zaQ corner

Banyak wirausahawan hebat Amerika umumnya lulusan universitas.  Seperti sergey brin/Larry Page (pembuat Google), Warren Buffet, dan Jerry Yang (pembuat Yahoo), dan masih banyak lagi. Saya kira ini wajar, karena lingkungan kampus sangat mendukung untuk tumbuhnya jiwa-jiwa wirausaha seperti yang saya paparkan di part I. Lalu bagaimana dengan wirausahawan seperti Bill Gates, Steve Jobs, dan Michael Dell yang tidak pernah lulus di universitas? Bisa dibilang, Amerika merupakan negeri yang cukup banyak memiliki wirausahawan yang tidak lulus kuliah. Cukup sulit untuk menjelaskan fenomena ini. Tapi saya memberanikan diri membuat tulisan ini. Mereka yang sukses wirausaha tanpa kuliah, yang ada dibenak saya pasti lingkungan dan budaya tempat dia tinggal sangat mendukung. Tak salah memang, selama berada di negeri ini, saya amati budaya masyarakatnya sangat mendukung tumbuhnya jiwa wirausaha. Saya mengamati bagaimana budaya primordial tidak bisa tumbuh disini. Anak muda yang hebat tentu lebih disegani dari orang tua yang tidak bisa apa-apa. Masyarakat Amerika sangat menghargai kapasitas individu. Mereka juga sangat apresiatif terharap suatu ide apalagi sikap suka memujinya yang tidak bisa saya lupakan.

Mereka umumnya juga pemberani dan percaya diri. Anak-anak kecil disini sangat berbeda dengan anak kecil di Indonesia. Anak kecil di Amerika sangat dewasa sekali. Mereka bahkan bisa bebas berdebat dengan orang dewasa akan suatu hal tanpa ada larangan. Ini tentu bisa menumbuhkan sikap kreatif. Kalo kita mengajukan pertanyaan ke anak kecil disini “Apa ada pertanyaan?”, hampir seluruh anak mengangkat tangannya. Yang saya lihat di Indonesia, budaya seperti ini cukup jarang ditemui.

Satu lagi yang amat sangat kental, masyarakat Amerika sangat logis dan efektif. Budaya ini menarik buat saya karena saya menemukan fenomena yang sangat berbeda dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Tentunya budaya seperti ini bisa menjadi faktor juga kenapa wirausahawan yang tidak kuliah bisa tumbuh subur di negeri ini. Ketika datang pertama kali ke negeri ini, saya terkejut dengan banyaknya toko barang bekas disini. Di toko buku besar (kalo di Indonesia mungkin sekelas gramedia), juga banyak menjual buku-buku bekas. Anehnya buku-buku bekas ini seperti baru, hampir sangat sulit membedakan antara bekas dan baru. Saya kadang berpikir, kalau buku-buku dan barang-barang bekas orang Indonesia larinya pada kemana yah? perlu ada riset lebih mendalam sepertinya untuk menjawab pertanyaan ini.

Selain barang bekas yang dengan mudah bisa kita temui, budaya logis dan efektif mereka juga bisa kita temui di papan pengumuman di berbagai tempat. Yang sering saya temui, banyak pengumuman mahasiswa yang mencari teman serumah karena ia di rumah sendiri. Selain itu juga kalau pergi ke suatu tempat yang jauh umumnya mereka menawarkan tumpangan di papan ini, tentunya yang mau ikut harus ikut bayar bensin. Demikian juga sebaliknya jika mau pergi ke suatu tempat pada tanggal tertentu umumnya mereka menempel info kalau mereka butuh tumpangan. Papan itu setiap hari sering berubah kontennya saya amati, sangat dinamis. Yang lebih menarik lagi adalah, budaya setelah makan masyarakat sini. Adalah sangat umum bagi masyarakat sini untuk membawa pulang makanan sisa apabila tidak habis. Cukup minta kardus ‘take home’ trus masukin deh makanan itu, mereka dengan pedenya bilang “I don’t have money” ketika saya tanya ‘kenapa dibawa pulang? di Indo itu makanan bekas lo..’. Lagi, banyak saya temui orang bawa mobil di dalemnya isinya kaleng bekas. Mereka datang ke vending machine tempat penukaran kaleng/botol. Setiap kaleng/botol dihargai 5 sen oleh vending machine itu. Saya juga terkejut melihat fenomena ini, bagaimana bisa orang bawa mobil didalamnya isinya sampah botol/kaleng. Masyarakat disini sangat menghargai sekecil apapun yang mereka punya.

kaleng

Pada nuker kaleng/botol dengan duit

Apa-apa yang saya lihat di atas baru sedikit dari budaya masyarakat sini yang sangat relevan dengan tumbuh kembangnya jiwa-jiwa entrepreneurship masyarakatnya. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia.

Advertisements

Amerika merupakan negara dengan PDB paling besar di dunia. Bahkan hampir sama dengan gabungan seluruh PDB seluruh negara Eropa. Ini berarti kegiatan ekonomi di negara ini sangatlah besar. Yang membuat saya heran adalah, kenapa wirausahawan-wirausahawan hebat umumnya datang dari negeri ini? Bill Gates, Waren Buffet, Richard Branson, Dell, Steve Jobs merupakan sedikit dari banyak wirausahawan dari negeri ini yang menjadi tonggak kemajuan bangsa ini. Jadi terinspirasi kata Malcolm Gladwell dalam buku barunya Outliers, orang-orang seperti ini tidak bisa dicetak begitu saja. Ia, bak pohon yang tinggi, tidak lahir hanya dari bibit yang bagus, tapi juga karena ada matahari yang menyinarinya, ada tanah yang membuatnya tumbuh subur, dan juga ada zat-zat yang mendukung buat ia tumbuh tinggi.

Keheranan saya membuat saya mencari tau faktor-faktor yang membuat mereka tumbuh sedemikian banyak, paling tidak di kampus tempat saya belajar. Berbeda dengan gerakan wirausaha di kampus ITB Indonesia yang umumnya independen dan terkesan underground. Di kampus amerika ini gerakan entrepreneurship memang serius didukung oleh kampus. Sering sekali ada pengusaha atau praktisi entrepreneurship yang datang ke kampus untuk mengisi seminar dan resmi diundang oleh rektor. Di kampus ini juga ada lembaga yang bernama Austin Entrepreneurship Program (AEP). AEP memiliki program-program yang sangat bagus untuk mahasiswa kampus ini yang ingin menumbuhkan jiwa wirausaha. Mereka punya satu gedung yang sebagian besar digunakan untuk asrama bagi mahasiswa yang ingin menumbuhkan jiwa wirausaha. Mereka juga diberi ruang khusus untuk mereka yang ingin berwirausaha.

Ketika saya berkunjung ke AEP untuk mencari info lebih dalam tentang apa yang mereka lakukan, saya cukup terkejut. Salah satu pengurus AEP menuturkan bahwa AEP tidak menyarankan mahasiswa untuk memiliki usaha. Akan tetapi tugas mereka hanya menumbuhkan jiwa-jiwa wirausaha, diantaranya : berani mengambil resiko, kerja keras, kreatif, sosial, passion, dan juga mandiri. Saya kemudian diajak mereka untuk mengikuti proses pembentukan jiwa-jiwa itu, yaitu mengikuti kelas Introduction to Entrepreneurship.

Masuk kelas ini serasa tidak sedang mengikuti kelas entrepreneurship seperti di Indonesia yang cenderung provokatif. Kita hanya diberi tugas mengeksekusi project Boys&Girls (akan saya ceritakan lebih lanjut). Project ini semacam project sosial yang ditujukan bagi anak-anak SD, SMP, dan SMA di daerah sekitar kampus. Dari project inilah sang dosen menumbuhkan jiwa-jiwa yang saya sebutkan di atas. Setiap proses dalam eksekusi project ini, sang dosen benar-benar menanamkan nilai-nilai wirausaha. Baru saja sore tadi ikut kuliah ini, begitu teringat di kepala saya dosen itu cerita tentang bagaimana bisnis besar teletubies dibuat. “Bisnis bernilai triliunan ini awalnya dibuat dari iseng-iseng ibu rumah tangga yang berusaha membuat anaknya yang belum berumur 1 tahun lebih atraktif. Demikian juga project ini, kalian bisa menyelediki dan memikirkan hal-hal kecil yang menantang anda, sehingga jadi bisnis. Maka kerjakan dengan hati/passion.”

Tampaknya, besarnya jumlah wirausaha hebat (terutama lulusan universitas) dari negeri ini tidak terlepas dari faktor di atas. Dukungan dari institusi dimana masyarakat Amerika hidup yaitu universitas. Tidak hanya kampanye untuk punya usaha tetapi bagaimana jiwa-jiwa wirausaha itu bisa tertanam dalam diri mahasiswa-mahasiswa amerika, yang saya anggap ini sebagai “Substantial Entrepreneurship”.

Teman saya namanya Josh, mahasiswa Mechanical Engineering di OSU. Saya banyak cerita tentang Indonesia dan Amerika dengan dia. Menarik kalo cerita tentang middle kelas di Amerika. Dia bilang kalo dia masuk middle kelas. Di Amerika golongan middle class sangat besar jumlahnya. Golongan middle class merupakan golongan yang membawa arah Amerika. Pendapatan mereka cukup (ga mikir perut lagi) dan tingkat pendidikan mereka tinggi. Mungkin karena jumlah yang besar itulah Amerika menjadi seperti sekarang. Saya bilang ke dia, kalo middle class di Indonesia lebih sedikit dari Lower class, dan kita sekarang sedang memperbesar jumlah middle class ini. Walaupun kelas menengah, Josh tidak seberuntung teman kelas menengah lainnya. Dia bilang kalo dia pinter (ok josh kamu memang pintar) dan harusnya bisa masuk universitas yang lebih bagus dari universitas dia kuliah sekarang (Oregon State University), Harvard ato MIT mungkin. Tapi sayang dia tidak punya dana untuk kuliah (tau sendiri biaya universitas bagus di US), saudaranya kuliah juga pasalnya. Saya bilang ke dia, kenapa ga cari beasiswa? Dia bilang kalo dia tidak pantas mendapatkan beasiswa karena dia masuk dalam kelas menengah. Sedang universitas hebat umumnya berbiaya mahal dan hanya memberikan beasiswa hanya kepada golongan bawah yang cerdas. Kasian benar josh, saya bilang dalam hati. Tapi saya salut dia masi mencari jalan keluar untuk keluar untuk kuliah. Pembicaraan berlanjut ke pertanyaan saya, “bagaimana dengan fenomena banyaknya mahasiswa internasional yang kuliah/kerja di Amerika? apa kamu tidak resah kamu ga dapet kerjaan/beasiswa kuliah ntar?”. Dia bilang tidak. Masa bodoh katanya. Dunia sudah berubah. Kita ga bisa terkungkung oleh nasionalisme. Toh mereka datang ke Amerika juga membangun Amerika karena belajar disini. Di masa depan nanti kita mungkin bisa kerja di Jepang, Eropa, bahkan Indonesia dengan cepat. Wah..mantep juga ni pemikiran middle class Amerika. Mungkin karena pemikiran2 middle class seperi ini juga yang membuat Obama (yang kulit hitam afrika-amerika dan punya catatan sejarah sebagai muslim) terpilih sebagai presiden. Teman saya lainnya namanya Kaleen, mahasiswa jurusan Bisnis disini. Dia kelas menengah juga. Dia pernah kerja dimana-mana katanya. Diskusi saya dengan dia seputar pertanyaan,”Kenapa banyak mahasiswa kerja disini? apa orang tua kalian ga bayarin?”. Dia bilang orang tuanya mampu, tapi ga mau bayarin kuliah. Dia harus nyari sendiri biaya kuliah. Katanya hampir semua orang tua mahasiswa yang lain melakukan hal yang sama. Mahasiswa Amerika benar-benar survive tampaknya.

Kesukaan saya terhadap buah membuat saya harus membeli buah di sini. Seperti halnya ketika di Indonesia yang biasanya saya beli satuan, di sini buah juga dijual satuan. Yang menarik bagi saya adalah, harga buah di Indonesia dan di Amerika berbeda. Biasanya saya membeli buah karena hargadan nilai/gizi buah itu. Saya berusaha mendapatkan buah yang memiliki nilai gizi besar dengan harga rendah (standar motif ekonomi). Di Indonesia, hampir sangat sulit saya menemukan buah dengan motif seperti ini. Buah yang nilai gizinya besar ya harganya lebih mahal sebaliknya yang nilai gizinya kecil harganya rendah. Contoh : Nilai gizi Apel dengan serat dan vitamin C nya lebih mahal dari pisang dengan karbohidratnya. Kadang saya bisa menggunakan motif ini ketika musim buah tiba, contoh : mangga. Oh ya, seingat saya urutan harga buah dari yang termahal adalah : anggur, apel, jeruk, peer, mangga, pisang, pepaya.

Nah, sekarang selain karena musim buah, saya dengan mudah bisa menemukan buah di Amerika dengan menggunakan motif di atas. Struktur harga buah disini berbeda dengan di Amerika. Buah anggur rasanya paling murah disini (kelasnya sama dengan pepaya). Kalo di Indonesia pepaya murah banget sedang anggur mahal banget. Disini mangga juga termasuk buah kelas atas karena harganya paling mahal. Padahal di Indonesia termasuk kelas rendah, apalagi pas musim mangga tiba. Setidaknya itu yang ada di persepsi saya. Jelas menghadapi kondisi seperti ini, saya sering memilih buah yang harganya paling murah dan memiliki nilai gizi paling besar, yaitu Jeruk, anggur, dan apel. Ketika buah tersebut termasuk buah paling murah di sini.

Fenomena-fenomena di atas tentu bukan barang baru bagi kita terutama orang ekonomi. Ada teori yang bisa menjelaskannya. Adam Smith sudah mengamatinya ratusan taun yang lalu. Itulah kenapa muncul teori permintaan dan penawaran. Tentu pepaya dan Mangga disini mahal karena disini mungkin jarang tumbuh mangga atau pepaya. Jeruk, Apel, dan anggur murah karena disini banyak yang nanem. Bahkan sampe diekspor ke Indonesia. Apel yang merah-merah di Indonesia umumnya dari Amerika.

Banyak fenomena yang unik di amerika yang sangat berbeda dengan yang ada di Indonesia. Mungkin seperti inilah cerminan negara maju pemimpin peradaban.

1. Penghormatan terhadap pejalan kaki
Di Amerika pejalan kaki sangat dihormati sekali. Biasanya kalo di Indonesia kita yang sering ngalah sama motor atau pengendara mobil. Bahkan sering dikata-katain kalo kita jalan sembarangan atau dibunyiin klakson kenceng2. Di Amerika justru yang merasa nyebrang itu mobil bukan orang yang nyebrang. Belum pernah denger rasanya mobil membunyikan klakson di Amerika sini. Pernah pertama kali nyebrang saya berhenti nungguin mobil lewat, justru saya yang ditungguin untuk suruh lewat.

2. Sepeda kendaraan utama
Di Amerika ini, rasanya saya belum pernah melihat motor. Banyakan isinya mobil sama sepeda. Banyak mahasiswa kuliah menggunakan sepeda bahkan banyak dosen-dosen ikutan pake sepeda. Di Amerika perlakuan pengendara sepeda sama dengan kendaraan lain. Mereka harus berhenti kalo ada lampu merah. Mereka juga harus berhenti kalo ada orang nyebrang. Pemakaian helm juga dianjurkan di Amerika (meski tidak diwajibkan. Setiap yang punya sepeda disini juga umumnya didaftarkan ke kepolisian(untuk bisa ngetrack kalo ilang).

3. Penjadwalan dan Tepat Waktu
Mungkin orang Amerika adalah orang yang paling concern masalah waktu di dunia. Disini setiap acara sudah jauh hari dipersiapkan bahkan berbulan-bulan sudah ditetapkan tanggal dan jam serta ruangannya dimana. Ga bakalan ada acara dadakan disini. Selain itu, berbeda dengan di Indonesia, kalo kita disuruh dateng jam 9 misalnya, itu berarti kita masih bisa datang jam 9 tepat. Tapi di Amerika tidak. Kita paling telat harus datang 10 menit sebelum jam 9. Pernah saya dan teman-teman pertama kali bikin appoinment ma advisor jam 8.30 dan kita pada datang 8.25, itu advisor marah-marah dan sangat resah kita datang jam segitu. Aneh.

4. Green Live
Orang di Amerika sangat peduli terhadap lingkungan. Mereka memilah sampah dengan sangat serius. Makan pun rasanya malu kalo meninggalkan sisa makanan kita di meja. Atau Malu juga kalo kita buang sampah di kolom yang salah, misalnya botoh di taruh ke bagian kertas. Mereka juga sering mengingatkan kalo botol yang sering kita gunakan bernilai 10sen, jadi mereka minta kita untuk buang botol itu di tempat yang benar. Hampir semua sampah direcycle disini. Mulai dari kertas, baterai, botol, sampe barang bekas. Di Amerika banyak sekali toko barang-barang bekas dan sangat laris. Rasanya mereka tidak menyianyiakan barang-barang bekas. Produk-produk di Toko juga banyak yang tulisannya recycle. Produk-produk itu umumnya murah. Tissue buat makan atau closet juga hasil recycle.

5. Banyak reaktor Nuklir
Di Amerika banyak sekali pusat tenaga nuklir (mungkin tiap kota ada). Saya jadi aneh kalo denger orang-orang Indonesia berteriak anti nuklir. Yang saya tau nuklir merupakan sumber energi paling efisien. Mungkin akan saya jelaskan di lain tulisan kalo dapet info lebih lanjut kenapa di Amerika bisa banyak reaktor nuklir.

6. Tidak ada Strata Sosial
Di Amerika saya lihat tidak ada strata sosial. Mau tukang sampah, pelayan, pegawai, dosen, mahasiswa. Semua status bisa ngomong enak dan terkesan keren semua pekerjaan di Amerika. Disini pemungut sampahnya juga keren-keren dan bersih-bersih. Dari penampilan mereka juga sebersih dosen ataupun mahasiswa. Mahasiswa juga berlomba-lomba jadi pelayan. Mungkin kita perlu bertanya, kenapa ada strata sosial di Indonesia.

14

Itu dulu yang bisa saya share. Tunggu yang review lainnya.

Yah…akhirnya saya bisa melakukan studi komparasi terhadap negara-negara lain dengan Indonesia. Perjalanan kemarin bener-bener mengajak otak ini untuk membandingkan apa-apa yang saya lihat di luar negeri dengan di Indonesia. Tujuannya jelas, biar lebih objektif dalam memandang sesuatu masalah di Indonesia.

Singapore adalah negeri pertama yang saya kunjungi. Walaupun cuma transit 7 jaman, tapi kunjungan ini cukup untuk mengetahui bagaimana singapore. Negeri kecil ini menarik. 40an tahun yang lalu negeri ini seperti tidak ada dalam peta, dan miskin. Tapi sekarang, kondisinya sangat berbeda. Negeri ini menjadi hub bagi negeri-negeri di sekitarnya termasuk INdonesia. Beberapa sekelompok elit (Termasuk Lie Kuan Yew) telah merekayasa pulau kecil ini menjadi pulau yang so amazing. Di bandara Cangi, saya benar-benar terkagum dengan kehidupan ekonominya. Anggap saja kehidupan ekonomi di Cangi menggambarkan kehidupan ekonomi di SIngapore. Semua barang ko rasanya laku dan fasilitas-fasilitas canggih di negeri ini juga rasanya bisa sustain. Jadi bertanya-tanya, bagaimana sistem seperti ini dibangun. Pasalnya, kalo kita bayangin di Indonesia, ngerun bisnis (terutama bisnis berteknologi canggih) aja susahnya minta ampun dan cenderung tidak sustain. Kalopun sustain untungnya juga ga seberapa. Yang menarik dari negeri ini adalah keanekaragaman bangsa-bangsanya. Tentunya kita semua tahu kalo singapore bukanlah negara bangsa, tapi negara berbangsa-bangsa layaknya Indonesia. Selalu ada aja di bandara ini yang bisa bahasa melayu. Jadi kalo ngobrol ma orang-orang singapore susah, mereka umumnya pake melayu. Oh ya fasilitas-fasilitas di singapore juga memanusiakan. Ga bakalan boring deh di Cangi walau seharian (kalo di Indonesia pasti boring deh), karena ada wahana-wahananya. Yang aku tau si internet gratis (banyak orang mengautiskan diri berdiri di depan komputer situ), trus buat anak-anak juga ada maenan, musholanya juga rasanya justru lebih bagus disini daripada di Indonesia.

Sekarang bertolak ke Narita di Jepang. Kemajuan bangsa ini terjadi terutama setelah restorasi meiji. Apa yang terjadi dalam restorasi ini menurut saya adalah transfer pengetahuan besar-besaran dari barat ke Jepang. Selama di bandara itu, saya belum menemukan orang jepang yang lancar berbahasa inggris. Kalo ditanya pake bahasa inggris pasti mereka menghindar. Tapi walaupun begitu, buku-buku jepang bejibun dimana-mana. Masyarakat jepang saya temukan banyak yang meluangkan waktu idle mereka membaca buku-buku berbahasa jepang. Mungkin ini menguatkan hipothesis bahwa kemajuan jepang setelah restorasi karena transfer knowledge lewat terjemahan buku-buku dari barat ke bahasa jepang (tidak seperti kemajuan India dengan pendekatan penggunaan english oleh masyarakatnya). Oh ya, orang jepang juga cenderung malu-malu saya lihat. Kalo ditanya ga se-excited orang-orang Amerika. Yang menarik dari jepang adalah kentalnya budaya lokalnya. Berbagai macam produk budaya di jual di bandara narita. Rasanya lebih beraneka ragam dari produk budaya Indonesia. Masalah lingkungan, jepang juga saya lihat sangat aware (lebih dari singapore apalagi INdonesia). Itu dilihat dari sistem persampahan di bandara itu. Semua produk sampah dibedakan, bahkan ada tempat khusus cairan yang terhubung mungkin sistem terpusat khusus untuk sampah cairan. Jadi kalo buang botol atau gelas minuman harus membuang isinya dulu ke dalam kolom cairan baru botolnya ditaruh di kolom tong sampah botol. Menariknya sistem seperti ini run well (bisa bayangin lah kalo di Indonesia ada sistem seperti ini), karena dari orang yang masukin sampah yang saya amati mereka benar-benar mentaati sistem persampahan tersebut. Yah…sepertinya bangsa kita harus belajar dari mereka tentang persampahan.

