zaQ corner

Archive for the ‘culture’ Category

KIPP (Knowledge is Power Program) merupakan salah satu sekolah yang banyak dibicarakan di Amerika. Terutama tentang bagaimana kesuksesan mereka merekayasa seorang “looser” jadi “winner”. Banyak ahli pendidikan sampai Bill Gates merekomendasikan model pendidikan ini. Akhirnya saya melakukan beberapa observasi berikut, semoga bermanfaat bagi teman-teman yang bergerak di bidang pendidikan :

Merita merupakan siswa dari sekolah bernama KIPP. Ia termasuk golongan dari anak yang tidak mampu. Teman-temannya yang lain di KIPP juga banyak dari keluarga yang tidak mampu. Setiap hari ia bangun pagi-pagi, berangkat dari rumah pukul 5 pagi dan pulang rumah pukul 5.30 sore. Kalo ga ada PR dia menghabiskan waktu belajar sampai jam 9. Kadang sang Ibu menyela waktu belajarnya untuk makan. Kalau ada PR ia bisa tidur sampe jam 10 atau 11. Sekolahnya KIPP memang meminta muridnya untuk tidur tidak lebih dari jam 11. Suatu saat Merita tidur lebih dari jam 12 malam. Keesokan harinya habis di kelas gurunya bilang “Kamu harus tidur lebih awal”. Gurunya tau betul performa anak-anak didiknya.

Merita merupakan siswa pindahan dari sekolah sebelumnya. Di awal kelasnya ia masih sering maen ke tempat teman sekolah lamanya. Dia juga sering mengerjakan PR disana, tapi temannya itu tidak ada PR. Temannya bilang “Kamu telat masuk sana. Dulu saya pernah pengin masuk KIPP, tapi takut karena susah”. Merita menjawab “Banyak orang bilang KIPP susah, tapi ketika saya masuk sana biasa-biasa saja, malah saya enjoy”. Temannya bales lagi “Itu karena kau pintar”. “Tidak! setiap dari kita pintar”, jawab Merita.

Dari cerita di atas, KIPP memang patut dijadikan model. Ia mewariskan budaya ke anak-anak didiknya. Ada beberapa poin yang bisa disimpulkan bagaimana KIPP bisa mewariskan budaya tersebut. 

1. “Great Teacher”
Tidak hanya “Good” tapi “Great”. KIPP punya guru-guru “great” yang benar-benar mengerti kondisi siswanya satu-satu. Selain itu kalau datang ke kelas, anak-anak didik benar-benar merasa fun dalam belajar. Mereka menggunakan nyanyian-nyanyian atau yel-yel dalam belajar. Menariknya beberapa guru dari KIPP ini jebolan dari TeachForAmerica sebuah program yang mentraining guru-guru terbaik di seluruh penjuru Amerika. Bisa dibilang semacam “the next leaders” dalam bidang pendidikan.

2. Kedisiplinan
KIPP benar-benar tegas tentang masalah kedisiplinan. Mulai dari masuk kelas siswa-siswa KIPP harus tertib (bisa dilihat baris masuk kelasnya di Youtube) hingga sampe tidur harus tertib ga boleh lebih dari jam 11 malem. 

3. “Work Hard”
Siswa-siswa KIPP belajar lebih banyak daripada siswa-siswa lain di penjuru Amerika. Dengan banyak PR, mereka akan menjadi “better”. Waktu belajar mereka juga dari pagi sampe sore. Hari Sabtu mereka juga masuk. Lalu anda bertanya “Kapan waktu maennya?”. Jawaban pertanyaan tersebut bisa ditemukan dibuku “Work Hard be Nice” yang mengulas tentang filosofi pendidikan ala KIPP. selain itu, di dinding setiap kelas di KIPP juga bertuliskan “no shorcuts”.

4. SSLANT
Di KIPP ada aturan yang harus ditaati semua siswa yaitu SSLANT. “Smile, Sit up, listen, ask question, nod when being spoken to, and track with your eye”. Aturan ini benar-benar menarik. Menjadikan setiap siswa berpikir, aktif dan terapresiasi.

