zaQ corner

Rasional Emosional

Posted on: December 22, 2008

Dua hal tersebut sering melingkupi kehidupan kita kesehariannya. Kadang kita harus dipaksa memanfaatkan emosi (dalam arti netral) kita pada kondisi tertentu. Kadang pula kita harus dipaksa memanfaatkan rasionalitas berpikir kita. Kenapa saya membahas masalah ini? Ini penting karena menyangkut kemajuan hidup. Kalo kita tanya lagi, ada masalah apa si dengan 2 hal tersebut? Ya, Sebenarnya masalahnya ada pada penempatan dua hal tersebut yang kadang oleh sejumlah orang kurang proporsional. Dua hal tersebut bagai pisau bermata dua. Mereka bisa bersifat konstruktif atau destruktif tergantung pada kita menempatkan mereka dimana.

Tidak sedikit saya melihat beberapa temen memanfaatkan emosinya secara berlebihan daripada rasionalnya. Sebagai contoh, ada temen saya yang lagi semangat-semangatnya melakukan wirausaha. Saking semangatnya seluruh keputusan diambil dengan cepat dan menurut saya cenderung emosional dan kurang rasional. Analisis terhadap bisnisnya menjadi kurang tajam dan akhirnya bisnisnya gagal. Walaupun gagal ia masih tetep bangga dengan kegagalannya sebagai wirausaha, yah maklum yang digunakan adalah faktor emosionalnya. FYI, Ga tau kenapa sekarang terjadi perubahan persepsi masyarakat dimana banyak dari mereka sekarang yang bangga menjadi wirausahawan(walaupun itu gagal).

Tidak sedikit pula saya melihat temen yang lebih banyak memanfaatkan rasionalitas akal mereka. Sebagai contoh terjadi pada event kumpul2, makan2, nonton di organisasi misalnya. Tidak sedikit dari mereka yang cenderung menghindar dari acara2 seperti ini (temu akrab, drama, band). Mereka menganggap kegiatan seperti ga penting (berdasarkan rasional mereka), buang-buang waktu, bahkan ada yang mengeluarkan isu hedonisme atas kegiatan-kegiatan tersebut. Cara pandang seperti ini cenderung kurang proporsional menurut saya dan cenderung destruktif. Kenapa sih destruktif? Bayangkan sebenernya dari kegiatan-kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas banyak melibatkan emosional-emosional kita. Dengan sering kumpul dengan temen-temen kita atau pentas bareng temen-temen kita ikatan emosional kita akan terbangun walau sampai tua nanti. Percaya atau enggak ikatan emosional dan sifat emosional kita terhadap temen dan orang di sekitar kitalah yang membawa kita kekesuksesan. Dalam buku “connected” juga dijelaskan bagaimana hubungan emosional kita dengan temen-temen kita sebanyak-banyaknya pada masa sekarang bisa sangat membawa keuntungan di masa yang akan datang. Jelas bermasalah apabila ada orang yang cenderung menghindar dari kegiatan-kegiatan seperti ini.

Lalu bagaimana mensikapinya. Dimana-mana sifat moderat dan proporsional selalu mendapatkan tempat daripada sifat yang berat sebelah (extrem) kanan atau kirim. Jadi kuncinya bagaimana kita bisa menempatkan kedua hal tersebut secara proporsional sesuai dengan tempatnya. Emosional digunakan untuk membina hubungan dengan lingkungan kita, rasional digunakan untuk memproses keputusan kita benar atau tidak. Mungkin itu juga kenapa dulu EQ begitu booming…baru sekarang saya nyadar…

1 Response to "Rasional Emosional"

Bukan berarti tak dapat disatukan, akan tetapi memang keduanya cenderung untuk saling meniadakan, atau setidaknya memonopoli kondisi kita,.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: