zaQ corner

Posts Tagged ‘amerika

Namanya Christoper Kleem, direktur Austin Entrepreneurship Program di OSU. Beruntung saya bisa berdiskusi dengan beliau tentang Indonesia dan Amerika. Salah satu isu yang saya bawa adalah, masih tentang bagaimana Amerika bisa menghasilkan wirausaha-wirausaha hebat yang menjadi tulang punggung ekonomi Amerika. Menurut beliau ada 3 hal. Yang pertama adalah “People”. Amerika dulu adalah tanah kosong, banyak masyarakat Eropa yang bermigrasi ke Amerika. Mereka yang bermigrasi ini ternyata bukan orang sembarangan. Orang-orang Eropa yang punya ide-ide hebat tetapi dikekang oleh Gereja (kebanyakan dari Prancis). Orang-orang Eropa yang merupakan wirausaha tapi karena kondisi yang buruk di Eropa mengakibatkan mereka pindah ke Amerika. Dan juga Orang-orang Yahudi yang hebat karena adanya Holocaust sehingga mereka pindah ke Amerika. Mr Christ bilang “We have these people”.

Poin kedua adalah ‘Tradition’. Beliau bilang tradisi yang paling kental di Amerika adalah, mudahnya menjadikan ide menjadi bernilai ekonomi. Ini tidak dimiliki negara lain. Disini ide-ide baru sangat dihargai dan diapresiasi. Ini menimbulkan poin ketiga yang sangat krusial yaitu “Intelectual Property”. Setiap ide yang terlahir dilindungi oleh hukum. Di Amerika setiap hari ratusan mungkin ribuan paten terlahir dan ini menakjubkan. Yang menarik adalah, ada daerah-daerah tertentu yang sangat entrepreneurial seperti Silicon Valley, Mashachuset, dan Seatle. Daerah itu bisa menghasilkan ide-ide baru jauh lebih banyak dari daerah lain. Saya belum menemukan jawaban kenapa hal ini bisa terjadi.

Lalu saya tanya, dimana peran pendidikan di Amerika? Pendidikan di Amerika , kata beliau, tercipta setelah proses pembentukan ‘people’ dari Eropa tadi. Sebenarnya contoh yang menarik tentang bagaimana kesuksesan pendidikan dalam menumbuhkan jiwa entrepreneurship sehingga memajukan bangsanya ada di Korea Selatan. Taun 60an Korsel adalah Negara yang sangat miskin, bahkan lebih miskin dari Indonesia. Lewat push pendidikan yang kuat, mereka kita bisa menghasilkan LG, Hyundai, KIA, Samsung, bahkan beberapa paten produk dunia dipegang Korsel.

Pembicaraan mulai keluar dari topik entrepreneurship. Beliau mulai membicarakan bagaimana Negara-negara bisa maju. Amerika bisa melesat juga karena kondisi geografi, kesukuan, dan bahasanya. Demikian juga Korsel. Kondisi geografi yang satu hamparan membuat mereka lebih mudah dalam berdagang. Bahasa mereka yang satu membuat mereka mudah berkomunikasi dalam berbisnis. Suku-suku yang ada di Kedua negara itu juga seragam. Saya bertanya ke beliau, mungkinkah keberagaman suku di Indonesia menghambat kemajuan Indonesia? Beliau menjawab “bisa jadi”. Tapi ada satu yang menarik dari Indonesia kata beliau, yaitu satu agama yang dominan. Mungkin itu yang bisa menutup semua hambatan dan bisa menjadikan Indonesia menjadi bangsa yang besar.

Advertisements

Ini bukan studi ilmiah, tapi berdasarkan pengamatan kasat mata, bisa jadi bener bisa jadi salah. Sangat subjektif dan kasuistik, tapi mudah-mudahan mencerahkan. Tapi akan saya coba untuk objektif.
1. Proses-Hasil
Pendidikan bagi Amerika adalah proses. Saya merasakan betul bagaimana perbedaan pengajaran di US dan di Indonesia. Dosen disini sangat terpaku pada proses. Bobot penilaian juga banyak di tugas-tugas. Selain itu, hampir semua dosen mengamati perkembangan setiap anak didiknya. Mereka meminta kami untuk membawa hasil yang kemarin buat dibandingin, untuk menunjukkan improvement. Di Indonesia, saya terparadigma bahwa pendidikan adalah hasil. Kenapa bisa seperti itu? karena teman-teman saya melakukan demikian, jadi saya melakukan demikian juga.

2. Apresiatif-NonApresiatif

Tidak ada kata “jelek” disini. Semua dosen selalu bilang “great, good, very good, excellent”. Yang menarik buat saya adalah, dosen disini benar-benar berdedikasi. Mereka sangat mengerti betul perkembangan setiap murid dan apa yang murid kemarin lakukan. PR juga menjadi sangat penting bagi kami karena mereka selalu mengecek PR kami dengan sangat teliti. Ngga ada cerita nyontek PR disini. Di Indonesia, sepertinya iklim pendidikannya berkebalikan. Dosen jarang muji, trus juga PR ga dikoreksi sehingga menyebabkan banyak yang nyontek.

3. Ujian
Kebiasaan yang sering di Indonesia ketika masa ujian tiba adalah mencari soal tahun kemarin. Tapi apakah benar begitu pendidikan? di Amerika tidak ada budaya seperti itu. Mungkin karena dosennya kreatif membuat soal. Dan bobot ujian besar juga ga gede-gede amat. Mereka memilih PR yang banyak tapi kecil-kecil itu sebagai penentu sebagian besar nilai anak didik mereka.

4. Iklim Kelas:Dua Arah-Searah
Saya beruntung bisa ikut kelas reguler dengan warga Amerika disini. Mungkin saya satu-satunya warga asing di kelas itu (entrepreneurship). Suasana yang terjalin antara mahasiswa dengan dosen di US dan di Indonesia sangat berbeda. Mereka sangat aktif sekali. Mungkin persentase dosen dan murid ngomong 50:50. Kalo ada yang ga ngerti mereka juga tanya, jadi keluar kelas clear semua. Oh ya, tidak ada cerita ngobrol sendiri disini.

5. SD:Karakter-Matematika
Yang ini mungkin subjektif saya. Di SD rasanya saya mungkin hanya dapet pelajaran membaca dan matematika (yang masih dibawa sampe sekarang, pelajaran lain banyak lupanya). Tapi waktu ngobrol dengan anak SD di US , dapet pelajaran apa? “how to be good student, how to be good writer, how to be good reader, how to be good speaker”. Lah, trus aku tanya “emang ga ada how to be good mathematician?”. Anak itu ga tau…

Itu dulu, butuh komentar temen-temen untuk membuat tulisan diatas menjadi objektif dan tidak kasuistik.

Banyak wirausahawan hebat Amerika umumnya lulusan universitas.  Seperti sergey brin/Larry Page (pembuat Google), Warren Buffet, dan Jerry Yang (pembuat Yahoo), dan masih banyak lagi. Saya kira ini wajar, karena lingkungan kampus sangat mendukung untuk tumbuhnya jiwa-jiwa wirausaha seperti yang saya paparkan di part I. Lalu bagaimana dengan wirausahawan seperti Bill Gates, Steve Jobs, dan Michael Dell yang tidak pernah lulus di universitas? Bisa dibilang, Amerika merupakan negeri yang cukup banyak memiliki wirausahawan yang tidak lulus kuliah. Cukup sulit untuk menjelaskan fenomena ini. Tapi saya memberanikan diri membuat tulisan ini. Mereka yang sukses wirausaha tanpa kuliah, yang ada dibenak saya pasti lingkungan dan budaya tempat dia tinggal sangat mendukung. Tak salah memang, selama berada di negeri ini, saya amati budaya masyarakatnya sangat mendukung tumbuhnya jiwa wirausaha. Saya mengamati bagaimana budaya primordial tidak bisa tumbuh disini. Anak muda yang hebat tentu lebih disegani dari orang tua yang tidak bisa apa-apa. Masyarakat Amerika sangat menghargai kapasitas individu. Mereka juga sangat apresiatif terharap suatu ide apalagi sikap suka memujinya yang tidak bisa saya lupakan.

Mereka umumnya juga pemberani dan percaya diri. Anak-anak kecil disini sangat berbeda dengan anak kecil di Indonesia. Anak kecil di Amerika sangat dewasa sekali. Mereka bahkan bisa bebas berdebat dengan orang dewasa akan suatu hal tanpa ada larangan. Ini tentu bisa menumbuhkan sikap kreatif. Kalo kita mengajukan pertanyaan ke anak kecil disini “Apa ada pertanyaan?”, hampir seluruh anak mengangkat tangannya. Yang saya lihat di Indonesia, budaya seperti ini cukup jarang ditemui.

Satu lagi yang amat sangat kental, masyarakat Amerika sangat logis dan efektif. Budaya ini menarik buat saya karena saya menemukan fenomena yang sangat berbeda dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Tentunya budaya seperti ini bisa menjadi faktor juga kenapa wirausahawan yang tidak kuliah bisa tumbuh subur di negeri ini. Ketika datang pertama kali ke negeri ini, saya terkejut dengan banyaknya toko barang bekas disini. Di toko buku besar (kalo di Indonesia mungkin sekelas gramedia), juga banyak menjual buku-buku bekas. Anehnya buku-buku bekas ini seperti baru, hampir sangat sulit membedakan antara bekas dan baru. Saya kadang berpikir, kalau buku-buku dan barang-barang bekas orang Indonesia larinya pada kemana yah? perlu ada riset lebih mendalam sepertinya untuk menjawab pertanyaan ini.

Selain barang bekas yang dengan mudah bisa kita temui, budaya logis dan efektif mereka juga bisa kita temui di papan pengumuman di berbagai tempat. Yang sering saya temui, banyak pengumuman mahasiswa yang mencari teman serumah karena ia di rumah sendiri. Selain itu juga kalau pergi ke suatu tempat yang jauh umumnya mereka menawarkan tumpangan di papan ini, tentunya yang mau ikut harus ikut bayar bensin. Demikian juga sebaliknya jika mau pergi ke suatu tempat pada tanggal tertentu umumnya mereka menempel info kalau mereka butuh tumpangan. Papan itu setiap hari sering berubah kontennya saya amati, sangat dinamis. Yang lebih menarik lagi adalah, budaya setelah makan masyarakat sini. Adalah sangat umum bagi masyarakat sini untuk membawa pulang makanan sisa apabila tidak habis. Cukup minta kardus ‘take home’ trus masukin deh makanan itu, mereka dengan pedenya bilang “I don’t have money” ketika saya tanya ‘kenapa dibawa pulang? di Indo itu makanan bekas lo..’. Lagi, banyak saya temui orang bawa mobil di dalemnya isinya kaleng bekas. Mereka datang ke vending machine tempat penukaran kaleng/botol. Setiap kaleng/botol dihargai 5 sen oleh vending machine itu. Saya juga terkejut melihat fenomena ini, bagaimana bisa orang bawa mobil didalamnya isinya sampah botol/kaleng. Masyarakat disini sangat menghargai sekecil apapun yang mereka punya.

kaleng

Pada nuker kaleng/botol dengan duit

Apa-apa yang saya lihat di atas baru sedikit dari budaya masyarakat sini yang sangat relevan dengan tumbuh kembangnya jiwa-jiwa entrepreneurship masyarakatnya. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia.

Amerika merupakan negara dengan PDB paling besar di dunia. Bahkan hampir sama dengan gabungan seluruh PDB seluruh negara Eropa. Ini berarti kegiatan ekonomi di negara ini sangatlah besar. Yang membuat saya heran adalah, kenapa wirausahawan-wirausahawan hebat umumnya datang dari negeri ini? Bill Gates, Waren Buffet, Richard Branson, Dell, Steve Jobs merupakan sedikit dari banyak wirausahawan dari negeri ini yang menjadi tonggak kemajuan bangsa ini. Jadi terinspirasi kata Malcolm Gladwell dalam buku barunya Outliers, orang-orang seperti ini tidak bisa dicetak begitu saja. Ia, bak pohon yang tinggi, tidak lahir hanya dari bibit yang bagus, tapi juga karena ada matahari yang menyinarinya, ada tanah yang membuatnya tumbuh subur, dan juga ada zat-zat yang mendukung buat ia tumbuh tinggi.

Keheranan saya membuat saya mencari tau faktor-faktor yang membuat mereka tumbuh sedemikian banyak, paling tidak di kampus tempat saya belajar. Berbeda dengan gerakan wirausaha di kampus ITB Indonesia yang umumnya independen dan terkesan underground. Di kampus amerika ini gerakan entrepreneurship memang serius didukung oleh kampus. Sering sekali ada pengusaha atau praktisi entrepreneurship yang datang ke kampus untuk mengisi seminar dan resmi diundang oleh rektor. Di kampus ini juga ada lembaga yang bernama Austin Entrepreneurship Program (AEP). AEP memiliki program-program yang sangat bagus untuk mahasiswa kampus ini yang ingin menumbuhkan jiwa wirausaha. Mereka punya satu gedung yang sebagian besar digunakan untuk asrama bagi mahasiswa yang ingin menumbuhkan jiwa wirausaha. Mereka juga diberi ruang khusus untuk mereka yang ingin berwirausaha.

Ketika saya berkunjung ke AEP untuk mencari info lebih dalam tentang apa yang mereka lakukan, saya cukup terkejut. Salah satu pengurus AEP menuturkan bahwa AEP tidak menyarankan mahasiswa untuk memiliki usaha. Akan tetapi tugas mereka hanya menumbuhkan jiwa-jiwa wirausaha, diantaranya : berani mengambil resiko, kerja keras, kreatif, sosial, passion, dan juga mandiri. Saya kemudian diajak mereka untuk mengikuti proses pembentukan jiwa-jiwa itu, yaitu mengikuti kelas Introduction to Entrepreneurship.

Masuk kelas ini serasa tidak sedang mengikuti kelas entrepreneurship seperti di Indonesia yang cenderung provokatif. Kita hanya diberi tugas mengeksekusi project Boys&Girls (akan saya ceritakan lebih lanjut). Project ini semacam project sosial yang ditujukan bagi anak-anak SD, SMP, dan SMA di daerah sekitar kampus. Dari project inilah sang dosen menumbuhkan jiwa-jiwa yang saya sebutkan di atas. Setiap proses dalam eksekusi project ini, sang dosen benar-benar menanamkan nilai-nilai wirausaha. Baru saja sore tadi ikut kuliah ini, begitu teringat di kepala saya dosen itu cerita tentang bagaimana bisnis besar teletubies dibuat. “Bisnis bernilai triliunan ini awalnya dibuat dari iseng-iseng ibu rumah tangga yang berusaha membuat anaknya yang belum berumur 1 tahun lebih atraktif. Demikian juga project ini, kalian bisa menyelediki dan memikirkan hal-hal kecil yang menantang anda, sehingga jadi bisnis. Maka kerjakan dengan hati/passion.”

Tampaknya, besarnya jumlah wirausaha hebat (terutama lulusan universitas) dari negeri ini tidak terlepas dari faktor di atas. Dukungan dari institusi dimana masyarakat Amerika hidup yaitu universitas. Tidak hanya kampanye untuk punya usaha tetapi bagaimana jiwa-jiwa wirausaha itu bisa tertanam dalam diri mahasiswa-mahasiswa amerika, yang saya anggap ini sebagai “Substantial Entrepreneurship”.

Banyak fenomena yang unik di amerika yang sangat berbeda dengan yang ada di Indonesia. Mungkin seperti inilah cerminan negara maju pemimpin peradaban.

1. Penghormatan terhadap pejalan kaki
Di Amerika pejalan kaki sangat dihormati sekali. Biasanya kalo di Indonesia kita yang sering ngalah sama motor atau pengendara mobil. Bahkan sering dikata-katain kalo kita jalan sembarangan atau dibunyiin klakson kenceng2. Di Amerika justru yang merasa nyebrang itu mobil bukan orang yang nyebrang. Belum pernah denger rasanya mobil membunyikan klakson di Amerika sini. Pernah pertama kali nyebrang saya berhenti nungguin mobil lewat, justru saya yang ditungguin untuk suruh lewat.

2. Sepeda kendaraan utama
Di Amerika ini, rasanya saya belum pernah melihat motor. Banyakan isinya mobil sama sepeda. Banyak mahasiswa kuliah menggunakan sepeda bahkan banyak dosen-dosen ikutan pake sepeda. Di Amerika perlakuan pengendara sepeda sama dengan kendaraan lain. Mereka harus berhenti kalo ada lampu merah. Mereka juga harus berhenti kalo ada orang nyebrang. Pemakaian helm juga dianjurkan di Amerika (meski tidak diwajibkan. Setiap yang punya sepeda disini juga umumnya didaftarkan ke kepolisian(untuk bisa ngetrack kalo ilang).

3. Penjadwalan dan Tepat Waktu
Mungkin orang Amerika adalah orang yang paling concern masalah waktu di dunia. Disini setiap acara sudah jauh hari dipersiapkan bahkan berbulan-bulan sudah ditetapkan tanggal dan jam serta ruangannya dimana. Ga bakalan ada acara dadakan disini. Selain itu, berbeda dengan di Indonesia, kalo kita disuruh dateng jam 9 misalnya, itu berarti kita masih bisa datang jam 9 tepat. Tapi di Amerika tidak. Kita paling telat harus datang 10 menit sebelum jam 9. Pernah saya dan teman-teman pertama kali bikin appoinment ma advisor jam 8.30 dan kita pada datang 8.25, itu advisor marah-marah dan sangat resah kita datang jam segitu. Aneh.

4. Green Live
Orang di Amerika sangat peduli terhadap lingkungan. Mereka memilah sampah dengan sangat serius. Makan pun rasanya malu kalo meninggalkan sisa makanan kita di meja. Atau Malu juga kalo kita buang sampah di kolom yang salah, misalnya botoh di taruh ke bagian kertas. Mereka juga sering mengingatkan kalo botol yang sering kita gunakan bernilai 10sen, jadi mereka minta kita untuk buang botol itu di tempat yang benar. Hampir semua sampah direcycle disini. Mulai dari kertas, baterai, botol, sampe barang bekas. Di Amerika banyak sekali toko barang-barang bekas dan sangat laris. Rasanya mereka tidak menyianyiakan barang-barang bekas. Produk-produk di Toko juga banyak yang tulisannya recycle. Produk-produk itu umumnya murah. Tissue buat makan atau closet juga hasil recycle.

5. Banyak reaktor Nuklir
Di Amerika banyak sekali pusat tenaga nuklir (mungkin tiap kota ada). Saya jadi aneh kalo denger orang-orang Indonesia berteriak anti nuklir. Yang saya tau nuklir merupakan sumber energi paling efisien. Mungkin akan saya jelaskan di lain tulisan kalo dapet info lebih lanjut kenapa di Amerika bisa banyak reaktor nuklir.

6. Tidak ada Strata Sosial
Di Amerika saya lihat tidak ada strata sosial. Mau tukang sampah, pelayan, pegawai, dosen, mahasiswa. Semua status bisa ngomong enak dan terkesan keren semua pekerjaan di Amerika. Disini pemungut sampahnya juga keren-keren dan bersih-bersih. Dari penampilan mereka juga sebersih dosen ataupun mahasiswa. Mahasiswa juga berlomba-lomba jadi pelayan. Mungkin kita perlu bertanya, kenapa ada strata sosial di Indonesia.

14

Itu dulu yang bisa saya share. Tunggu yang review lainnya.

Saat aku SD, aku hidup dalam lingkungan kampung. Pemikiran-pemikiranku otomatis seperti orang-orang kampung pada umumnya (banyak sisi baik dan buruknya). Kemudian datanglah masanya SMP dan SMA, beda lagi lingkungannya. Kali ini aku hidup dalam lingkungan kota Solo. Paradigmaku terbuka lebih luas dalam memandang kehidupan ini kalo ternyata hidup ini ga sekecil yang kita bayangkan. Naik tingkat lagi aku ke ITB, yang levelnya lebih nasional. Lagi-lagi paradigma telah merubah hidupku. di ITB pandangan dan pemikiran lingkungan disini meng-Indonesia. Tapi aku sering berpikir, “Apakah benar ni aku mikirin Indonesia tetapi paradigmaku masih berpikir ala Indonesia, secara aku hidup 22 tahun di Indonesia”. Munculah cara untuk menemukan jawaban tersebut yaitu “Aku harus ke Luar Negeri”. Lalu, negeri mana yang harus dituju?

Jawaban pertanyaan terakhir itu aku temukan selama setahun terakhir ini. Inspirasi itu datang dari PPSDMS, sebuah lembaga kepemimpinan di Indonesia (yang kemudian dicontek R Mien Uno, TheNextLeaders, dan juga TunasBangsa TVOne). PPSDMS telah mengajak aku berpikir lebih dalam bagaimana memandang berbagai persoalan bangsa ini. Mulai dari pendidikan, sosial, budaya, teknologi, dan yang tak kalah dahsyat politik. Inspirasi kedua datang dari ted.com, sebuah portal yang menyajikan ceramah setiap harinya tentang berbagai persoalan. Karena sering berlangganan ceramah-ceramah tersebut rasanya pengin hadir menyaksikan langsung. Lewat ceramah-ceramah itu pula aku takjub akan pemikiran-pemikiran orang luar (tidak hanya dari Amerika yang hadir di TED). Dengan sedikit analisa, saya menyimpulkan kalo ilmu pengetahuan itu ngumpulnya disana, di Amerika. Untuk itulah aku berkesimpulan Amerika sebagai negara tujuan itu. Lalu, bagaimanakah aku kesana?

Pertanyaan itu juga terjawab sudah. Kesempatan itu datang lewat beasiswa IELSP. Setelah mengikuti berbagai seleksi. Akhirnya dapet juga beasiswa itu. Puji syukur aku haturkan kepada Allah, karena kau aku tidak hanya percaya!! dan terimakasih buat teman-teman yang sudah membantu, Fajrin (editor english ku dan memberi masukan konten) dan Gita (editor english ku). Selain itu teman-teman PPSDMS, yang telah membuka wawasan dan pikiranku, kalian memang calon pemimpin masa depan. HARAPAN ITU MASIH ADA!!

Selanjutnya…menyiapkan agenda apa aja yang harus dilakukan disana. Aku harus dapet semua jawaban atas pertanyaan yang sudah aku buat. Bersiaplah Amerika.