Dengan berbekal poin-poin tersebut, akhirnya banyak siswa-siswa miskin di Amerika bisa sekolah di universitas-universitas TOP di Amerika. Data menunjukkan 90% dari mereka mendapatkan beasiswa. 

Mungkin dari kita ga menyadari “kenapa sih kita harus kuliah di sekolah yang hebat?”. Mungkin karena karena alasan di atas, kita pengen dapet “WARISAN BUDAYA”.

Banyak wirausahawan hebat Amerika umumnya lulusan universitas.  Seperti sergey brin/Larry Page (pembuat Google), Warren Buffet, dan Jerry Yang (pembuat Yahoo), dan masih banyak lagi. Saya kira ini wajar, karena lingkungan kampus sangat mendukung untuk tumbuhnya jiwa-jiwa wirausaha seperti yang saya paparkan di part I. Lalu bagaimana dengan wirausahawan seperti Bill Gates, Steve Jobs, dan Michael Dell yang tidak pernah lulus di universitas? Bisa dibilang, Amerika merupakan negeri yang cukup banyak memiliki wirausahawan yang tidak lulus kuliah. Cukup sulit untuk menjelaskan fenomena ini. Tapi saya memberanikan diri membuat tulisan ini. Mereka yang sukses wirausaha tanpa kuliah, yang ada dibenak saya pasti lingkungan dan budaya tempat dia tinggal sangat mendukung. Tak salah memang, selama berada di negeri ini, saya amati budaya masyarakatnya sangat mendukung tumbuhnya jiwa wirausaha. Saya mengamati bagaimana budaya primordial tidak bisa tumbuh disini. Anak muda yang hebat tentu lebih disegani dari orang tua yang tidak bisa apa-apa. Masyarakat Amerika sangat menghargai kapasitas individu. Mereka juga sangat apresiatif terharap suatu ide apalagi sikap suka memujinya yang tidak bisa saya lupakan.

Mereka umumnya juga pemberani dan percaya diri. Anak-anak kecil disini sangat berbeda dengan anak kecil di Indonesia. Anak kecil di Amerika sangat dewasa sekali. Mereka bahkan bisa bebas berdebat dengan orang dewasa akan suatu hal tanpa ada larangan. Ini tentu bisa menumbuhkan sikap kreatif. Kalo kita mengajukan pertanyaan ke anak kecil disini “Apa ada pertanyaan?”, hampir seluruh anak mengangkat tangannya. Yang saya lihat di Indonesia, budaya seperti ini cukup jarang ditemui.

Satu lagi yang amat sangat kental, masyarakat Amerika sangat logis dan efektif. Budaya ini menarik buat saya karena saya menemukan fenomena yang sangat berbeda dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Tentunya budaya seperti ini bisa menjadi faktor juga kenapa wirausahawan yang tidak kuliah bisa tumbuh subur di negeri ini. Ketika datang pertama kali ke negeri ini, saya terkejut dengan banyaknya toko barang bekas disini. Di toko buku besar (kalo di Indonesia mungkin sekelas gramedia), juga banyak menjual buku-buku bekas. Anehnya buku-buku bekas ini seperti baru, hampir sangat sulit membedakan antara bekas dan baru. Saya kadang berpikir, kalau buku-buku dan barang-barang bekas orang Indonesia larinya pada kemana yah? perlu ada riset lebih mendalam sepertinya untuk menjawab pertanyaan ini.

Selain barang bekas yang dengan mudah bisa kita temui, budaya logis dan efektif mereka juga bisa kita temui di papan pengumuman di berbagai tempat. Yang sering saya temui, banyak pengumuman mahasiswa yang mencari teman serumah karena ia di rumah sendiri. Selain itu juga kalau pergi ke suatu tempat yang jauh umumnya mereka menawarkan tumpangan di papan ini, tentunya yang mau ikut harus ikut bayar bensin. Demikian juga sebaliknya jika mau pergi ke suatu tempat pada tanggal tertentu umumnya mereka menempel info kalau mereka butuh tumpangan. Papan itu setiap hari sering berubah kontennya saya amati, sangat dinamis. Yang lebih menarik lagi adalah, budaya setelah makan masyarakat sini. Adalah sangat umum bagi masyarakat sini untuk membawa pulang makanan sisa apabila tidak habis. Cukup minta kardus ‘take home’ trus masukin deh makanan itu, mereka dengan pedenya bilang “I don’t have money” ketika saya tanya ‘kenapa dibawa pulang? di Indo itu makanan bekas lo..’. Lagi, banyak saya temui orang bawa mobil di dalemnya isinya kaleng bekas. Mereka datang ke vending machine tempat penukaran kaleng/botol. Setiap kaleng/botol dihargai 5 sen oleh vending machine itu. Saya juga terkejut melihat fenomena ini, bagaimana bisa orang bawa mobil didalamnya isinya sampah botol/kaleng. Masyarakat disini sangat menghargai sekecil apapun yang mereka punya.

kaleng

Pada nuker kaleng/botol dengan duit

Apa-apa yang saya lihat di atas baru sedikit dari budaya masyarakat sini yang sangat relevan dengan tumbuh kembangnya jiwa-jiwa entrepreneurship masyarakatnya. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia.

Amerika merupakan negara dengan PDB paling besar di dunia. Bahkan hampir sama dengan gabungan seluruh PDB seluruh negara Eropa. Ini berarti kegiatan ekonomi di negara ini sangatlah besar. Yang membuat saya heran adalah, kenapa wirausahawan-wirausahawan hebat umumnya datang dari negeri ini? Bill Gates, Waren Buffet, Richard Branson, Dell, Steve Jobs merupakan sedikit dari banyak wirausahawan dari negeri ini yang menjadi tonggak kemajuan bangsa ini. Jadi terinspirasi kata Malcolm Gladwell dalam buku barunya Outliers, orang-orang seperti ini tidak bisa dicetak begitu saja. Ia, bak pohon yang tinggi, tidak lahir hanya dari bibit yang bagus, tapi juga karena ada matahari yang menyinarinya, ada tanah yang membuatnya tumbuh subur, dan juga ada zat-zat yang mendukung buat ia tumbuh tinggi.

Keheranan saya membuat saya mencari tau faktor-faktor yang membuat mereka tumbuh sedemikian banyak, paling tidak di kampus tempat saya belajar. Berbeda dengan gerakan wirausaha di kampus ITB Indonesia yang umumnya independen dan terkesan underground. Di kampus amerika ini gerakan entrepreneurship memang serius didukung oleh kampus. Sering sekali ada pengusaha atau praktisi entrepreneurship yang datang ke kampus untuk mengisi seminar dan resmi diundang oleh rektor. Di kampus ini juga ada lembaga yang bernama Austin Entrepreneurship Program (AEP). AEP memiliki program-program yang sangat bagus untuk mahasiswa kampus ini yang ingin menumbuhkan jiwa wirausaha. Mereka punya satu gedung yang sebagian besar digunakan untuk asrama bagi mahasiswa yang ingin menumbuhkan jiwa wirausaha. Mereka juga diberi ruang khusus untuk mereka yang ingin berwirausaha.

Ketika saya berkunjung ke AEP untuk mencari info lebih dalam tentang apa yang mereka lakukan, saya cukup terkejut. Salah satu pengurus AEP menuturkan bahwa AEP tidak menyarankan mahasiswa untuk memiliki usaha. Akan tetapi tugas mereka hanya menumbuhkan jiwa-jiwa wirausaha, diantaranya : berani mengambil resiko, kerja keras, kreatif, sosial, passion, dan juga mandiri. Saya kemudian diajak mereka untuk mengikuti proses pembentukan jiwa-jiwa itu, yaitu mengikuti kelas Introduction to Entrepreneurship.

Masuk kelas ini serasa tidak sedang mengikuti kelas entrepreneurship seperti di Indonesia yang cenderung provokatif. Kita hanya diberi tugas mengeksekusi project Boys&Girls (akan saya ceritakan lebih lanjut). Project ini semacam project sosial yang ditujukan bagi anak-anak SD, SMP, dan SMA di daerah sekitar kampus. Dari project inilah sang dosen menumbuhkan jiwa-jiwa yang saya sebutkan di atas. Setiap proses dalam eksekusi project ini, sang dosen benar-benar menanamkan nilai-nilai wirausaha. Baru saja sore tadi ikut kuliah ini, begitu teringat di kepala saya dosen itu cerita tentang bagaimana bisnis besar teletubies dibuat. “Bisnis bernilai triliunan ini awalnya dibuat dari iseng-iseng ibu rumah tangga yang berusaha membuat anaknya yang belum berumur 1 tahun lebih atraktif. Demikian juga project ini, kalian bisa menyelediki dan memikirkan hal-hal kecil yang menantang anda, sehingga jadi bisnis. Maka kerjakan dengan hati/passion.”

Tampaknya, besarnya jumlah wirausaha hebat (terutama lulusan universitas) dari negeri ini tidak terlepas dari faktor di atas. Dukungan dari institusi dimana masyarakat Amerika hidup yaitu universitas. Tidak hanya kampanye untuk punya usaha tetapi bagaimana jiwa-jiwa wirausaha itu bisa tertanam dalam diri mahasiswa-mahasiswa amerika, yang saya anggap ini sebagai “Substantial Entrepreneurship”.

Teman saya namanya Josh, mahasiswa Mechanical Engineering di OSU. Saya banyak cerita tentang Indonesia dan Amerika dengan dia. Menarik kalo cerita tentang middle kelas di Amerika. Dia bilang kalo dia masuk middle kelas. Di Amerika golongan middle class sangat besar jumlahnya. Golongan middle class merupakan golongan yang membawa arah Amerika. Pendapatan mereka cukup (ga mikir perut lagi) dan tingkat pendidikan mereka tinggi. Mungkin karena jumlah yang besar itulah Amerika menjadi seperti sekarang. Saya bilang ke dia, kalo middle class di Indonesia lebih sedikit dari Lower class, dan kita sekarang sedang memperbesar jumlah middle class ini. Walaupun kelas menengah, Josh tidak seberuntung teman kelas menengah lainnya. Dia bilang kalo dia pinter (ok josh kamu memang pintar) dan harusnya bisa masuk universitas yang lebih bagus dari universitas dia kuliah sekarang (Oregon State University), Harvard ato MIT mungkin. Tapi sayang dia tidak punya dana untuk kuliah (tau sendiri biaya universitas bagus di US), saudaranya kuliah juga pasalnya. Saya bilang ke dia, kenapa ga cari beasiswa? Dia bilang kalo dia tidak pantas mendapatkan beasiswa karena dia masuk dalam kelas menengah. Sedang universitas hebat umumnya berbiaya mahal dan hanya memberikan beasiswa hanya kepada golongan bawah yang cerdas. Kasian benar josh, saya bilang dalam hati. Tapi saya salut dia masi mencari jalan keluar untuk keluar untuk kuliah. Pembicaraan berlanjut ke pertanyaan saya, “bagaimana dengan fenomena banyaknya mahasiswa internasional yang kuliah/kerja di Amerika? apa kamu tidak resah kamu ga dapet kerjaan/beasiswa kuliah ntar?”. Dia bilang tidak. Masa bodoh katanya. Dunia sudah berubah. Kita ga bisa terkungkung oleh nasionalisme. Toh mereka datang ke Amerika juga membangun Amerika karena belajar disini. Di masa depan nanti kita mungkin bisa kerja di Jepang, Eropa, bahkan Indonesia dengan cepat. Wah..mantep juga ni pemikiran middle class Amerika. Mungkin karena pemikiran2 middle class seperi ini juga yang membuat Obama (yang kulit hitam afrika-amerika dan punya catatan sejarah sebagai muslim) terpilih sebagai presiden. Teman saya lainnya namanya Kaleen, mahasiswa jurusan Bisnis disini. Dia kelas menengah juga. Dia pernah kerja dimana-mana katanya. Diskusi saya dengan dia seputar pertanyaan,”Kenapa banyak mahasiswa kerja disini? apa orang tua kalian ga bayarin?”. Dia bilang orang tuanya mampu, tapi ga mau bayarin kuliah. Dia harus nyari sendiri biaya kuliah. Katanya hampir semua orang tua mahasiswa yang lain melakukan hal yang sama. Mahasiswa Amerika benar-benar survive tampaknya.

Banyak fenomena yang unik di amerika yang sangat berbeda dengan yang ada di Indonesia. Mungkin seperti inilah cerminan negara maju pemimpin peradaban.

1. Penghormatan terhadap pejalan kaki
Di Amerika pejalan kaki sangat dihormati sekali. Biasanya kalo di Indonesia kita yang sering ngalah sama motor atau pengendara mobil. Bahkan sering dikata-katain kalo kita jalan sembarangan atau dibunyiin klakson kenceng2. Di Amerika justru yang merasa nyebrang itu mobil bukan orang yang nyebrang. Belum pernah denger rasanya mobil membunyikan klakson di Amerika sini. Pernah pertama kali nyebrang saya berhenti nungguin mobil lewat, justru saya yang ditungguin untuk suruh lewat.

2. Sepeda kendaraan utama
Di Amerika ini, rasanya saya belum pernah melihat motor. Banyakan isinya mobil sama sepeda. Banyak mahasiswa kuliah menggunakan sepeda bahkan banyak dosen-dosen ikutan pake sepeda. Di Amerika perlakuan pengendara sepeda sama dengan kendaraan lain. Mereka harus berhenti kalo ada lampu merah. Mereka juga harus berhenti kalo ada orang nyebrang. Pemakaian helm juga dianjurkan di Amerika (meski tidak diwajibkan. Setiap yang punya sepeda disini juga umumnya didaftarkan ke kepolisian(untuk bisa ngetrack kalo ilang).

3. Penjadwalan dan Tepat Waktu
Mungkin orang Amerika adalah orang yang paling concern masalah waktu di dunia. Disini setiap acara sudah jauh hari dipersiapkan bahkan berbulan-bulan sudah ditetapkan tanggal dan jam serta ruangannya dimana. Ga bakalan ada acara dadakan disini. Selain itu, berbeda dengan di Indonesia, kalo kita disuruh dateng jam 9 misalnya, itu berarti kita masih bisa datang jam 9 tepat. Tapi di Amerika tidak. Kita paling telat harus datang 10 menit sebelum jam 9. Pernah saya dan teman-teman pertama kali bikin appoinment ma advisor jam 8.30 dan kita pada datang 8.25, itu advisor marah-marah dan sangat resah kita datang jam segitu. Aneh.

4. Green Live
Orang di Amerika sangat peduli terhadap lingkungan. Mereka memilah sampah dengan sangat serius. Makan pun rasanya malu kalo meninggalkan sisa makanan kita di meja. Atau Malu juga kalo kita buang sampah di kolom yang salah, misalnya botoh di taruh ke bagian kertas. Mereka juga sering mengingatkan kalo botol yang sering kita gunakan bernilai 10sen, jadi mereka minta kita untuk buang botol itu di tempat yang benar. Hampir semua sampah direcycle disini. Mulai dari kertas, baterai, botol, sampe barang bekas. Di Amerika banyak sekali toko barang-barang bekas dan sangat laris. Rasanya mereka tidak menyianyiakan barang-barang bekas. Produk-produk di Toko juga banyak yang tulisannya recycle. Produk-produk itu umumnya murah. Tissue buat makan atau closet juga hasil recycle.

5. Banyak reaktor Nuklir
Di Amerika banyak sekali pusat tenaga nuklir (mungkin tiap kota ada). Saya jadi aneh kalo denger orang-orang Indonesia berteriak anti nuklir. Yang saya tau nuklir merupakan sumber energi paling efisien. Mungkin akan saya jelaskan di lain tulisan kalo dapet info lebih lanjut kenapa di Amerika bisa banyak reaktor nuklir.

6. Tidak ada Strata Sosial
Di Amerika saya lihat tidak ada strata sosial. Mau tukang sampah, pelayan, pegawai, dosen, mahasiswa. Semua status bisa ngomong enak dan terkesan keren semua pekerjaan di Amerika. Disini pemungut sampahnya juga keren-keren dan bersih-bersih. Dari penampilan mereka juga sebersih dosen ataupun mahasiswa. Mahasiswa juga berlomba-lomba jadi pelayan. Mungkin kita perlu bertanya, kenapa ada strata sosial di Indonesia.

