zaQ corner

Satu jam bersama Christ, (masih) tentang Amerika dan Indonesia

Posted on: February 6, 2009

Namanya Christoper Kleem, direktur Austin Entrepreneurship Program di OSU. Beruntung saya bisa berdiskusi dengan beliau tentang Indonesia dan Amerika. Salah satu isu yang saya bawa adalah, masih tentang bagaimana Amerika bisa menghasilkan wirausaha-wirausaha hebat yang menjadi tulang punggung ekonomi Amerika. Menurut beliau ada 3 hal. Yang pertama adalah “People”. Amerika dulu adalah tanah kosong, banyak masyarakat Eropa yang bermigrasi ke Amerika. Mereka yang bermigrasi ini ternyata bukan orang sembarangan. Orang-orang Eropa yang punya ide-ide hebat tetapi dikekang oleh Gereja (kebanyakan dari Prancis). Orang-orang Eropa yang merupakan wirausaha tapi karena kondisi yang buruk di Eropa mengakibatkan mereka pindah ke Amerika. Dan juga Orang-orang Yahudi yang hebat karena adanya Holocaust sehingga mereka pindah ke Amerika. Mr Christ bilang “We have these people”.

Poin kedua adalah ‘Tradition’. Beliau bilang tradisi yang paling kental di Amerika adalah, mudahnya menjadikan ide menjadi bernilai ekonomi. Ini tidak dimiliki negara lain. Disini ide-ide baru sangat dihargai dan diapresiasi. Ini menimbulkan poin ketiga yang sangat krusial yaitu “Intelectual Property”. Setiap ide yang terlahir dilindungi oleh hukum. Di Amerika setiap hari ratusan mungkin ribuan paten terlahir dan ini menakjubkan. Yang menarik adalah, ada daerah-daerah tertentu yang sangat entrepreneurial seperti Silicon Valley, Mashachuset, dan Seatle. Daerah itu bisa menghasilkan ide-ide baru jauh lebih banyak dari daerah lain. Saya belum menemukan jawaban kenapa hal ini bisa terjadi.

Lalu saya tanya, dimana peran pendidikan di Amerika? Pendidikan di Amerika , kata beliau, tercipta setelah proses pembentukan ‘people’ dari Eropa tadi. Sebenarnya contoh yang menarik tentang bagaimana kesuksesan pendidikan dalam menumbuhkan jiwa entrepreneurship sehingga memajukan bangsanya ada di Korea Selatan. Taun 60an Korsel adalah Negara yang sangat miskin, bahkan lebih miskin dari Indonesia. Lewat push pendidikan yang kuat, mereka kita bisa menghasilkan LG, Hyundai, KIA, Samsung, bahkan beberapa paten produk dunia dipegang Korsel.

Pembicaraan mulai keluar dari topik entrepreneurship. Beliau mulai membicarakan bagaimana Negara-negara bisa maju. Amerika bisa melesat juga karena kondisi geografi, kesukuan, dan bahasanya. Demikian juga Korsel. Kondisi geografi yang satu hamparan membuat mereka lebih mudah dalam berdagang. Bahasa mereka yang satu membuat mereka mudah berkomunikasi dalam berbisnis. Suku-suku yang ada di Kedua negara itu juga seragam. Saya bertanya ke beliau, mungkinkah keberagaman suku di Indonesia menghambat kemajuan Indonesia? Beliau menjawab “bisa jadi”. Tapi ada satu yang menarik dari Indonesia kata beliau, yaitu satu agama yang dominan. Mungkin itu yang bisa menutup semua hambatan dan bisa menjadikan Indonesia menjadi bangsa yang besar.

4 Responses to "Satu jam bersama Christ, (masih) tentang Amerika dan Indonesia"

Wow,.
What an experience,.🙂

weww…ak suka pernyataan yang terakhir..
mungkin itu jawaban dari semua persoalan negara ini, persatuan meski mungkin ada pihak yang merasa minoritas🙂

Pernyataan 2 seperti itu, apa betul dan mungkin jadi alasan tepat untuk situasi di kita yaa…kalo agama yg seperti beliau utarakan…conmtohnya aja Malaysia…kondisinya hampir sama dgn kita…tapi mereka jauh lebih maju….apa mungkin juga karena personal kita…bisa jadib khan?1

Salam kenal…!

pertanyaan-pertanyaan seperti itu apa ada betulnya??

kalau menurut saya mereka itu lebih jauh maju. dari pada negara kita ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: