zaQ corner

Keunikan Amerika

Posted by: achmadzaki on: January 8, 2009

Banyak fenomena yang unik di amerika yang sangat berbeda dengan yang ada di Indonesia. Mungkin seperti inilah cerminan negara maju pemimpin peradaban.

1. Penghormatan terhadap pejalan kaki
Di Amerika pejalan kaki sangat dihormati sekali. Biasanya kalo di Indonesia kita yang sering ngalah sama motor atau pengendara mobil. Bahkan sering dikata-katain kalo kita jalan sembarangan atau dibunyiin klakson kenceng2. Di Amerika justru yang merasa nyebrang itu mobil bukan orang yang nyebrang. Belum pernah denger rasanya mobil membunyikan klakson di Amerika sini. Pernah pertama kali nyebrang saya berhenti nungguin mobil lewat, justru saya yang ditungguin untuk suruh lewat.

2. Sepeda kendaraan utama
Di Amerika ini, rasanya saya belum pernah melihat motor. Banyakan isinya mobil sama sepeda. Banyak mahasiswa kuliah menggunakan sepeda bahkan banyak dosen-dosen ikutan pake sepeda. Di Amerika perlakuan pengendara sepeda sama dengan kendaraan lain. Mereka harus berhenti kalo ada lampu merah. Mereka juga harus berhenti kalo ada orang nyebrang. Pemakaian helm juga dianjurkan di Amerika (meski tidak diwajibkan. Setiap yang punya sepeda disini juga umumnya didaftarkan ke kepolisian(untuk bisa ngetrack kalo ilang).

3. Penjadwalan dan Tepat Waktu
Mungkin orang Amerika adalah orang yang paling concern masalah waktu di dunia. Disini setiap acara sudah jauh hari dipersiapkan bahkan berbulan-bulan sudah ditetapkan tanggal dan jam serta ruangannya dimana. Ga bakalan ada acara dadakan disini. Selain itu, berbeda dengan di Indonesia, kalo kita disuruh dateng jam 9 misalnya, itu berarti kita masih bisa datang jam 9 tepat. Tapi di Amerika tidak. Kita paling telat harus datang 10 menit sebelum jam 9. Pernah saya dan teman-teman pertama kali bikin appoinment ma advisor jam 8.30 dan kita pada datang 8.25, itu advisor marah-marah dan sangat resah kita datang jam segitu. Aneh.

4. Green Live
Orang di Amerika sangat peduli terhadap lingkungan. Mereka memilah sampah dengan sangat serius. Makan pun rasanya malu kalo meninggalkan sisa makanan kita di meja. Atau Malu juga kalo kita buang sampah di kolom yang salah, misalnya botoh di taruh ke bagian kertas. Mereka juga sering mengingatkan kalo botol yang sering kita gunakan bernilai 10sen, jadi mereka minta kita untuk buang botol itu di tempat yang benar. Hampir semua sampah direcycle disini. Mulai dari kertas, baterai, botol, sampe barang bekas. Di Amerika banyak sekali toko barang-barang bekas dan sangat laris. Rasanya mereka tidak menyianyiakan barang-barang bekas. Produk-produk di Toko juga banyak yang tulisannya recycle. Produk-produk itu umumnya murah. Tissue buat makan atau closet juga hasil recycle.

5. Banyak reaktor Nuklir
Di Amerika banyak sekali pusat tenaga nuklir (mungkin tiap kota ada). Saya jadi aneh kalo denger orang-orang Indonesia berteriak anti nuklir. Yang saya tau nuklir merupakan sumber energi paling efisien. Mungkin akan saya jelaskan di lain tulisan kalo dapet info lebih lanjut kenapa di Amerika bisa banyak reaktor nuklir.

6. Tidak ada Strata Sosial
Di Amerika saya lihat tidak ada strata sosial. Mau tukang sampah, pelayan, pegawai, dosen, mahasiswa. Semua status bisa ngomong enak dan terkesan keren semua pekerjaan di Amerika. Disini pemungut sampahnya juga keren-keren dan bersih-bersih. Dari penampilan mereka juga sebersih dosen ataupun mahasiswa. Mahasiswa juga berlomba-lomba jadi pelayan. Mungkin kita perlu bertanya, kenapa ada strata sosial di Indonesia.

14

Itu dulu yang bisa saya share. Tunggu yang review lainnya.

Melewati Batas Waktu

Posted by: achmadzaki on: January 6, 2009

Yah…akhirnya saya bisa melakukan studi komparasi terhadap negara-negara lain dengan Indonesia. Perjalanan kemarin bener-bener mengajak otak ini untuk membandingkan apa-apa yang saya lihat di luar negeri dengan di Indonesia. Tujuannya jelas, biar lebih objektif dalam memandang sesuatu masalah di Indonesia.

Singapore adalah negeri pertama yang saya kunjungi. Walaupun cuma transit 7 jaman, tapi kunjungan ini cukup untuk mengetahui bagaimana singapore. Negeri kecil ini menarik. 40an tahun yang lalu negeri ini seperti tidak ada dalam peta, dan miskin. Tapi sekarang, kondisinya sangat berbeda. Negeri ini menjadi hub bagi negeri-negeri di sekitarnya termasuk INdonesia. Beberapa sekelompok elit (Termasuk Lie Kuan Yew) telah merekayasa pulau kecil ini menjadi pulau yang so amazing. Di bandara Cangi, saya benar-benar terkagum dengan kehidupan ekonominya. Anggap saja kehidupan ekonomi di Cangi menggambarkan kehidupan ekonomi di SIngapore. Semua barang ko rasanya laku dan fasilitas-fasilitas canggih di negeri ini juga rasanya bisa sustain. Jadi bertanya-tanya, bagaimana sistem seperti ini dibangun. Pasalnya, kalo kita bayangin di Indonesia, ngerun bisnis (terutama bisnis berteknologi canggih) aja susahnya minta ampun dan cenderung tidak sustain. Kalopun sustain untungnya juga ga seberapa. Yang menarik dari negeri ini adalah keanekaragaman bangsa-bangsanya. Tentunya kita semua tahu kalo singapore bukanlah negara bangsa, tapi negara berbangsa-bangsa layaknya Indonesia. Selalu ada aja di bandara ini yang bisa bahasa melayu. Jadi kalo ngobrol ma orang-orang singapore susah, mereka umumnya pake melayu. Oh ya fasilitas-fasilitas di singapore juga memanusiakan. Ga bakalan boring deh di Cangi walau seharian (kalo di Indonesia pasti boring deh), karena ada wahana-wahananya. Yang aku tau si internet gratis (banyak orang mengautiskan diri berdiri di depan komputer situ), trus buat anak-anak juga ada maenan, musholanya juga rasanya justru lebih bagus disini daripada di Indonesia.

Sekarang bertolak ke Narita di Jepang. Kemajuan bangsa ini terjadi terutama setelah restorasi meiji. Apa yang terjadi dalam restorasi ini menurut saya adalah transfer pengetahuan besar-besaran dari barat ke Jepang. Selama di bandara itu, saya belum menemukan orang jepang yang lancar berbahasa inggris. Kalo ditanya pake bahasa inggris pasti mereka menghindar. Tapi walaupun begitu, buku-buku jepang bejibun dimana-mana. Masyarakat jepang saya temukan banyak yang meluangkan waktu idle mereka membaca buku-buku berbahasa jepang. Mungkin ini menguatkan hipothesis bahwa kemajuan jepang setelah restorasi karena transfer knowledge lewat terjemahan buku-buku dari barat ke bahasa jepang (tidak seperti kemajuan India dengan pendekatan penggunaan english oleh masyarakatnya). Oh ya, orang jepang juga cenderung malu-malu saya lihat. Kalo ditanya ga se-excited orang-orang Amerika. Yang menarik dari jepang adalah kentalnya budaya lokalnya. Berbagai macam produk budaya di jual di bandara narita. Rasanya lebih beraneka ragam dari produk budaya Indonesia. Masalah lingkungan, jepang juga saya lihat sangat aware (lebih dari singapore apalagi INdonesia). Itu dilihat dari sistem persampahan di bandara itu. Semua produk sampah dibedakan, bahkan ada tempat khusus cairan yang terhubung mungkin sistem terpusat khusus untuk sampah cairan. Jadi kalo buang botol atau gelas minuman harus membuang isinya dulu ke dalam kolom cairan baru botolnya ditaruh di kolom tong sampah botol. Menariknya sistem seperti ini run well (bisa bayangin lah kalo di Indonesia ada sistem seperti ini), karena dari orang yang masukin sampah yang saya amati mereka benar-benar mentaati sistem persampahan tersebut. Yah…sepertinya bangsa kita harus belajar dari mereka tentang persampahan.

Perjalanan selanjutnya adalah dari Narita ke San Francisco. Ini untuk pertama kalinya saya mengalami fenomena menembus batas waktu berjalan mundur. Batas waktu itu ada di tengah-tengah lautan pasific. Jadi waktu yang tadinya tanggal 4 malem tiba-tiba jadi pagi tanggal 4. Langsung deh bingung, gimana yah sholatnya? soalnya magrib ma isya untuk tanggal 4 dah di jama di Jepang. Apakah tanggal 4 pagi di Amerika harus sholat lagi? hm..mungkin ini pertanyaan buat ahli-ahli fiqih di PPSDMS (aaf, aji, dkk).ha..ha..Temen-temen saya soalnya pilih ga sholat karena sudah sholat tanggal 4. Tapi logika pribadi saya mengatakan, saya harus sholat karena menyesuaikan waktu setempat. Lagipula ga ada yang overlap, habis magrib dan isya di jepang, langsung subuhan di lautan pasific, dan itu aku itung-itung waktunya sama dengan kalo saya berdiam diri di jepang (tapi next day). Cukup sulit menemukan tempat sholat di SF. Setelah tanya-tanya si emang ga ada, jadi harus sholat di tempat umum. But it’s ok. It’s my right. Kita semua tahu negari Amerika paling menghormati hak-hak individu (walau kadang anomali terkait kasus iraq, afganistan, dan palestine). Masuk negeri Amerika juga banyak neko-neko nya. Semua masyarakat dunia yang masuk Amerika harus discreening dulu. Mereka tercatat dalam database Homeland Security. Keluarpun sama, harus discreening wajah lagi untuk memastikan bahwa kita sudah keluar dari negeri ini. Yang menarik dari proses screening ini adalah perlakuan yang sedikit diskriminatif terhadap masyarakat muslim. Kita semua harus melalui proses secondary inspection. Lewat proses ini, kita ditanya-tanya macem-macem, dan penanyanya cenderung kurang ramah. Salah satu penanyanya ada yang bilang gini “Every people from Moslem country must go here, you know!”. Sial!! (dalam hati) curigaan amat mereka. Menurut saya, selama perlakuan pemerintah Amerika terhadap masyarakat muslim seperti ini tidak dirumah gap antara dunia muslim dan amerika akan semakin besar (seperti juga diceritakan Huntington dalam Clash Civilization). Yang menarik dari masyarakat (saya sebut masyarakat karena memang tidak ada bangsa Amerika) Amerika adalah mereka supel terhadap orang-orang disekitarnya. Mereka cenderung melihat orang-orang disekitarnya. Yang pasti kalo papasan dengan mereka umumnya mereka melihat kita, trus kalo kita lihat mereka pasti mereka bilang “Hii!!” (tidak seperti di jepang kalo kita lihat orang jepang malah mereka yang menghindar). OH ya, di bandara FS banyak orang FIlipinanya. Mereka umumnya jadi tukang bersih atau penjaga. Keheranan saya tentang fenomena filipino ini terjelaskan setelah saya bertanya ke salah satu dari mereka. Mereka bilang dulu nenek moyangnya ada yang kerja disini, trus dia ngajak-ngajak orang filipino lainnya. Krena orang filipino lebih mudah menguasai bahasa inggris jadi lebih mudah kesininya, walaupun dia bilang harus berjuang 15tahun untuk mendapatkan greencard (surat ijin kerja dan tinggal di Amerika). Beberapa temannya belum mendapat greencard sampe sekarang. Aku lihat, bangsa filipino menduduki strata bawah di Amerika ini (jadi jongos, dsb). Tidak seperti bangsa China (umumnya administrasi) dan juga India (jelas professional IT).

Flash Back!!!

Posted by: achmadzaki on: December 24, 2008

Kemarin seharian kegiatannya bersih-bersih segalanya untuk siap-siap hengkang dari Bandung. Bersih-bersih ga hanya kamar dan juga barang-barang tetapi juga termasuk data-data digital. Awalnya niatnya emang ngrapiin folder ma ngapusin semua file yang ga penting. Tapi jadinya malah nostalgia ngliatin file-file jadul. Salah satunya bacain artikel buatanku tiap bulan dan beberapa essay buat Mapres, lomba, atau seminar (jadi bangga pada diri sendiri..ha..ha.). huff…setelah baca-baca tu artikel jadi mikir2..perasaan dulu aku ga hobi nulis deh bahkan ga bisa sama sekali. Mungkin salah satu sohib saya fajrin tau gimana aku 2 tahun lalu. Benar-benar ga bisa nulis. Kalo ada tugas nulis ma beliau, pasti beliau yang ngerjain, bukan aku.

Oh ya selain aku baca-baca hasil tulisanku selama dua tahun terakhir, juga aku rapihin ma aku pdf in trus aku upload deh di scribd.com. Yeah…Buat yang pengin baca-baca bisa diakses disini. Ini contoh artikel tulisanku di scribd.com :

Well, akhirnya jadi kemana-mana deh, dari tadinya bersih-bersih trus nostalgia, jadi mengkoreksi diri dan berkontemplasi. Kebetulan pas banget akhir tahun jadi ntar sekalian bikin resolusi untuk tanggal 1 Januari. Kalo dipikir-pikir kenapa aku bisa ngasilin tulisan itu karena perubahan orientasi hidup. Pertama masuk ITB perasaan dulu kerjaannya belajar mulu (sampe dapet IP 4 bo..sambil nangis2…). Bahkan seminggu sebelum ujian di kamar terus kerjaannya. Tapi 2 tahun kemudian (Terutama setelah bercengkrama dengan 3 saudaraku ilham, fajrin, ma aji di asrama) kebiasaan itu berubah. Jadi deh melakukan banyak hal di luar kegiatan akademik. Bahkan sudah berani bolos ma tidur di kelas (sering sekali). Kegiatanku habis di luar, mulai dari bisnis, jalan-jalan, kongkow2 ma temen-temen eclub, moderatorin, ngisi seminar, diskusi, kajian, nulis, dll. Tapi it’s ok, aku dapet banyak banget dari kegiatan itu walaupun ada yang dikorbanin. Aku mikir, “Aghh..akademik dah dapet di 2 taun di awal, saatnya mengasah softskill”. Kalo teori dari Prof fajrin, softskill tu ga penting sekarang, tapi besok kalo dah di posisi puncak. Ada benernya juga, tapi sekarang jadi ga punya hardskill deh dimana sangat dibutuhkan buat freshgraduate, kemampuan coding melemah, ketinggalan teknologi IF, ga ngerti pelajaran IF, dll. Ini juga sekaligus menjadi bahan kontemplasi untuk membuat resolusi.

