zaQ corner

Kenapa Muhammad Yunus(Grameen) bisa, kita tidak bisa?

Posted on: October 1, 2007

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh UKM-Center Universitas Indonesia, rata-rata jumlah kredit yang diberikan Bank ke masyarakat dan yang tidak kembali sebesar 80%. Sangat ironis memang, bagaimana ini bisa terjadi? UKM Center UI menganalisis hal itu karena kurang seriusnya pihak pemberi pinjaman dalam memberikan  pinjaman sehingga jatuh ke tangan pihak yang kurang tepat. Demikian juga dengan peminjam, mereka tidak mengetahui prosedur dan kemana harus meminjam dana. Akibatnya pemberi pinjaman dan peminjam tidak pernah saling bertemu. Hal itulah yang menyebabkan angka 80% itu muncul.

Terkait dunia perkreditan, Muhammad Yunus merupakan salah satu pelopor perkreditan untuk rakyat miskin. Yang menjadi pertanyaan, kenapa beliau bisa dan kita tidak bisa melakukannya? Berdasarkan data Grameen, dana yang kembali tepat waktu sebesar 99% dan 1% sisanya terlambat. Angka ini sangat mengejutkan tentunya, apa sih resep Muhammad Yunus? setelah melakukan penjelajahan saya menemukan beberapa konsep Grameen Bank yang patut kita acungi jempol.

1. Bagaimana Yunus memandang Kemiskinan?

Kemiskinan itu seperti pohon bosai. Jika kita meletakkan bibit pada pot untuk dibonsai maka jadilah bonsai bibit itu. Akan tetapi jika kita meletakkan bibit itu di tempat yang luas dan tidak ada kawat-kawat pembuat bonsai, bibit itu tumbuh besar tidak seperti bonsai yang pendek. Sama halnya dengan kemiskinan, jika ada generasi baru dari orang miskin maka dia akan terlahir menjadi orang miskin juga selama dia masih berada di dalam lingkungan miskin. Sebaliknya jika dia berada pada lingkungan yang tidak miskin maka dia tidak tumbuh sebagai orang miskin (paling tidak dalam hal mental). Lingkungan disini tidak hanya bersifat fisik tetapi juga pola pikir. Untuk itu Yunus mencoba merubah pemikiran generasi penerus warga miskin agar mereka tidak ikut terlarut miskin.

2. Memberikan reward (bintang) kepada anggota Grameen

Untuk merubah pola pikir warga miskin ini, Yunus mencoba memutus rantai generasi kemiskinan dengan mendidik putra-putra warga miskin ini. Cara yang dia lakukan cukup sederhana. Grameen akan memberikan reward bagi anggota yang berhasil menyekolahkan anaknya ke jenjang tertentu. Beasiswa juga diberikan jika memang putra-putra mereka berprestasi. Sebaliknya punishment pun juga diberikan jika putra mereka tidak bersekolah. Contoh punishment adalah dikeluarkan dari Grameen sehingga tidak dapat meminjam dana lagi (yang paling ditakutkan warga). Sistem ini terbukti sukses meningkatkan partisipasi warga dalam pendidikan di Bangladesh. Selain itu, dengan pendidikanlah pola pikir seseorang bisa berubah, terutama merubah mental dan pola pikir tentang kemiskinan, bahwa mereka bisa tidak miskin. Kalau kita pikir-pikir? kenapa dari dulu orang Indonesia tidak memakai sistem yang seperti ini?

3. Kenapa Yunus memilih perempuan?

Pada tahun-tahun sebelum Grameen berdiri, perbankan konvensional di Bangladesh sangat ketat dalam memberikan kredit. Sangat jarang sekali kredit diberikan kepada rakyat miskin. Hal itu karena kepercayaan bank terhadap masyarakat sangat kurang berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya bahwa mereka tidak memiliki jaminan untuk mengembalikan. Namun, Yunus melihat hal lain. Terdapat budaya di Bangladesh dimana perempuan enggan meminjam uang ke Bank. Sangat sedikit sekali perempuan yang berani meminjam ke Bank waktu itu. Hal itu dikarenakan budaya masyarakat Bangladesh bahwa uang merupakan urusan dan tugas seorang suami. Yunus lewat Grameen mendobrak budaya itu. Yunus menemukan data menarik yang didapat dari berbagai Bank bahwa hampir seratus persen dari sedikit peminjam perempuan mengembalikan dana pinjamannya tepat waktu. Data inilah yang digunakan dasar Yunus untuk menjalankan Grameen. Selain itu, berdasarkan pengamatan Yunus, perempuan lebih memiliki visi kedepan dari pada laki-laki. Laki-laki berpikir sekarang tetapi kalau perempuan berpikir kedepan. Itulah yang membuat perempuan lebih bisa bertanggungjawab terhadap pinjaman-pinjaman yang diberikan Grameen. Dan lagi-lagi beliau berhasil membuktikan bahwa analisanya tepat. Sebuah analisa yang cerdas…

4. Psikologi Kelompok

Sebelumnya Yunus baru menyadari bahwa cara yang dia gunakan ini di dunia psikologi disebut “psikologi kelompok”. Grameen Bank membuat sistem komunitas peminjam grameenBank di tiap-tiap daerah (setingkat kelurahan mungkin). Lewat komunitas-komunitas inilah Grameen hidup. Disitulah diumumkan reward, punishment, siapa yang jatuh tempo peminjaman, dll. Dengan cara seperti inilah psikologi penduduk miskin tersebut dimainkan. Mereka otomatis akan terpacu ketika melihat tetangganya berprestasi, atau malu ketika mendapat punishment atau belum mengembalikan pinjaman. Faktanya, cara ini sangat efektif. Mereka berlomba-lomba mengembalikan dana pinjaman. Kalaupun ada yang belum bisa mengembalikan dana pinjaman pasti mereka menjadi dana ke tetangga mereka agar tidak dikeluarkan dari keanggotaan GrameenBank. Sistem yang sangat cerdas…

sepertinya itu semua tidak dilakukan oleh pemberi pinjaman di Indonesia…(apa karena saya yang tidak tau?) Sebenarnya kalau saja budaya masyarakat Indonesia bagus kita tidak perlu lagi capek membuat sistem seperti diatas. Muhammad Yunus telah membuktikan bahwa pembuatan sistem untuk merubah paradigm (pola piker) masyarakat berhasil dan membuahkan hasil.

2 Responses to "Kenapa Muhammad Yunus(Grameen) bisa, kita tidak bisa?"

saya pernah ikut kuliah manajemen industri nya pa S.B. Hari Lubis. Kata beliau, sederhana aja kenapa apa yang diterapin muhammad yunus di bangladesh jangan ditiru mentah-mentah diterapin di indonesia; Bangladesh itu jajahan Inggris, Indonesia jajahan Belanda. Selebihnya dipikir sendiri selanjutnya kenapa…🙂

wow.. bagus betul tulisannya.. tulisan zaky memang selalu membawa inspirasi baru..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: