zaQ corner

Posts Tagged ‘substantial

Banyak wirausahawan hebat Amerika umumnya lulusan universitas.  Seperti sergey brin/Larry Page (pembuat Google), Warren Buffet, dan Jerry Yang (pembuat Yahoo), dan masih banyak lagi. Saya kira ini wajar, karena lingkungan kampus sangat mendukung untuk tumbuhnya jiwa-jiwa wirausaha seperti yang saya paparkan di part I. Lalu bagaimana dengan wirausahawan seperti Bill Gates, Steve Jobs, dan Michael Dell yang tidak pernah lulus di universitas? Bisa dibilang, Amerika merupakan negeri yang cukup banyak memiliki wirausahawan yang tidak lulus kuliah. Cukup sulit untuk menjelaskan fenomena ini. Tapi saya memberanikan diri membuat tulisan ini. Mereka yang sukses wirausaha tanpa kuliah, yang ada dibenak saya pasti lingkungan dan budaya tempat dia tinggal sangat mendukung. Tak salah memang, selama berada di negeri ini, saya amati budaya masyarakatnya sangat mendukung tumbuhnya jiwa wirausaha. Saya mengamati bagaimana budaya primordial tidak bisa tumbuh disini. Anak muda yang hebat tentu lebih disegani dari orang tua yang tidak bisa apa-apa. Masyarakat Amerika sangat menghargai kapasitas individu. Mereka juga sangat apresiatif terharap suatu ide apalagi sikap suka memujinya yang tidak bisa saya lupakan.

Mereka umumnya juga pemberani dan percaya diri. Anak-anak kecil disini sangat berbeda dengan anak kecil di Indonesia. Anak kecil di Amerika sangat dewasa sekali. Mereka bahkan bisa bebas berdebat dengan orang dewasa akan suatu hal tanpa ada larangan. Ini tentu bisa menumbuhkan sikap kreatif. Kalo kita mengajukan pertanyaan ke anak kecil disini “Apa ada pertanyaan?”, hampir seluruh anak mengangkat tangannya. Yang saya lihat di Indonesia, budaya seperti ini cukup jarang ditemui.

Satu lagi yang amat sangat kental, masyarakat Amerika sangat logis dan efektif. Budaya ini menarik buat saya karena saya menemukan fenomena yang sangat berbeda dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Tentunya budaya seperti ini bisa menjadi faktor juga kenapa wirausahawan yang tidak kuliah bisa tumbuh subur di negeri ini. Ketika datang pertama kali ke negeri ini, saya terkejut dengan banyaknya toko barang bekas disini. Di toko buku besar (kalo di Indonesia mungkin sekelas gramedia), juga banyak menjual buku-buku bekas. Anehnya buku-buku bekas ini seperti baru, hampir sangat sulit membedakan antara bekas dan baru. Saya kadang berpikir, kalau buku-buku dan barang-barang bekas orang Indonesia larinya pada kemana yah? perlu ada riset lebih mendalam sepertinya untuk menjawab pertanyaan ini.

Selain barang bekas yang dengan mudah bisa kita temui, budaya logis dan efektif mereka juga bisa kita temui di papan pengumuman di berbagai tempat. Yang sering saya temui, banyak pengumuman mahasiswa yang mencari teman serumah karena ia di rumah sendiri. Selain itu juga kalau pergi ke suatu tempat yang jauh umumnya mereka menawarkan tumpangan di papan ini, tentunya yang mau ikut harus ikut bayar bensin. Demikian juga sebaliknya jika mau pergi ke suatu tempat pada tanggal tertentu umumnya mereka menempel info kalau mereka butuh tumpangan. Papan itu setiap hari sering berubah kontennya saya amati, sangat dinamis. Yang lebih menarik lagi adalah, budaya setelah makan masyarakat sini. Adalah sangat umum bagi masyarakat sini untuk membawa pulang makanan sisa apabila tidak habis. Cukup minta kardus ‘take home’ trus masukin deh makanan itu, mereka dengan pedenya bilang “I don’t have money” ketika saya tanya ‘kenapa dibawa pulang? di Indo itu makanan bekas lo..’. Lagi, banyak saya temui orang bawa mobil di dalemnya isinya kaleng bekas. Mereka datang ke vending machine tempat penukaran kaleng/botol. Setiap kaleng/botol dihargai 5 sen oleh vending machine itu. Saya juga terkejut melihat fenomena ini, bagaimana bisa orang bawa mobil didalamnya isinya sampah botol/kaleng. Masyarakat disini sangat menghargai sekecil apapun yang mereka punya.

kaleng

Pada nuker kaleng/botol dengan duit

Apa-apa yang saya lihat di atas baru sedikit dari budaya masyarakat sini yang sangat relevan dengan tumbuh kembangnya jiwa-jiwa entrepreneurship masyarakatnya. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia.

Advertisements

Amerika merupakan negara dengan PDB paling besar di dunia. Bahkan hampir sama dengan gabungan seluruh PDB seluruh negara Eropa. Ini berarti kegiatan ekonomi di negara ini sangatlah besar. Yang membuat saya heran adalah, kenapa wirausahawan-wirausahawan hebat umumnya datang dari negeri ini? Bill Gates, Waren Buffet, Richard Branson, Dell, Steve Jobs merupakan sedikit dari banyak wirausahawan dari negeri ini yang menjadi tonggak kemajuan bangsa ini. Jadi terinspirasi kata Malcolm Gladwell dalam buku barunya Outliers, orang-orang seperti ini tidak bisa dicetak begitu saja. Ia, bak pohon yang tinggi, tidak lahir hanya dari bibit yang bagus, tapi juga karena ada matahari yang menyinarinya, ada tanah yang membuatnya tumbuh subur, dan juga ada zat-zat yang mendukung buat ia tumbuh tinggi.

Keheranan saya membuat saya mencari tau faktor-faktor yang membuat mereka tumbuh sedemikian banyak, paling tidak di kampus tempat saya belajar. Berbeda dengan gerakan wirausaha di kampus ITB Indonesia yang umumnya independen dan terkesan underground. Di kampus amerika ini gerakan entrepreneurship memang serius didukung oleh kampus. Sering sekali ada pengusaha atau praktisi entrepreneurship yang datang ke kampus untuk mengisi seminar dan resmi diundang oleh rektor. Di kampus ini juga ada lembaga yang bernama Austin Entrepreneurship Program (AEP). AEP memiliki program-program yang sangat bagus untuk mahasiswa kampus ini yang ingin menumbuhkan jiwa wirausaha. Mereka punya satu gedung yang sebagian besar digunakan untuk asrama bagi mahasiswa yang ingin menumbuhkan jiwa wirausaha. Mereka juga diberi ruang khusus untuk mereka yang ingin berwirausaha.

Ketika saya berkunjung ke AEP untuk mencari info lebih dalam tentang apa yang mereka lakukan, saya cukup terkejut. Salah satu pengurus AEP menuturkan bahwa AEP tidak menyarankan mahasiswa untuk memiliki usaha. Akan tetapi tugas mereka hanya menumbuhkan jiwa-jiwa wirausaha, diantaranya : berani mengambil resiko, kerja keras, kreatif, sosial, passion, dan juga mandiri. Saya kemudian diajak mereka untuk mengikuti proses pembentukan jiwa-jiwa itu, yaitu mengikuti kelas Introduction to Entrepreneurship.

Masuk kelas ini serasa tidak sedang mengikuti kelas entrepreneurship seperti di Indonesia yang cenderung provokatif. Kita hanya diberi tugas mengeksekusi project Boys&Girls (akan saya ceritakan lebih lanjut). Project ini semacam project sosial yang ditujukan bagi anak-anak SD, SMP, dan SMA di daerah sekitar kampus. Dari project inilah sang dosen menumbuhkan jiwa-jiwa yang saya sebutkan di atas. Setiap proses dalam eksekusi project ini, sang dosen benar-benar menanamkan nilai-nilai wirausaha. Baru saja sore tadi ikut kuliah ini, begitu teringat di kepala saya dosen itu cerita tentang bagaimana bisnis besar teletubies dibuat. “Bisnis bernilai triliunan ini awalnya dibuat dari iseng-iseng ibu rumah tangga yang berusaha membuat anaknya yang belum berumur 1 tahun lebih atraktif. Demikian juga project ini, kalian bisa menyelediki dan memikirkan hal-hal kecil yang menantang anda, sehingga jadi bisnis. Maka kerjakan dengan hati/passion.”

Tampaknya, besarnya jumlah wirausaha hebat (terutama lulusan universitas) dari negeri ini tidak terlepas dari faktor di atas. Dukungan dari institusi dimana masyarakat Amerika hidup yaitu universitas. Tidak hanya kampanye untuk punya usaha tetapi bagaimana jiwa-jiwa wirausaha itu bisa tertanam dalam diri mahasiswa-mahasiswa amerika, yang saya anggap ini sebagai “Substantial Entrepreneurship”.