Perjalanan selanjutnya adalah dari Narita ke San Francisco. Ini untuk pertama kalinya saya mengalami fenomena menembus batas waktu berjalan mundur. Batas waktu itu ada di tengah-tengah lautan pasific. Jadi waktu yang tadinya tanggal 4 malem tiba-tiba jadi pagi tanggal 4. Langsung deh bingung, gimana yah sholatnya? soalnya magrib ma isya untuk tanggal 4 dah di jama di Jepang. Apakah tanggal 4 pagi di Amerika harus sholat lagi? hm..mungkin ini pertanyaan buat ahli-ahli fiqih di PPSDMS (aaf, aji, dkk).ha..ha..Temen-temen saya soalnya pilih ga sholat karena sudah sholat tanggal 4. Tapi logika pribadi saya mengatakan, saya harus sholat karena menyesuaikan waktu setempat. Lagipula ga ada yang overlap, habis magrib dan isya di jepang, langsung subuhan di lautan pasific, dan itu aku itung-itung waktunya sama dengan kalo saya berdiam diri di jepang (tapi next day). Cukup sulit menemukan tempat sholat di SF. Setelah tanya-tanya si emang ga ada, jadi harus sholat di tempat umum. But it’s ok. It’s my right. Kita semua tahu negari Amerika paling menghormati hak-hak individu (walau kadang anomali terkait kasus iraq, afganistan, dan palestine). Masuk negeri Amerika juga banyak neko-neko nya. Semua masyarakat dunia yang masuk Amerika harus discreening dulu. Mereka tercatat dalam database Homeland Security. Keluarpun sama, harus discreening wajah lagi untuk memastikan bahwa kita sudah keluar dari negeri ini. Yang menarik dari proses screening ini adalah perlakuan yang sedikit diskriminatif terhadap masyarakat muslim. Kita semua harus melalui proses secondary inspection. Lewat proses ini, kita ditanya-tanya macem-macem, dan penanyanya cenderung kurang ramah. Salah satu penanyanya ada yang bilang gini “Every people from Moslem country must go here, you know!”. Sial!! (dalam hati) curigaan amat mereka. Menurut saya, selama perlakuan pemerintah Amerika terhadap masyarakat muslim seperti ini tidak dirumah gap antara dunia muslim dan amerika akan semakin besar (seperti juga diceritakan Huntington dalam Clash Civilization). Yang menarik dari masyarakat (saya sebut masyarakat karena memang tidak ada bangsa Amerika) Amerika adalah mereka supel terhadap orang-orang disekitarnya. Mereka cenderung melihat orang-orang disekitarnya. Yang pasti kalo papasan dengan mereka umumnya mereka melihat kita, trus kalo kita lihat mereka pasti mereka bilang “Hii!!” (tidak seperti di jepang kalo kita lihat orang jepang malah mereka yang menghindar). OH ya, di bandara FS banyak orang FIlipinanya. Mereka umumnya jadi tukang bersih atau penjaga. Keheranan saya tentang fenomena filipino ini terjelaskan setelah saya bertanya ke salah satu dari mereka. Mereka bilang dulu nenek moyangnya ada yang kerja disini, trus dia ngajak-ngajak orang filipino lainnya. Krena orang filipino lebih mudah menguasai bahasa inggris jadi lebih mudah kesininya, walaupun dia bilang harus berjuang 15tahun untuk mendapatkan greencard (surat ijin kerja dan tinggal di Amerika). Beberapa temannya belum mendapat greencard sampe sekarang. Aku lihat, bangsa filipino menduduki strata bawah di Amerika ini (jadi jongos, dsb). Tidak seperti bangsa China (umumnya administrasi) dan juga India (jelas professional IT).

Kemarin seharian kegiatannya bersih-bersih segalanya untuk siap-siap hengkang dari Bandung. Bersih-bersih ga hanya kamar dan juga barang-barang tetapi juga termasuk data-data digital. Awalnya niatnya emang ngrapiin folder ma ngapusin semua file yang ga penting. Tapi jadinya malah nostalgia ngliatin file-file jadul. Salah satunya bacain artikel buatanku tiap bulan dan beberapa essay buat Mapres, lomba, atau seminar (jadi bangga pada diri sendiri..ha..ha.). huff…setelah baca-baca tu artikel jadi mikir2..perasaan dulu aku ga hobi nulis deh bahkan ga bisa sama sekali. Mungkin salah satu sohib saya fajrin tau gimana aku 2 tahun lalu. Benar-benar ga bisa nulis. Kalo ada tugas nulis ma beliau, pasti beliau yang ngerjain, bukan aku.

Oh ya selain aku baca-baca hasil tulisanku selama dua tahun terakhir, juga aku rapihin ma aku pdf in trus aku upload deh di scribd.com. Yeah…Buat yang pengin baca-baca bisa diakses disini. Ini contoh artikel tulisanku di scribd.com :

Well, akhirnya jadi kemana-mana deh, dari tadinya bersih-bersih trus nostalgia, jadi mengkoreksi diri dan berkontemplasi. Kebetulan pas banget akhir tahun jadi ntar sekalian bikin resolusi untuk tanggal 1 Januari. Kalo dipikir-pikir kenapa aku bisa ngasilin tulisan itu karena perubahan orientasi hidup. Pertama masuk ITB perasaan dulu kerjaannya belajar mulu (sampe dapet IP 4 bo..sambil nangis2…). Bahkan seminggu sebelum ujian di kamar terus kerjaannya. Tapi 2 tahun kemudian (Terutama setelah bercengkrama dengan 3 saudaraku ilham, fajrin, ma aji di asrama) kebiasaan itu berubah. Jadi deh melakukan banyak hal di luar kegiatan akademik. Bahkan sudah berani bolos ma tidur di kelas (sering sekali). Kegiatanku habis di luar, mulai dari bisnis, jalan-jalan, kongkow2 ma temen-temen eclub, moderatorin, ngisi seminar, diskusi, kajian, nulis, dll. Tapi it’s ok, aku dapet banyak banget dari kegiatan itu walaupun ada yang dikorbanin. Aku mikir, “Aghh..akademik dah dapet di 2 taun di awal, saatnya mengasah softskill”. Kalo teori dari Prof fajrin, softskill tu ga penting sekarang, tapi besok kalo dah di posisi puncak. Ada benernya juga, tapi sekarang jadi ga punya hardskill deh dimana sangat dibutuhkan buat freshgraduate, kemampuan coding melemah, ketinggalan teknologi IF, ga ngerti pelajaran IF, dll. Ini juga sekaligus menjadi bahan kontemplasi untuk membuat resolusi.

Kalo taun 2008 kemarin resolusiku ada 4 poin besar, berikut evaluasinya :
1. Pergi ke US, Ga tau kenapa harus US tujuanku. Seneng aja sih tiap hari sering dengerin kuliah di ted.com jadi pengin kesana. Tadinya narget berangkat lewat kompetisi ThinkQuest-nya Oracle, secara dah optimis bakalan lolos. Tapi ternyata kelompokku di diskualifikasi. Yah, yang namanya mimpi emang kunci (kata nidji). Mimpiku buat ke US akhirnya kesampean lewat jalur laen. Ada 2 malah, beasiswa IELSP ma HNMUN 2009.
2. Menang 1 lomba lagi (secara waktu itu masih dikejar-kejar PPSDMS buat berprestasi..he..he..), Ini juga sangat terukur karena dah narget menang untuk LCEN. Lagi-lagi mimpiku hangus setelah gagal hanya sebagai finalis di LCEN ITS. Akhirnya, menang 1 lomba laginya kejadian beneran lewat kompetisi INAICTA walaupun cuma dapet Merit Award.
3. Sudah ada bisnis running well, Yah waktu bikin ni poin sebenernya bisnisnya sudah dirintis yaitu jualan pakaian di solo. Bisnis seperti ini resikonya cukup kecil, itulah kenapa target capaian ku cuma running well. Buat passive income ajah. Untuk poin ini juga tercapai, alhamdulilah juga bisa menghidupi beberapa orang.
4. Beli rumah, ini bisa dibilang nekad karena rasa cinta diriku pada keluargaku yang pengin punya rumah di jakarta. Tapi untuk taun ini rasanya belum berhasil, karena project mobile surveyor ku gagal. Itung-itunganku kalo project itu goal, bisa deh jadi beli rumah. Tapi analisis ku meleset, banyak kekurangan dari apa yang aku kerjakan. Yang pasti poin ini tetap menjadi resolusi untuk 2009. Bales dendam ni keknya…ha..ha..sudah mempersiapkan bisnis baru lagi. Semoga dari US banyak inspirasi.

Dari penjelasan di atas kurumuskan satu resolusi untuk tanggal 1 januari nanti, yaitu punya hardskill dimana aku bisa menekuninya dan menjadi master disitu. Ini juga sekaligus pembuktian setelah baca sekilas resensi buku baru Malcolm Gladwell, Outliers, yang menyatakan “butuh 10.000 latihan untuk menjadi master di bidangmu”. Tapi ukuran kesuksesan resolusi ini masih samar, yang kepikiran sih, menjadi rujukan orang-orang, diundang seminar untuk training hardskill itu, nulis di majalah tentang hardskill itu, ma ngeluarin buku mungkin.