zaQ corner

Posts Tagged ‘cacing

Dulu awal-awal masuk ITB ketika OSKM saya pernah mendapat sugesti “Sangkar besi tidak akan merubah rajawali menjadi burung nuri”. Ya..sebuah sugesti yang sulit dilupakan sampai sekarang. Mereka menyebut kami rajawali waktu itu, lalu siapakah sangkar besi itu? merekalah (panitia OSKM) kami waktu itu yang menjadi sangkar besi. Mereka membelenggu kami, tujuannya jelas…agar kami tangguh seperti Rajawali. Lalu apa hubungannya dengan cacing? kenapa kita ga diberikan sugesti “jadilah cacing..woi…”. Hmm…lucu kali yah kalo OSKM sugestinya itu.

Paradigma kita kadang melenakan. Menganggap bahwa cacing adalah binatang yang kecil dan menjijikkan. Sementara rajawali adalah binatang yang tangguh dan kuat. Bagaimana kalau paradigma itu sedikit kita ubah? Dibalik kekurangan pasti ada kelebihan dan sebaliknya. Menarik sekali ternyata kalo kita amati lebih dalam binatang bernama cacing ini. Meskipun dia ini kotor, namun ada hal penting yang bisa kita ambil darinya, terutama kaitannya dengan konsep kepemimpinan. Berbeda dengan rajawali yang selalu berada di atas, sehingga tidak bisa melihat apa yang ada di bawah. Apakah di sana ada musuh, atau ada senjata yang membahayakannya (mungkin saja ada makhluk biadab yang sedang mengarahkan moncong pelurunya ke dia). Rajawali tidak tau itu semua. Cacing meski berkotor-kotoran di bawah tapi dia tau betul wilayah hidupnya sampai dalam-dalamnya. Jaraknya sangat dekat sekali dengan tanah. Bahkan ketika kepentok batu, dia tau kemana harus menghindar. Atau ketemu zat beracun, dia juga tau juga bagaimana menanganinya. Hidupnya yang senantiasa tidak jauh dari tanah membuat dia tau segala masalah di depan matanya (Soalnya di depan matanya juga ada tanah).

Indonesia butuh pemimpin seperti cacing, pemimpin yang tau akan lingkungan dimana dia hidup. Apa saja masalahnya dan bagaimana solusinya secara detail. Pemimpin yang merakyat, pemimpin yang mau berkotor-kotoran seperti cacing di dalam tanah. Dia berani mencoba walaupun harus kepentok batu seperti cacing. Namun dari situlah dia belajar, dia tau bagaimana menangani segala rintangan dan hambatan tersebut. Dia juga tau realitas bangsa seperti apa…tidak ngawang-ngawang…elitis..seperti Rajawali. That’s all.

Sumber Inspirasi : Muhammad “Grameen” Yunus