahwa pendidikan adalah hasil. Kenapa bisa seperti itu? karena teman-teman saya melakukan demikian, jadi saya melakukan demikian juga.

2. Apresiatif-NonApresiatif

Tidak ada kata “jelek” disini. Semua dosen selalu bilang “great, good, very good, excellent”. Yang menarik buat saya adalah, dosen disini benar-benar berdedikasi. Mereka sangat mengerti betul perkembangan setiap murid dan apa yang murid kemarin lakukan. PR juga menjadi sangat penting bagi kami karena mereka selalu mengecek PR kami dengan sangat teliti. Ngga ada cerita nyontek PR disini. Di Indonesia, sepertinya iklim pendidikannya berkebalikan. Dosen jarang muji, trus juga PR ga dikoreksi sehingga menyebabkan banyak yang nyontek.

3. Ujian
Kebiasaan yang sering di Indonesia ketika masa ujian tiba adalah mencari soal tahun kemarin. Tapi apakah benar begitu pendidikan? di Amerika tidak ada budaya seperti itu. Mungkin karena dosennya kreatif membuat soal. Dan bobot ujian besar juga ga gede-gede amat. Mereka memilih PR yang banyak tapi kecil-kecil itu sebagai penentu sebagian besar nilai anak didik mereka.

4. Iklim Kelas:Dua Arah-Searah
Saya beruntung bisa ikut kelas reguler dengan warga Amerika disini. Mungkin saya satu-satunya warga asing di kelas itu (entrepreneurship). Suasana yang terjalin antara mahasiswa dengan dosen di US dan di Indonesia sangat berbeda. Mereka sangat aktif sekali. Mungkin persentase dosen dan murid ngomong 50:50. Kalo ada yang ga ngerti mereka juga tanya, jadi keluar kelas clear semua. Oh ya, tidak ada cerita ngobrol sendiri disini.

5. SD:Karakter-Matematika
Yang ini mungkin subjektif saya. Di SD rasanya saya mungkin hanya dapet pelajaran membaca dan matematika (yang masih dibawa sampe sekarang, pelajaran lain banyak lupanya). Tapi waktu ngobrol dengan anak SD di US , dapet pelajaran apa? “how to be good student, how to be good writer, how to be good reader, how to be good speaker”. Lah, trus aku tanya “emang ga ada how to be good mathematician?”. Anak itu ga tau…

Itu dulu, butuh komentar temen-temen untuk membuat tulisan diatas menjadi objektif dan tidak kasuistik.

Teman saya namanya Josh, mahasiswa Mechanical Engineering di OSU. Saya banyak cerita tentang Indonesia dan Amerika dengan dia. Menarik kalo cerita tentang middle kelas di Amerika. Dia bilang kalo dia masuk middle kelas. Di Amerika golongan middle class sangat besar jumlahnya. Golongan middle class merupakan golongan yang membawa arah Amerika. Pendapatan mereka cukup (ga mikir perut lagi) dan tingkat pendidikan mereka tinggi. Mungkin karena jumlah yang besar itulah Amerika menjadi seperti sekarang. Saya bilang ke dia, kalo middle class di Indonesia lebih sedikit dari Lower class, dan kita sekarang sedang memperbesar jumlah middle class ini. Walaupun kelas menengah, Josh tidak seberuntung teman kelas menengah lainnya. Dia bilang kalo dia pinter (ok josh kamu memang pintar) dan harusnya bisa masuk universitas yang lebih bagus dari universitas dia kuliah sekarang (Oregon State University), Harvard ato MIT mungkin. Tapi sayang dia tidak punya dana untuk kuliah (tau sendiri biaya universitas bagus di US), saudaranya kuliah juga pasalnya. Saya bilang ke dia, kenapa ga cari beasiswa? Dia bilang kalo dia tidak pantas mendapatkan beasiswa karena dia masuk dalam kelas menengah. Sedang universitas hebat umumnya berbiaya mahal dan hanya memberikan beasiswa hanya kepada golongan bawah yang cerdas. Kasian benar josh, saya bilang dalam hati. Tapi saya salut dia masi mencari jalan keluar untuk keluar untuk kuliah. Pembicaraan berlanjut ke pertanyaan saya, “bagaimana dengan fenomena banyaknya mahasiswa internasional yang kuliah/kerja di Amerika? apa kamu tidak resah kamu ga dapet kerjaan/beasiswa kuliah ntar?”. Dia bilang tidak. Masa bodoh katanya. Dunia sudah berubah. Kita ga bisa terkungkung oleh nasionalisme. Toh mereka datang ke Amerika juga membangun Amerika karena belajar disini. Di masa depan nanti kita mungkin bisa kerja di Jepang, Eropa, bahkan Indonesia dengan cepat. Wah..mantep juga ni pemikiran middle class Amerika. Mungkin karena pemikiran2 middle class seperi ini juga yang membuat Obama (yang kulit hitam afrika-amerika dan punya catatan sejarah sebagai muslim) terpilih sebagai presiden. Teman saya lainnya namanya Kaleen, mahasiswa jurusan Bisnis disini. Dia kelas menengah juga. Dia pernah kerja dimana-mana katanya. Diskusi saya dengan dia seputar pertanyaan,”Kenapa banyak mahasiswa kerja disini? apa orang tua kalian ga bayarin?”. Dia bilang orang tuanya mampu, tapi ga mau bayarin kuliah. Dia harus nyari sendiri biaya kuliah. Katanya hampir semua orang tua mahasiswa yang lain melakukan hal yang sama. Mahasiswa Amerika benar-benar survive tampaknya.

Banyak fenomena yang unik di amerika yang sangat berbeda dengan yang ada di Indonesia. Mungkin seperti inilah cerminan negara maju pemimpin peradaban.

1. Penghormatan terhadap pejalan kaki
Di Amerika pejalan kaki sangat dihormati sekali. Biasanya kalo di Indonesia kita yang sering ngalah sama motor atau pengendara mobil. Bahkan sering dikata-katain kalo kita jalan sembarangan atau dibunyiin klakson kenceng2. Di Amerika justru yang merasa nyebrang itu mobil bukan orang yang nyebrang. Belum pernah denger rasanya mobil membunyikan klakson di Amerika sini. Pernah pertama kali nyebrang saya berhenti nungguin mobil lewat, justru saya yang ditungguin untuk suruh lewat.

2. Sepeda kendaraan utama
Di Amerika ini, rasanya saya belum pernah melihat motor. Banyakan isinya mobil sama sepeda. Banyak mahasiswa kuliah menggunakan sepeda bahkan banyak dosen-dosen ikutan pake sepeda. Di Amerika perlakuan pengendara sepeda sama dengan kendaraan lain. Mereka harus berhenti kalo ada lampu merah. Mereka juga harus berhenti kalo ada orang nyebrang. Pemakaian helm juga dianjurkan di Amerika (meski tidak diwajibkan. Setiap yang punya sepeda disini juga umumnya didaftarkan ke kepolisian(untuk bisa ngetrack kalo ilang).

3. Penjadwalan dan Tepat Waktu
Mungkin orang Amerika adalah orang yang paling concern masalah waktu di dunia. Disini setiap acara sudah jauh hari dipersiapkan bahkan berbulan-bulan sudah ditetapkan tanggal dan jam serta ruangannya dimana. Ga bakalan ada acara dadakan disini. Selain itu, berbeda dengan di Indonesia, kalo kita disuruh dateng jam 9 misalnya, itu berarti kita masih bisa datang jam 9 tepat. Tapi di Amerika tidak. Kita paling telat harus datang 10 menit sebelum jam 9. Pernah saya dan teman-teman pertama kali bikin appoinment ma advisor jam 8.30 dan kita pada datang 8.25, itu advisor marah-marah dan sangat resah kita datang jam segitu. Aneh.