Kalo taun 2008 kemarin resolusiku ada 4 poin besar, berikut evaluasinya :
1. Pergi ke US, Ga tau kenapa harus US tujuanku. Seneng aja sih tiap hari sering dengerin kuliah di ted.com jadi pengin kesana. Tadinya narget berangkat lewat kompetisi ThinkQuest-nya Oracle, secara dah optimis bakalan lolos. Tapi ternyata kelompokku di diskualifikasi. Yah, yang namanya mimpi emang kunci (kata nidji). Mimpiku buat ke US akhirnya kesampean lewat jalur laen. Ada 2 malah, beasiswa IELSP ma HNMUN 2009.
2. Menang 1 lomba lagi (secara waktu itu masih dikejar-kejar PPSDMS buat berprestasi..he..he..), Ini juga sangat terukur karena dah narget menang untuk LCEN. Lagi-lagi mimpiku hangus setelah gagal hanya sebagai finalis di LCEN ITS. Akhirnya, menang 1 lomba laginya kejadian beneran lewat kompetisi INAICTA walaupun cuma dapet Merit Award.
3. Sudah ada bisnis running well, Yah waktu bikin ni poin sebenernya bisnisnya sudah dirintis yaitu jualan pakaian di solo. Bisnis seperti ini resikonya cukup kecil, itulah kenapa target capaian ku cuma running well. Buat passive income ajah. Untuk poin ini juga tercapai, alhamdulilah juga bisa menghidupi beberapa orang.
4. Beli rumah, ini bisa dibilang nekad karena rasa cinta diriku pada keluargaku yang pengin punya rumah di jakarta. Tapi untuk taun ini rasanya belum berhasil, karena project mobile surveyor ku gagal. Itung-itunganku kalo project itu goal, bisa deh jadi beli rumah. Tapi analisis ku meleset, banyak kekurangan dari apa yang aku kerjakan. Yang pasti poin ini tetap menjadi resolusi untuk 2009. Bales dendam ni keknya…ha..ha..sudah mempersiapkan bisnis baru lagi. Semoga dari US banyak inspirasi.

Dari penjelasan di atas kurumuskan satu resolusi untuk tanggal 1 januari nanti, yaitu punya hardskill dimana aku bisa menekuninya dan menjadi master disitu. Ini juga sekaligus pembuktian setelah baca sekilas resensi buku baru Malcolm Gladwell, Outliers, yang menyatakan “butuh 10.000 latihan untuk menjadi master di bidangmu”. Tapi ukuran kesuksesan resolusi ini masih samar, yang kepikiran sih, menjadi rujukan orang-orang, diundang seminar untuk training hardskill itu, nulis di majalah tentang hardskill itu, ma ngeluarin buku mungkin.

Phone Charging Service, Business Opportunity

Posted by: achmadzaki on: December 23, 2008

Long ago, I had problem that my phone battery was empty. I was at Gambir Station Jakarta. I confused because I must call someone. But, I was safed by masjid keeper when I would get to pray. He asked me about charging service. I don’t believe it at first, he showed all of Phone Charger type that he has. He charged me 3000 IDR per phone charging. That’s great idea I think.

I call this as business opportunity. Imagine that all people using mobile phone now. They are huge potential market. I also saw many other client of him when i was charging my phone. In my humble opinion I think this business must be tried.

But if we talking about new entrants, it will be huge if you run this business. Because there is too easy for your competitor to get phone charger. They will be you potential competitor. This make it don’t have competitive advantage. However, it is great idea…

Rasional Emosional

Posted by: achmadzaki on: December 22, 2008

Dua hal tersebut sering melingkupi kehidupan kita kesehariannya. Kadang kita harus dipaksa memanfaatkan emosi (dalam arti netral) kita pada kondisi tertentu. Kadang pula kita harus dipaksa memanfaatkan rasionalitas berpikir kita. Kenapa saya membahas masalah ini? Ini penting karena menyangkut kemajuan hidup. Kalo kita tanya lagi, ada masalah apa si dengan 2 hal tersebut? Ya, Sebenarnya masalahnya ada pada penempatan dua hal tersebut yang kadang oleh sejumlah orang kurang proporsional. Dua hal tersebut bagai pisau bermata dua. Mereka bisa bersifat konstruktif atau destruktif tergantung pada kita menempatkan mereka dimana.

Tidak sedikit saya melihat beberapa temen memanfaatkan emosinya secara berlebihan daripada rasionalnya. Sebagai contoh, ada temen saya yang lagi semangat-semangatnya melakukan wirausaha. Saking semangatnya seluruh keputusan diambil dengan cepat dan menurut saya cenderung emosional dan kurang rasional. Analisis terhadap bisnisnya menjadi kurang tajam dan akhirnya bisnisnya gagal. Walaupun gagal ia masih tetep bangga dengan kegagalannya sebagai wirausaha, yah maklum yang digunakan adalah faktor emosionalnya. FYI, Ga tau kenapa sekarang terjadi perubahan persepsi masyarakat dimana banyak dari mereka sekarang yang bangga menjadi wirausahawan(walaupun itu gagal).

Tidak sedikit pula saya melihat temen yang lebih banyak memanfaatkan rasionalitas akal mereka. Sebagai contoh terjadi pada event kumpul2, makan2, nonton di organisasi misalnya. Tidak sedikit dari mereka yang cenderung menghindar dari acara2 seperti ini (temu akrab, drama, band). Mereka menganggap kegiatan seperti ga penting (berdasarkan rasional mereka), buang-buang waktu, bahkan ada yang mengeluarkan isu hedonisme atas kegiatan-kegiatan tersebut. Cara pandang seperti ini cenderung kurang proporsional menurut saya dan cenderung destruktif. Kenapa sih destruktif? Bayangkan sebenernya dari kegiatan-kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas banyak melibatkan emosional-emosional kita. Dengan sering kumpul dengan temen-temen kita atau pentas bareng temen-temen kita ikatan emosional kita akan terbangun walau sampai tua nanti. Percaya atau enggak ikatan emosional dan sifat emosional kita terhadap temen dan orang di sekitar kitalah yang membawa kita kekesuksesan. Dalam buku “connected” juga dijelaskan bagaimana hubungan emosional kita dengan temen-temen kita sebanyak-banyaknya pada masa sekarang bisa sangat membawa keuntungan di masa yang akan datang. Jelas bermasalah apabila ada orang yang cenderung menghindar dari kegiatan-kegiatan seperti ini.

Lalu bagaimana mensikapinya. Dimana-mana sifat moderat dan proporsional selalu mendapatkan tempat daripada sifat yang berat sebelah (extrem) kanan atau kirim. Jadi kuncinya bagaimana kita bisa menempatkan kedua hal tersebut secara proporsional sesuai dengan tempatnya. Emosional digunakan untuk membina hubungan dengan lingkungan kita, rasional digunakan untuk memproses keputusan kita benar atau tidak. Mungkin itu juga kenapa dulu EQ begitu booming…baru sekarang saya nyadar…

Bisnis Social Networking = Hoax?

Posted by: achmadzaki on: December 9, 2008

Social Networking baru-baru ini seakan menjadi tren bisnis. Di Indonesia beberapa bisnis social networking juga sudah diinisiasi seperti temanster, akucintasekolah, fupei walaupun semuanya mati, kalah dengan friendster dan facebook. Selain itu, dunia dikejutkan dengan perintis Facebook yang menjadi anak muda terkaya di Amerika baru-baru ini. 1,6% sahamnya dinilai 240juta USD oleh Microsoft. Itu berarti facebook bernilai sekitar 15miliar USD (150 triliun rupiah). Seolah-olah ini menjadi fakta yang semakin memantapkan kalau social networking menjadi bisnis masa depan. Tapi tunggu dulu, apakah ini benar? apakah nilai facebook sebesar itu pantas? Semoga tulisan ini memberikan sudut pandang lain.

Pendapatan terbesar yang diperoleh dari bisnis dotcom sebagian besar berasal dari iklan online. Model bisnis inilah yang juga menjadi andalan social networking seperti friendster, Myspace, dan facebook. Dengan model bisnis seperti itu pula Google bisa menghasilkan 16miliar USD (160 triliun rupiah) setiap tahunnya. Jumlah pengunjung unik google setiap bulan adalah sekitar 140juta. Ini sangat berbeda dengan MySpace dengan pengunjung unik setiap bulan 70juta tapi hanya mendapatkan pendapatan 100juta USD (1 triliun rupiah). Kenapa ini bisa terjadi? Mungkin grafik dibawah ini bisa menjelaskan :

Online Ads Spending

Online Ads Spending

Pada grafik di atas terlihat pengeluaran iklan untuk social networking menurun relatif terhadap kenaikan pengeluaran iklan online secara keseluruhan. Analisa menarik dari para pakar yang bisa menjelaskan fenomena ini adalah celah dari social networking itu sendiri. Pernahkah anda menyadari jika anda menggunakan facebook atau friendster mata anda disibukkkan dengan aktivitas anda dengan teman-teman virtual anda, dengan komentar yang ada di wall anda, dll. Tingkat awareness pengguna social networking terhadap iklan sangat kecil. Data menyebutkan sekitar 0.04% pengunjung mengklik iklan online tersebut. Berbeda dengan google dengan tingkat klik 2% bahkan bisa lebih besar jika pengguna melakukan pencarian tertentu. Di google, orang memang sedang mencari informasi, bukan untuk bermaen-maen seperti di social networking. Ini menjadikan perusahaan-perusahaan malas untuk beriklan di situs social networking. Saya rasa model bisnis social networking perlu dikembangkan sehingga tidak hanya iklan saja. Bisa jadi transaksi online seperti ebay (sepertinya facebook rada condong kesana).

Kesalahan yang umum dilakukan pengusaha pemula

Posted by: achmadzaki on: December 5, 2008

Tulisan ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi (karena saya banyak gagalnya..he..he..) dan juga dari pengamatan temen-temen (kebetulan lingkungan juga kalangan entrepeneur dan mereka beberapa ada yang gagal juga ternyata). Tulisan ini juga dibuat untuk memenuhi kebutuhan wirausaha. Karena satu hal yang saya suka dari seorang wirausaha adalah jangkauan belajarnya yang sangat luas. Saya harap tulisan ini juga bisa dijadikan pelajaran bagi mereka sehingga tidak mengulang kesalahan yang telah dilakukan oleh orang-orang yang telah salah. Saya percaya dunia entrepreneurship yang selama ini dianggap sebagai seni (sesuatu yang ga teratur) bisa dikristalkan menjadi sebuah pengetahuan, yaitu sesuatu yang memiliki pola/pattern teratur sehingga bisa dipelajari.

1. Melakukan segalanya sendiri (single fighter)

Di awal menjalani kehidupan berwirausaha saya punya sifat seperti ini. Mungkin juga karena lagi semangat2nya dan idealis2nya. Entah kenapa teman-teman saya wirausaha pemula juga beberapa melakukan hal ini dan mereka sepertinya gagal juga. Analisis saya kenapa orang melakukan wirausaha sendiri gagal adalah mungkin karena mereka jarang melihat sudut pandang lain. Setiap mengambil keputusan mereka menggunakan sudut pandang pribadi. Padahal kalo ilmu masih cetek keputusan tersebut cenderung salah. Tapi ada juga yang wirausaha sendiri berhasil. Temen-temen saya yang berwirausaha sendirian (single fighter) berhasil umumnya mereka memiliki sifat berikut : supel, banyak teman, humble. Analisis saya lagi, mungkin dengan sifat inilah mereka mendapatkan banyak masukan atau sudut pandang lain sehingga keputusan-keputusan bisnisnya kemungkinan besar tepat. Oh ya, saya ga percaya kalo dikatakan wirausaha hebat punya intuisi, yang ada adalah mereka tekun dan terus belajar dari apa yang ada di sekitarnya. Ini yang saya rasakan.

2. Salah memilih bidang bisnis
Lagi-lagi ini pengalaman bisnis saya juga. Tapi lagi-lagi beberapa temen yang gagal saya amati juga demikian. ketepatan memilih bidang bisnis menurut saya cukup urgent. Kenapa sih bidang bisnis yang dipilih harus tepat? jelas, ini menentukan sustanability bisnis. Mereka yang berbisnis dengan market yang kecil, banyak kompetitor, dan juga jenuh umumnya kurang sustain. Bisa aja si diawal sukses, tapi kalo bicara masalah sustanability kita bicara jangka panjang. Ada juga yang tahu mereka salah memilih bidang bisnis, kemudian mereka expand ke bisnis yang memiliki rantai nilai tak jauh dari bisnis sebelumnya. Oh ya, ini asumsi kalo sukses bisnis dinilai dari banyaknya revenue yang didapat. Kalo anda menilai sukses bisnis karena bisnis tersebut survive bisa jadi anda punya pandangan lain dengan saya. Contohnya menyikapi orang-orang yang motivasi bisnisnya karena kesenangan/passion. Bisnis distro, indie band, atau game indie. Tapi ada juga yang sukses dalam dua sudut pandang itu. Mereka berawal dari passion dan mereka sukses secara revenue. Analisis saya, mereka sukses karena pas memilih bidang bisnis atau pas pasar sedang mengarah kesitu (terjadi pergeseran asumsi di masyarakat), contohnya terjadi pada industri distro. Walaupun menurut saya, teori ‘passion’ atau ‘lentera hati’ yang pernah disiarkan di kick andy masih bisa menjadi perdebatan. Jujur, saya pribadi bisa menciptakan passion terhadap apapun disekitar saya. Kurang tau kalo temen-temen lain.he..he..

3. Terpaku pada hasil/Uang
Sungguh di dunia ini tidak akan ada hasil tanpa melalui proses yang cerdas, efektif dan bermutu. Saya suka mengkritik motivator-motivator yang suka menggambarkan betapa mudahnya sebuah kesuksesan (terutama orang-orang di bisnis MLM). Seolah-olah hasil tersebut bisa didapatkan hanya dalam sekejap tanpa proses yang cerdas, efektif dan bermutu. Jelas ini filosofi yang menyesatkan. Apalagi kalo framework seperti ini kita gunakan terus dalam dunia bisnis atau misalkan jadi professional. Yang ada walaupun sukses tapi caranya sangat merugikan orang lain dan cenderung tidak adil. Tentu ini tidak baik bagi peradaban dunia ini (halah ngomongnya ko uda peradaban aja..). Lalu kenapa sih orang yang terpaku pada hasil bisa gagal berwirausaha? umumnya yang saya lihat mereka tidak terpaku pada proses. Porsi berpikirnya banyakan hasil daripada proses itu sendiri. Inilah yang membuat mereka gagal. Semacam mimpi tanpa diimbangi eksekusi yang bermutu. Hati-hati untuk para mahasiswa, kadang sikap idealisme sering menjerumuskan pada sikap seperti ini. Makanya sikap idealisme harus diimbangi dengan sikap realisme dan juga konkritisme agar eksekusi atas semua idelisme kita berjalan mulus.

Itu saja beberapa poin penting yang saya amati, mudah-mudahan temen-temen lain yang punya sudut pandang lain bisa menambahkan dengan menjawab pertanyaan, “Kenapa sih anda gagal bisnis?” agar bisa menjadi pelajaran bagi orang lain.

The next internet economy

Posted by: achmadzaki on: November 29, 2008

Baru aja ngisi diskusi tentang internet economy yang diselenggarakan oleh ShARE ITB. Biar yang lain juga ngrasain manfaat dari diskusi ini berikut ini saya share slidenya :

Internasionalisasi KeIndonesiaan

Posted by: achmadzaki on: November 26, 2008

Baru pertama kali saya kemarin mengikuti ajang kompetisi internasional (Asia Pasific ICT Award). Ada fenomena menarik yang saya lihat ketika bangsa Indonesia dihadapkan dengan bangsa lain, yaitu sifat keIndonesiaan yang masih sangat kental dan tidak proporsional. Saya lihat sepintas ciri khas seperti ini cenderung destruktif di tengah masyarakat dunia yang semakin mengglobal.

Salah satu cirikhas yang bisa dilihat dari penamaan karya software yang mengikuti kompetisi kemarin. Semua nama software dari berbagai negara bahkan srilanka, vietnam, filipina (yang notabene kualitasnya di bawah Indonesia) menggunakan bahasa Inggris yang mudah dimengerti. Begitu orang membacanya paham apa software tersebut. Sedang Software Indonesia tidak demikian, mereka memberi nama aplikasinya dengan awalan SI (Sistem Informasi), ada SIPAMOR, SIAP, dll. Saya tidak tahu apa yang orang luar negeri pikirkan ketika mendengar nama-nama seperti ini. Tentunya ini cukup berpengaruh dari sisi marketing.

Setelah saya telusuri, sifat demikian ternyata tidak terjadi di dunia software, melainkan juga persepakbolaan. Di Indonesia ada Persib, Persija, Persikabo, Persijatim, dan per-per lainnya. Yang terpenting lagi adalah penamaan organisasi pemerintahan atau komunitas bisnis. Dalam dunia software sendiri ada Asosiasi Piranti Lunak Indonesia (ASPILUKI), dimana organisasi lain menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dunia Internasional, contoh Pakistan, PASHA (Pakistan Software House Association). Walaupun menurut shakesphere “apalah arti sebuah nama”. Tapi setidaknya ini menunjukkan belum siapnya masyarakat Indonesia menghadapi percaturan global. Selain contoh-contoh di atas saya kira dengan mudah masih banyak contoh-contoh lagi ciri khas keIndonesiaan yang cenderung destruktif. Rasanya kita harus mulai membumikan “Think Globally, Act Globally”.

Kompetisi IT dan karakteristiknya

Posted by: achmadzaki on: November 8, 2008

Di penghujung masa kuliah ini saya ingin berbagi tentang pengalaman saya mengikuti kompetisi IT.  Saya akan memaparkan analisis saya tentang berbagai kompetisi IT tahunan yang ada di Indonesia, terutama tentang karakteristik dari masing-masing  kompetisi tersebut. Harapannya mahasiswa yang ingin mengikutinya bisa mempersiapkan diri dan menyesuaikan dengan karakteristik tersebut. Karena tak jarang saya lihat teman-teman yang memiliki potensi untuk menjuarai kompetisi tidak lolos hanya karena tidak memahami karakteristik lomba tersebut, rasanya ini kurang adil. Namun pada umumnya kompetisi IT yang ada memang menguji kemampuan IT mahasiswa, hanya saja memang dibutuhkan kemampuan lain mungkin, salah satunya memahami karakteristik kompetisi tersebut. Buat temen-temen pembaca yang merasa pernah mengikuti lomba-lomba di bawah ini dan merasa tidak cocok dengan analisis saya silakan dikoreksi dan dikomentari karena ini sangat subjektif berdasarkan yang saya alami. Semoga bermanfaat bagi yang lain.

Imagine Cup
Kompetisi ini merupakan kompetisi mahasiswa internasional yang diadakan oleh Microsoft. Bidangnya tidak hanya IT, ada juga Perfilman, Desain, Game, dan juga uji pengetahuan/wawasan teknologi microsoft. Bisa dibilang kompetisi ini paling bergengsi di mata jurusan saya (Informatika ITB). Saya tidak tahu apa sebabnya, tapi kemungkinan karena setiap tahun jurusan kami selalu menjuarainya jadi adik-adik tingkatnya menganggap kesempatan menang terbuka lebar.Sebenarnya bukan karena kaka tingkatnya menjuarai lantas ada semacam penurunan tahta kemenangan. Yang ada menurut saya transfer pengalaman yang sudah menang jadi mudah karena dekat satu jurusan. Inilah yang akan saya lakukan dalam artikel kali ini agar informasi merata. Disini saya hanya akan membahas kategori Software Design (juga kategori paling bergengsi dan paling gede duitnya).

Imagine Cup Software Design bisa dibilang menguji semua kemampuan baik IT ataupun softskill. Untuk kemampuan IT cenderung lebih ke kemampuan coding bahasa pemrograman yang mendukung Teknologi Microsoft entah itu menggunakan Visual Studio atau CASE Microsoft lainnya. Sedangkan kemampuan softskill yang dibutuhkan adalah desain interface (cukup dominan), komunikasi dalam bahasa inggris dan juga kreativitas. Perlu diperhatikan, kecanggihan teknologi tidak akan menjadi penilaian dalam kompetisi ini. Banyak stigma beredar bahwa canggihnya teknologi menjadi komponen penilaian (kalo di level international mungkin iya), padahal tidak.  Kreativitas menelurkan ide dan juga analisis yang tajam terhadap kebutuhan akan penyelesaian masalah merupakan komponen penting. Tapi ini masih kurang tanpa desain antar muka software yang bagus (lux) dan juga kemampuan mempresentasikan dalam bahasa inggris. Bisa dibilang 3 komponen ini sama-sama berat. Saya melihat temen-temen yang idenya bagus tapi banyak yang gagal karena desainnya jelek (bahkan jurinya bilang begitu). Ada juga yang cukup aneh, analisis software akan penyelesaian masalah sangat kurang tapi desain antar mukanya bagus justru bisa lolos ke babak selanjutnya (walaupun tidak menang juga akhirnya). Jadi silakan dipikirkan sendiri 3 komponen tersebut : ide, desain, dan juga presentasi dalam bahasa inggris. Bagi saya, ketiganya sama-sama berat bobotnya. Oh ya peringatan, jangan sampai menggunakan teknologi lain diluar teknologi Microsoft kalo ikut kompetisi ini.

Indosat Wireless Innovation Contest (IWIC)
Kalo gengsi dinilai dari besarnya hadiah sebenarnya kompetisi ini paling bergengsi di Indonesia. Dulu ada 2 bidang dalam kompetisi ini, yaitu hardware dan software tapi sekarang hanya 1 bidang lomba saja yaitu software. Jadi yang akan dibahas disini hanya Software saja. Kompetisi ini mencoba menguji kemampuan kita dalam bidang wireless terutama pemrograman mobile. Bisa itu PDA, Handphone atau perangkat mobile lainnya. Tapi yang pasti Indosat harus dilibatkan dalam aktivitas aplikasi mobile yang anda buat. Banyak temen-teman yang ikut kompetisi ini saya lihat tidak melibatkan Indosat dalam penerapan aplikasinya jika sudah jadi nanti. Misalkan bikin game atau software mobile yang tidak memangkas pulsa penggunanya. Ada 2 tahap dalam kompetisi ini untuk menjadi pemenang, yaitu proposal dan juga presentasi produk. Pada tahap proposal panitia akan menyeleksi ide kita. Karena mereka melihatnya dalam tulisan, usahakan anda menjelaskan proposal anda sesingkat mungkin dan sejelas mungkin. Mungkin anda bisa menggunakan gambar-gambar atau grafik yang menarik.

Pada tahap 2 barulah karya anda dinilai. Perlu diketahui anda dibolehkan sekali menggunakan prototipe disini tidak harus membuat aplikasi yang sesungguhnya menggunakan bahasa pemrograman. Ada yang pernah mendapatkan juara dengan hanya menggunakan animasi Flash. Yang penting adalah analisis kebutuhan produk dan kreativitas anda.

Lomba Cipta Elektronik Nasional (LCEN) telematika
Sama seperti IWIC, kompetisi ini juga dibagi dalam dua tahap, yaitu proposal dan juga presentasi produknya. Lagi-lagi, karena bentuknya proposal anda harus menjelaskan dengan sejelas-jelasnya tentang ide anda. Berbeda dengan IWIC, kompetisi ini lebih luas ranahnya dan juga lebih akademis. Karena mereka tidak hanya menilai kebermanfaatan produk anda saja tetapi juga menilai kerumitan dan aspek teori dari produk anda, untuk itu usahakan judul anda seilmiah mungkin. Mereka yang lolos pada babak kedua akan diwajibkan untuk merealisasikan idenya (kalau tidak direalisasikan didenda). Untuk itu penting bagi anda yang mau ikut kompetisi ini memikirkan bahwa idenya bisa direalisasikan. Tidak sedikit dari peserta yang tidak bisa merealisasikan idenya.

Indonesia ICT Awards (INAICTA) Student Project Category
Ini merupakan kompetisi yang diadakan oleh pemerintah melalui depkominfo. Pemenangnya selanjutnya akan diajukan ke kompetisi Asia Pasific.  Kompetisi ini juga terdiri dari 2 tahap yaitu dokumen dan juga presentasi. Yang paling penting pada tahap dokumen adalah ide anda terkait aspek keunikan dan juga fitur-fiturnya. Pada tahap presentasi poin yang cukup besar adalah cara presentasi anda sendiri, termasuk dalam hal ini menjawab pertanyaan. Selain itu aspek kebermanfatan dan kualitas software dalam menyelesaikan masalah juga komponen penilaian yang teramat sangat krusial. Kalau bisa buatlah dewan juri terpukau pada 5 menit pertama. Tunjukkan juga demonstrasi aplikasinya.

Itu saja kompetisi-kompetisi IT di Indonesia yang berhasil saya petakan setelah mengikutinya secara langsung. Mudah-mudahan bermanfaat dan yang paling penting ada quote dari saya. “Kemenangan dalam suatu lomba tidak mencerminkan sebuah universitas bagus atau tidak, yang menentukan adalah bagaimana kontribusi lulusan universitas tersebut dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang ada”.