14

Itu dulu yang bisa saya share. Tunggu yang review lainnya.

Yah…akhirnya saya bisa melakukan studi komparasi terhadap negara-negara lain dengan Indonesia. Perjalanan kemarin bener-bener mengajak otak ini untuk membandingkan apa-apa yang saya lihat di luar negeri dengan di Indonesia. Tujuannya jelas, biar lebih objektif dalam memandang sesuatu masalah di Indonesia.

Singapore adalah negeri pertama yang saya kunjungi. Walaupun cuma transit 7 jaman, tapi kunjungan ini cukup untuk mengetahui bagaimana singapore. Negeri kecil ini menarik. 40an tahun yang lalu negeri ini seperti tidak ada dalam peta, dan miskin. Tapi sekarang, kondisinya sangat berbeda. Negeri ini menjadi hub bagi negeri-negeri di sekitarnya termasuk INdonesia. Beberapa sekelompok elit (Termasuk Lie Kuan Yew) telah merekayasa pulau kecil ini menjadi pulau yang so amazing. Di bandara Cangi, saya benar-benar terkagum dengan kehidupan ekonominya. Anggap saja kehidupan ekonomi di Cangi menggambarkan kehidupan ekonomi di SIngapore. Semua barang ko rasanya laku dan fasilitas-fasilitas canggih di negeri ini juga rasanya bisa sustain. Jadi bertanya-tanya, bagaimana sistem seperti ini dibangun. Pasalnya, kalo kita bayangin di Indonesia, ngerun bisnis (terutama bisnis berteknologi canggih) aja susahnya minta ampun dan cenderung tidak sustain. Kalopun sustain untungnya juga ga seberapa. Yang menarik dari negeri ini adalah keanekaragaman bangsa-bangsanya. Tentunya kita semua tahu kalo singapore bukanlah negara bangsa, tapi negara berbangsa-bangsa layaknya Indonesia. Selalu ada aja di bandara ini yang bisa bahasa melayu. Jadi kalo ngobrol ma orang-orang singapore susah, mereka umumnya pake melayu. Oh ya fasilitas-fasilitas di singapore juga memanusiakan. Ga bakalan boring deh di Cangi walau seharian (kalo di Indonesia pasti boring deh), karena ada wahana-wahananya. Yang aku tau si internet gratis (banyak orang mengautiskan diri berdiri di depan komputer situ), trus buat anak-anak juga ada maenan, musholanya juga rasanya justru lebih bagus disini daripada di Indonesia.

Sekarang bertolak ke Narita di Jepang. Kemajuan bangsa ini terjadi terutama setelah restorasi meiji. Apa yang terjadi dalam restorasi ini menurut saya adalah transfer pengetahuan besar-besaran dari barat ke Jepang. Selama di bandara itu, saya belum menemukan orang jepang yang lancar berbahasa inggris. Kalo ditanya pake bahasa inggris pasti mereka menghindar. Tapi walaupun begitu, buku-buku jepang bejibun dimana-mana. Masyarakat jepang saya temukan banyak yang meluangkan waktu idle mereka membaca buku-buku berbahasa jepang. Mungkin ini menguatkan hipothesis bahwa kemajuan jepang setelah restorasi karena transfer knowledge lewat terjemahan buku-buku dari barat ke bahasa jepang (tidak seperti kemajuan India dengan pendekatan penggunaan english oleh masyarakatnya). Oh ya, orang jepang juga cenderung malu-malu saya lihat. Kalo ditanya ga se-excited orang-orang Amerika. Yang menarik dari jepang adalah kentalnya budaya lokalnya. Berbagai macam produk budaya di jual di bandara narita. Rasanya lebih beraneka ragam dari produk budaya Indonesia. Masalah lingkungan, jepang juga saya lihat sangat aware (lebih dari singapore apalagi INdonesia). Itu dilihat dari sistem persampahan di bandara itu. Semua produk sampah dibedakan, bahkan ada tempat khusus cairan yang terhubung mungkin sistem terpusat khusus untuk sampah cairan. Jadi kalo buang botol atau gelas minuman harus membuang isinya dulu ke dalam kolom cairan baru botolnya ditaruh di kolom tong sampah botol. Menariknya sistem seperti ini run well (bisa bayangin lah kalo di Indonesia ada sistem seperti ini), karena dari orang yang masukin sampah yang saya amati mereka benar-benar mentaati sistem persampahan tersebut. Yah…sepertinya bangsa kita harus belajar dari mereka tentang persampahan.

Perjalanan selanjutnya adalah dari Narita ke San Francisco. Ini untuk pertama kalinya saya mengalami fenomena menembus batas waktu berjalan mundur. Batas waktu itu ada di tengah-tengah lautan pasific. Jadi waktu yang tadinya tanggal 4 malem tiba-tiba jadi pagi tanggal 4. Langsung deh bingung, gimana yah sholatnya? soalnya magrib ma isya untuk tanggal 4 dah di jama di Jepang. Apakah tanggal 4 pagi di Amerika harus sholat lagi? hm..mungkin ini pertanyaan buat ahli-ahli fiqih di PPSDMS (aaf, aji, dkk).ha..ha..Temen-temen saya soalnya pilih ga sholat karena sudah sholat tanggal 4. Tapi logika pribadi saya mengatakan, saya harus sholat karena menyesuaikan waktu setempat. Lagipula ga ada yang overlap, habis magrib dan isya di jepang, langsung subuhan di lautan pasific, dan itu aku itung-itung waktunya sama dengan kalo saya berdiam diri di jepang (tapi next day). Cukup sulit menemukan tempat sholat di SF. Setelah tanya-tanya si emang ga ada, jadi harus sholat di tempat umum. But it’s ok. It’s my right. Kita semua tahu negari Amerika paling menghormati hak-hak individu (walau kadang anomali terkait kasus iraq, afganistan, dan palestine). Masuk negeri Amerika juga banyak neko-neko nya. Semua masyarakat dunia yang masuk Amerika harus discreening dulu. Mereka tercatat dalam database Homeland Security. Keluarpun sama, harus discreening wajah lagi untuk memastikan bahwa kita sudah keluar dari negeri ini. Yang menarik dari proses screening ini adalah perlakuan yang sedikit diskriminatif terhadap masyarakat muslim. Kita semua harus melalui proses secondary inspection. Lewat proses ini, kita ditanya-tanya macem-macem, dan penanyanya cenderung kurang ramah. Salah satu penanyanya ada yang bilang gini “Every people from Moslem country must go here, you know!”. Sial!! (dalam hati) curigaan amat mereka. Menurut saya, selama perlakuan pemerintah Amerika terhadap masyarakat muslim seperti ini tidak dirumah gap antara dunia muslim dan amerika akan semakin besar (seperti juga diceritakan Huntington dalam Clash Civilization). Yang menarik dari masyarakat (saya sebut masyarakat karena memang tidak ada bangsa Amerika) Amerika adalah mereka supel terhadap orang-orang disekitarnya. Mereka cenderung melihat orang-orang disekitarnya. Yang pasti kalo papasan dengan mereka umumnya mereka melihat kita, trus kalo kita lihat mereka pasti mereka bilang “Hii!!” (tidak seperti di jepang kalo kita lihat orang jepang malah mereka yang menghindar). OH ya, di bandara FS banyak orang FIlipinanya. Mereka umumnya jadi tukang bersih atau penjaga. Keheranan saya tentang fenomena filipino ini terjelaskan setelah saya bertanya ke salah satu dari mereka. Mereka bilang dulu nenek moyangnya ada yang kerja disini, trus dia ngajak-ngajak orang filipino lainnya. Krena orang filipino lebih mudah menguasai bahasa inggris jadi lebih mudah kesininya, walaupun dia bilang harus berjuang 15tahun untuk mendapatkan greencard (surat ijin kerja dan tinggal di Amerika). Beberapa temannya belum mendapat greencard sampe sekarang. Aku lihat, bangsa filipino menduduki strata bawah di Amerika ini (jadi jongos, dsb). Tidak seperti bangsa China (umumnya administrasi) dan juga India (jelas professional IT).