4. Green Live
Orang di Amerika sangat peduli terhadap lingkungan. Mereka memilah sampah dengan sangat serius. Makan pun rasanya malu kalo meninggalkan sisa makanan kita di meja. Atau Malu juga kalo kita buang sampah di kolom yang salah, misalnya botoh di taruh ke bagian kertas. Mereka juga sering mengingatkan kalo botol yang sering kita gunakan bernilai 10sen, jadi mereka minta kita untuk buang botol itu di tempat yang benar. Hampir semua sampah direcycle disini. Mulai dari kertas, baterai, botol, sampe barang bekas. Di Amerika banyak sekali toko barang-barang bekas dan sangat laris. Rasanya mereka tidak menyianyiakan barang-barang bekas. Produk-produk di Toko juga banyak yang tulisannya recycle. Produk-produk itu umumnya murah. Tissue buat makan atau closet juga hasil recycle.

5. Banyak reaktor Nuklir
Di Amerika banyak sekali pusat tenaga nuklir (mungkin tiap kota ada). Saya jadi aneh kalo denger orang-orang Indonesia berteriak anti nuklir. Yang saya tau nuklir merupakan sumber energi paling efisien. Mungkin akan saya jelaskan di lain tulisan kalo dapet info lebih lanjut kenapa di Amerika bisa banyak reaktor nuklir.

6. Tidak ada Strata Sosial
Di Amerika saya lihat tidak ada strata sosial. Mau tukang sampah, pelayan, pegawai, dosen, mahasiswa. Semua status bisa ngomong enak dan terkesan keren semua pekerjaan di Amerika. Disini pemungut sampahnya juga keren-keren dan bersih-bersih. Dari penampilan mereka juga sebersih dosen ataupun mahasiswa. Mahasiswa juga berlomba-lomba jadi pelayan. Mungkin kita perlu bertanya, kenapa ada strata sosial di Indonesia.

14

Itu dulu yang bisa saya share. Tunggu yang review lainnya.

Dua hal tersebut sering melingkupi kehidupan kita kesehariannya. Kadang kita harus dipaksa memanfaatkan emosi (dalam arti netral) kita pada kondisi tertentu. Kadang pula kita harus dipaksa memanfaatkan rasionalitas berpikir kita. Kenapa saya membahas masalah ini? Ini penting karena menyangkut kemajuan hidup. Kalo kita tanya lagi, ada masalah apa si dengan 2 hal tersebut? Ya, Sebenarnya masalahnya ada pada penempatan dua hal tersebut yang kadang oleh sejumlah orang kurang proporsional. Dua hal tersebut bagai pisau bermata dua. Mereka bisa bersifat konstruktif atau destruktif tergantung pada kita menempatkan mereka dimana.

Tidak sedikit saya melihat beberapa temen memanfaatkan emosinya secara berlebihan daripada rasionalnya. Sebagai contoh, ada temen saya yang lagi semangat-semangatnya melakukan wirausaha. Saking semangatnya seluruh keputusan diambil dengan cepat dan menurut saya cenderung emosional dan kurang rasional. Analisis terhadap bisnisnya menjadi kurang tajam dan akhirnya bisnisnya gagal. Walaupun gagal ia masih tetep bangga dengan kegagalannya sebagai wirausaha, yah maklum yang digunakan adalah faktor emosionalnya. FYI, Ga tau kenapa sekarang terjadi perubahan persepsi masyarakat dimana banyak dari mereka sekarang yang bangga menjadi wirausahawan(walaupun itu gagal).

Tidak sedikit pula saya melihat temen yang lebih banyak memanfaatkan rasionalitas akal mereka. Sebagai contoh terjadi pada event kumpul2, makan2, nonton di organisasi misalnya. Tidak sedikit dari mereka yang cenderung menghindar dari acara2 seperti ini (temu akrab, drama, band). Mereka menganggap kegiatan seperti ga penting (berdasarkan rasional mereka), buang-buang waktu, bahkan ada yang mengeluarkan isu hedonisme atas kegiatan-kegiatan tersebut. Cara pandang seperti ini cenderung kurang proporsional menurut saya dan cenderung destruktif. Kenapa sih destruktif? Bayangkan sebenernya dari kegiatan-kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas banyak melibatkan emosional-emosional kita. Dengan sering kumpul dengan temen-temen kita atau pentas bareng temen-temen kita ikatan emosional kita akan terbangun walau sampai tua nanti. Percaya atau enggak ikatan emosional dan sifat emosional kita terhadap temen dan orang di sekitar kitalah yang membawa kita kekesuksesan. Dalam buku “connected” juga dijelaskan bagaimana hubungan emosional kita dengan temen-temen kita sebanyak-banyaknya pada masa sekarang bisa sangat membawa keuntungan di masa yang akan datang. Jelas bermasalah apabila ada orang yang cenderung menghindar dari kegiatan-kegiatan seperti ini.

Lalu bagaimana mensikapinya. Dimana-mana sifat moderat dan proporsional selalu mendapatkan tempat daripada sifat yang berat sebelah (extrem) kanan atau kirim. Jadi kuncinya bagaimana kita bisa menempatkan kedua hal tersebut secara proporsional sesuai dengan tempatnya. Emosional digunakan untuk membina hubungan dengan lingkungan kita, rasional digunakan untuk memproses keputusan kita benar atau tidak. Mungkin itu juga kenapa dulu EQ begitu booming…baru sekarang saya nyadar…

Tulisan ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi (karena saya banyak gagalnya..he..he..) dan juga dari pengamatan temen-temen (kebetulan lingkungan juga kalangan entrepeneur dan mereka beberapa ada yang gagal juga ternyata). Tulisan ini juga dibuat untuk memenuhi kebutuhan wirausaha. Karena satu hal yang saya suka dari seorang wirausaha adalah jangkauan belajarnya yang sangat luas. Saya harap tulisan ini juga bisa dijadikan pelajaran bagi mereka sehingga tidak mengulang kesalahan yang telah dilakukan oleh orang-orang yang telah salah. Saya percaya dunia entrepreneurship yang selama ini dianggap sebagai seni (sesuatu yang ga teratur) bisa dikristalkan menjadi sebuah pengetahuan, yaitu sesuatu yang memiliki pola/pattern teratur sehingga bisa dipelajari.

1. Melakukan segalanya sendiri (single fighter)

Di awal menjalani kehidupan berwirausaha saya punya sifat seperti ini. Mungkin juga karena lagi semangat2nya dan idealis2nya. Entah kenapa teman-teman saya wirausaha pemula juga beberapa melakukan hal ini dan mereka sepertinya gagal juga. Analisis saya kenapa orang melakukan wirausaha sendiri gagal adalah mungkin karena mereka jarang melihat sudut pandang lain. Setiap mengambil keputusan mereka menggunakan sudut pandang pribadi. Padahal kalo ilmu masih cetek keputusan tersebut cenderung salah. Tapi ada juga yang wirausaha sendiri berhasil. Temen-temen saya yang berwirausaha sendirian (single fighter) berhasil umumnya mereka memiliki sifat berikut : supel, banyak teman, humble. Analisis saya lagi, mungkin dengan sifat inilah mereka mendapatkan banyak masukan atau sudut pandang lain sehingga keputusan-keputusan bisnisnya kemungkinan besar tepat. Oh ya, saya ga percaya kalo dikatakan wirausaha hebat punya intuisi, yang ada adalah mereka tekun dan terus belajar dari apa yang ada di sekitarnya. Ini yang saya rasakan.

2. Salah memilih bidang bisnis
Lagi-lagi ini pengalaman bisnis saya juga. Tapi lagi-lagi beberapa temen yang gagal saya amati juga demikian. ketepatan memilih bidang bisnis menurut saya cukup urgent. Kenapa sih bidang bisnis yang dipilih harus tepat? jelas, ini menentukan sustanability bisnis. Mereka yang berbisnis dengan market yang kecil, banyak kompetitor, dan juga jenuh umumnya kurang sustain. Bisa aja si diawal sukses, tapi kalo bicara masalah sustanability kita bicara jangka panjang. Ada juga yang tahu mereka salah memilih bidang bisnis, kemudian mereka expand ke bisnis yang memiliki rantai nilai tak jauh dari bisnis sebelumnya. Oh ya, ini asumsi kalo sukses bisnis dinilai dari banyaknya revenue yang didapat. Kalo anda menilai sukses bisnis karena bisnis tersebut survive bisa jadi anda punya pandangan lain dengan saya. Contohnya menyikapi orang-orang yang motivasi bisnisnya karena kesenangan/passion. Bisnis distro, indie band, atau game indie. Tapi ada juga yang sukses dalam dua sudut pandang itu. Mereka berawal dari passion dan mereka sukses secara revenue. Analisis saya, mereka sukses karena pas memilih bidang bisnis atau pas pasar sedang mengarah kesitu (terjadi pergeseran asumsi di masyarakat), contohnya terjadi pada industri distro. Walaupun menurut saya, teori ‘passion’ atau ‘lentera hati’ yang pernah disiarkan di kick andy masih bisa menjadi perdebatan. Jujur, saya pribadi bisa menciptakan passion terhadap apapun disekitar saya. Kurang tau kalo temen-temen lain.he..he..

3. Terpaku pada hasil/Uang
Sungguh di dunia ini tidak akan ada hasil tanpa melalui proses yang cerdas, efektif dan bermutu. Saya suka mengkritik motivator-motivator yang suka menggambarkan betapa mudahnya sebuah kesuksesan (terutama orang-orang di bisnis MLM). Seolah-olah hasil tersebut bisa didapatkan hanya dalam sekejap tanpa proses yang cerdas, efektif dan bermutu. Jelas ini filosofi yang menyesatkan. Apalagi kalo framework seperti ini kita gunakan terus dalam dunia bisnis atau misalkan jadi professional. Yang ada walaupun sukses tapi caranya sangat merugikan orang lain dan cenderung tidak adil. Tentu ini tidak baik bagi peradaban dunia ini (halah ngomongnya ko uda peradaban aja..). Lalu kenapa sih orang yang terpaku pada hasil bisa gagal berwirausaha? umumnya yang saya lihat mereka tidak terpaku pada proses. Porsi berpikirnya banyakan hasil daripada proses itu sendiri. Inilah yang membuat mereka gagal. Semacam mimpi tanpa diimbangi eksekusi yang bermutu. Hati-hati untuk para mahasiswa, kadang sikap idealisme sering menjerumuskan pada sikap seperti ini. Makanya sikap idealisme harus diimbangi dengan sikap realisme dan juga konkritisme agar eksekusi atas semua idelisme kita berjalan mulus.

Itu saja beberapa poin penting yang saya amati, mudah-mudahan temen-temen lain yang punya sudut pandang lain bisa menambahkan dengan menjawab pertanyaan, “Kenapa sih anda gagal bisnis?” agar bisa menjadi pelajaran bagi orang lain.

Di penghujung masa kuliah ini saya ingin berbagi tentang pengalaman saya mengikuti kompetisi IT.  Saya akan memaparkan analisis saya tentang berbagai kompetisi IT tahunan yang ada di Indonesia, terutama tentang karakteristik dari masing-masing  kompetisi tersebut. Harapannya mahasiswa yang ingin mengikutinya bisa mempersiapkan diri dan menyesuaikan dengan karakteristik tersebut. Karena tak jarang saya lihat teman-teman yang memiliki potensi untuk menjuarai kompetisi tidak lolos hanya karena tidak memahami karakteristik lomba tersebut, rasanya ini kurang adil. Namun pada umumnya kompetisi IT yang ada memang menguji kemampuan IT mahasiswa, hanya saja memang dibutuhkan kemampuan lain mungkin, salah satunya memahami karakteristik kompetisi tersebut. Buat temen-temen pembaca yang merasa pernah mengikuti lomba-lomba di bawah ini dan merasa tidak cocok dengan analisis saya silakan dikoreksi dan dikomentari karena ini sangat subjektif berdasarkan yang saya alami. Semoga bermanfaat bagi yang lain.

Imagine Cup
Kompetisi ini merupakan kompetisi mahasiswa internasional yang diadakan oleh Microsoft. Bidangnya tidak hanya IT, ada juga Perfilman, Desain, Game, dan juga uji pengetahuan/wawasan teknologi microsoft. Bisa dibilang kompetisi ini paling bergengsi di mata jurusan saya (Informatika ITB). Saya tidak tahu apa sebabnya, tapi kemungkinan karena setiap tahun jurusan kami selalu menjuarainya jadi adik-adik tingkatnya menganggap kesempatan menang terbuka lebar.Sebenarnya bukan karena kaka tingkatnya menjuarai lantas ada semacam penurunan tahta kemenangan. Yang ada menurut saya transfer pengalaman yang sudah menang jadi mudah karena dekat satu jurusan. Inilah yang akan saya lakukan dalam artikel kali ini agar informasi merata. Disini saya hanya akan membahas kategori Software Design (juga kategori paling bergengsi dan paling gede duitnya).

Imagine Cup Software Design bisa dibilang menguji semua kemampuan baik IT ataupun softskill. Untuk kemampuan IT cenderung lebih ke kemampuan coding bahasa pemrograman yang mendukung Teknologi Microsoft entah itu menggunakan Visual Studio atau CASE Microsoft lainnya. Sedangkan kemampuan softskill yang dibutuhkan adalah desain interface (cukup dominan), komunikasi dalam bahasa inggris dan juga kreativitas. Perlu diperhatikan, kecanggihan teknologi tidak akan menjadi penilaian dalam kompetisi ini. Banyak stigma beredar bahwa canggihnya teknologi menjadi komponen penilaian (kalo di level international mungkin iya), padahal tidak.  Kreativitas menelurkan ide dan juga analisis yang tajam terhadap kebutuhan akan penyelesaian masalah merupakan komponen penting. Tapi ini masih kurang tanpa desain antar muka software yang bagus (lux) dan juga kemampuan mempresentasikan dalam bahasa inggris. Bisa dibilang 3 komponen ini sama-sama berat. Saya melihat temen-temen yang idenya bagus tapi banyak yang gagal karena desainnya jelek (bahkan jurinya bilang begitu). Ada juga yang cukup aneh, analisis software akan penyelesaian masalah sangat kurang tapi desain antar mukanya bagus justru bisa lolos ke babak selanjutnya (walaupun tidak menang juga akhirnya). Jadi silakan dipikirkan sendiri 3 komponen tersebut : ide, desain, dan juga presentasi dalam bahasa inggris. Bagi saya, ketiganya sama-sama berat bobotnya. Oh ya peringatan, jangan sampai menggunakan teknologi lain diluar teknologi Microsoft kalo ikut kompetisi ini.

Indosat Wireless Innovation Contest (IWIC)
Kalo gengsi dinilai dari besarnya hadiah sebenarnya kompetisi ini paling bergengsi di Indonesia. Dulu ada 2 bidang dalam kompetisi ini, yaitu hardware dan software tapi sekarang hanya 1 bidang lomba saja yaitu software. Jadi yang akan dibahas disini hanya Software saja. Kompetisi ini mencoba menguji kemampuan kita dalam bidang wireless terutama pemrograman mobile. Bisa itu PDA, Handphone atau perangkat mobile lainnya. Tapi yang pasti Indosat harus dilibatkan dalam aktivitas aplikasi mobile yang anda buat. Banyak temen-teman yang ikut kompetisi ini saya lihat tidak melibatkan Indosat dalam penerapan aplikasinya jika sudah jadi nanti. Misalkan bikin game atau software mobile yang tidak memangkas pulsa penggunanya. Ada 2 tahap dalam kompetisi ini untuk menjadi pemenang, yaitu proposal dan juga presentasi produk. Pada tahap proposal panitia akan menyeleksi ide kita. Karena mereka melihatnya dalam tulisan, usahakan anda menjelaskan proposal anda sesingkat mungkin dan sejelas mungkin. Mungkin anda bisa menggunakan gambar-gambar atau grafik yang menarik.

Pada tahap 2 barulah karya anda dinilai. Perlu diketahui anda dibolehkan sekali menggunakan prototipe disini tidak harus membuat aplikasi yang sesungguhnya menggunakan bahasa pemrograman. Ada yang pernah mendapatkan juara dengan hanya menggunakan animasi Flash. Yang penting adalah analisis kebutuhan produk dan kreativitas anda.

Lomba Cipta Elektronik Nasional (LCEN) telematika
Sama seperti IWIC, kompetisi ini juga dibagi dalam dua tahap, yaitu proposal dan juga presentasi produknya. Lagi-lagi, karena bentuknya proposal anda harus menjelaskan dengan sejelas-jelasnya tentang ide anda. Berbeda dengan IWIC, kompetisi ini lebih luas ranahnya dan juga lebih akademis. Karena mereka tidak hanya menilai kebermanfaatan produk anda saja tetapi juga menilai kerumitan dan aspek teori dari produk anda, untuk itu usahakan judul anda seilmiah mungkin. Mereka yang lolos pada babak kedua akan diwajibkan untuk merealisasikan idenya (kalau tidak direalisasikan didenda). Untuk itu penting bagi anda yang mau ikut kompetisi ini memikirkan bahwa idenya bisa direalisasikan. Tidak sedikit dari peserta yang tidak bisa merealisasikan idenya.

Indonesia ICT Awards (INAICTA) Student Project Category
Ini merupakan kompetisi yang diadakan oleh pemerintah melalui depkominfo. Pemenangnya selanjutnya akan diajukan ke kompetisi Asia Pasific.  Kompetisi ini juga terdiri dari 2 tahap yaitu dokumen dan juga presentasi. Yang paling penting pada tahap dokumen adalah ide anda terkait aspek keunikan dan juga fitur-fiturnya. Pada tahap presentasi poin yang cukup besar adalah cara presentasi anda sendiri, termasuk dalam hal ini menjawab pertanyaan. Selain itu aspek kebermanfatan dan kualitas software dalam menyelesaikan masalah juga komponen penilaian yang teramat sangat krusial. Kalau bisa buatlah dewan juri terpukau pada 5 menit pertama. Tunjukkan juga demonstrasi aplikasinya.

Itu saja kompetisi-kompetisi IT di Indonesia yang berhasil saya petakan setelah mengikutinya secara langsung. Mudah-mudahan bermanfaat dan yang paling penting ada quote dari saya. “Kemenangan dalam suatu lomba tidak mencerminkan sebuah universitas bagus atau tidak, yang menentukan adalah bagaimana kontribusi lulusan universitas tersebut dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang ada”.

Dulu ketika awal masuk ITB bayangan saya tentang seorang insinyur adalah mereka yang sering ngotak-atik di depan mesin atau alat (kalo anak IF ya komputer). Mereka juga harus freak/geek dengan yang namanya teknologi dan umumnya cerdas secara intelektual. Namun beberapa tahun ini pandangan itu berubah seiring dengan aktivitas saya di dunia entrepreneurship di Kampus. Puncaknya menurut saya adalah pada seminar kemarin (mungkin itu seminar paling besar yang terakhir saya ikuti di ITB) yang diberikan oleh Pak Arifin Panigoro. Insinyur disamping harus geek juga harus memberikan nilai tambah bagi masyarakat secara langsung.

Pergolakan antara kubu progresif dan konservatif di antara jajaran penggede ITB sebenarnya sudah lama terjadi. Kubu konservatif digawangi oleh para guru besar dan beberapa anggota MWA (mungkin sebagian besar). Kubu konservatif tidak ingin hadirnya tokoh-tokoh semacam Arifin, Bakrie, atau Ciputra mewarnai kehidupan ilmiah kampus karena mereka kurang sepakat dengan cara-cara mereka mendapatkan kesuksesan (masih menjadi perdebatan). Mereka juga umumnya menggunakan cara-cara lama untuk menggalang dana ITB (salah satunya mengandalkan USM-ITB). Lain halnya kubu progressif, mereka umumnya digawangi golongan muda (umumnya orang bisnis). Ada juga golongan tua yang secara tidak langsung mendukung seperti Pak Gede Raka dan Pak Iskandar Alisjahbana (paling tidak saya lihat lewat pemikiran2nya). Mereka umumnya mengkritik kebijakan ITB yang menggunakan cara yang kuno untuk mendapatkan dana seiring BHMN-nya ITB sehingga harus nyari sendiri dana untuk operasional. Walaupun sekarang sudah lumayan maju pesat (mungkin karena masuknya beberapa kubu progresif ke jajaran pengambil kebijakan kampus). Salah satu pernyataan ekstrim yang pernah diungkapkan Pak Iskandar adalah usulan untuk memberikan DrHc kepada Arifin Panigoro atas jasa-jasanya menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologinya sehingga memberikan nilai tambah yang sangat besar bagi masyarakat. Namun tampaknya itu cukup sulit diwujudkan karena Majlis Guru Besar menolak usulan tersebut (masih dengan alasan yang sama seperti yang sudah saya tuliskan). Namun begitu, saya benar-benar bersyukur dengan diundangnya Pak Arifin Panigoro dalam kuliah umum yang dibuka langsung oleh rektor ITB dan dipublikasikan di beberapa media nasional.

Keberhasilan menghadirkan Pak Arifin Panigoro menurut saya memiliki pengaruh yang sangat besar ke depan bagi kemajuan kampus ITB terutama paradigma yang dianut oleh mahasiswa ITB. Tak salah kalau saya mendengar Pak Gede Raka memerintahkan Ibu Presiden KM-ITB untuk mengundang teman-teman mahasiswa sebanyak-banyaknya untuk hadir dalam Kuliah Umum itu. Kuliah Umum kemarin merupakan peristiwa penting dalam sejarah kampus ITB (mungkin bisa diartikan kemajuan kubu Progresif secara politik). Yang sebelumnya sudah didahului oleh simposium-simposium yang menggulirkan isu dikotomi World Class University dan Kontribusi langsung ITB di masyarakat. Walaupun yang saya sayangkan mahasiswa ITB yang hadir dalam Kuliah Umum tersebut cukup sedikit, karena banyak diisi oleh orang luar dan mahasiswa luar.

Ketika melihat publikasi Kuliah Umum tersebut, saya langsung membayangkan seperti ceramah Steve Jobs di Stanford. Kontennya begitu substansial dan mengena ke seluruh pendengar bahkan orang awam pun, selain juga tentunya menginspirasi. Namun ketika mendengar kuliah umum kemarin, saya sebenarnya sedikit kecewa. Kontennya begitu makro dan terlalu mengawang-awang untuk mahasiswa (padahal target audiens utamanya para mahasiswa). Kesan saya seperti mendengarkan kuliah Steve Jobs hilang seketika. Tapi walaupun begitu saya cukup mendapat banyak insight terutama tentang Energi dan Pangan (karena pendidikan sedikit sekali dibahas).

maju terus ITB progressif!!