zaQ corner

Dalam sejarah peradaban jawa, seorang empu sangat terhormat sekali kedudukannya dalam strata sosial. Dialah orang yang bisa menciptakan sesuatu mahakarya keris yang menjadi barang berharga dan barang yang harus dimiliki pada zamannya. Hampir semua memiliki keris, tak lain untuk berperang. Tetapi, hanya empu terbaiklah yang bisa membuatkan keris spesial untuk sang raja.

Tidak gampang untuk menjadi seorang empu. Ia harus kuat menempa besi-besi untuk membentuk sebuah keris. Mereka juga harus tekan, salah sedikit saja, mungkin mereka harus melebur ulang dan menempa lagi besinya untuk mendapatkan bentuk yang ia inginkan. Selain itu, Ia juga harus memahami teknologi pembuatannya yang cukup rumit. Mulai dari teknologi material, mekanik pembuatannya, sampai dengan hukum-hukum energi. Hingga terciptalah sebuah keris yang kuat dan presisi.

Keris bagi peradaban jawa saat itu bukanlah sekedar senjata, melainkan juga sebuah mahakarya seni. Untuk itu selain memahami teknologi pembuatan keris agar keris kuat dan presisi, seorang empu juga harus kreatif. Mereka bertapa di tempat-tempat asing untuk berproses kreatif, mendapatkan ide dan inspirasi. Saat itu bertapa memang tools terbaik untuk memperoleh ide. Memang masuk akal, zaman dulu belum ada kertas yang berisi gambar, televisi, atau bahkan internet yang semuanya sering menjadi tools bagi kita untuk mencari ide atau inspirasi.

Sekarang keris memang kalah jauh dengan Honda, Ikea, Apple, dll. Empu pembuat keris memang telah ‘mati’, tapi ‘E.M.P.U’ tidak akan pernah mati. Akan senantiasa terlahir ‘E.M.P.U’ baru layaknya Honda, Ingvar Kamprad, Steve Jobs, dll. Merekalah empu-empu di zaman kita sekarang ini. Mereka tekun dan pekerja keras. Mereka berpengetahuan dan memahami teknologi pembuatan produk. Mereka juga ‘bertapa’, dengan melihat-liat apa yang sudah ada dan mereka mencoba membuat sesuatu mahakarya baru. Mahakarya yang membuat kita semua terkesan. Merekalah E.M.P.U.

Dulu sewaktu mahasiswa, terlintas anggapan bahwa ide dalam sebuah bisnis adalah segala-galanya. Sampai-sampai saya pernah ketakutan kalau ide saya dicuri orang lain. Sehingga urung mengungkapkan ide tersebut ke orang lain yang berakibat ide saya ga pernah dapet feedback. Lagipula ide hanya akan menjadi angan kalo cuma didiemin, ga dieksekusi. Ketangguhan ide kita bakal teruji selama mengeksekusi ide tersebut. Misalnya ditengah jalan produk yang kita kembangkan ada masalah, baik itu keuangan ato operasional, kita bisa menyelesaikan masalah tersebut dengan ide-ide kreatif kita. Jadi kesuksesan sebuah ide tidak datang dari awal itu sendiri, tetapi dari orang-orang yang membangun ide tersebut.

Profesor di bidang entrepreneurship William Bygrave mengamati fenomena bagaimana perusahaan-perusahaan venture capital sukses memilah-milah ide bisnis yang mereka terima. Sang profesor menemukan sebuah fenomena yang sangat menarik. Banyak bisnis sukses dengan ide kelas B daripada kelas A tapi semua bisnis yang sukses mereka danai itu ternyata punya orang-orang kelas A. Makanya tak heran kalo venture capital company berprinsip “danai aja bisnis dengan orang kelas A dengan ide kelas B”. Tak salah kalo pengusaha yang sudah sukses diberbagai bisnis dikejar-kejar sama Bank. 90% Kemungkinan bisnis mereka berhasil. Daripada mendanai orang yang baru terjun bisnis dengan ide besar yang belum tentu berhasil?

Relevansi teori di atas saya uji di lingkungan sekitar saya, terutama sejak saya aktif di dunia entrepreneurship di ITB. Banyak sekali kompetisi tentang ide bisnis dulu diadakan. Komunitas-komunitas yang merangsang ide bisnis baru tumbuh juga digalakkan. Bahkan di ITB, I2B(Inkubator Industri dan Bisnis) sempat menggelontorkan dana besar-besaran bagi siapapun yang punya ide bagus di bidang industri kreatif. Tapi tampaknya belum ada hasil yang signifikan. Banyak lomba ide bisnis belum bisa melahirkan pengusaha yang real, bahkan tak sedikit juara lomba di tingkat nasional ataupun internasional mandeg dengan idenya dan tak dapat menjadikan idenya sebuah bisnis yang menggurita. Dana-dana dari angel investor juga hilang rimbanya (hasil pengamatan dari alumni ITB yang mendapat dana dari alumni ITB juga). Adakah yang salah?

Sekali lagi ide bukanlah segala-galanya. Ujilah ide-ide itu terlebih dahulu, sampaikan ke orang lain. Dengan begitu anda bisa dapet feedback. Dengan feedback ide anda disempurnakan. Uji lagi ke pasar, perbaiki lagi produk yang sudah anda kembangkan dengan keinginan pasar. Cobalah sedikit poles produk anda dengan kekreatifan anda. Proses kecil-kecil seperti inilah yang menentukan kesuksesan bisnis.

(antara pengamat dan praktisi)

KIPP (Knowledge is Power Program) merupakan salah satu sekolah yang banyak dibicarakan di Amerika. Terutama tentang bagaimana kesuksesan mereka merekayasa seorang “looser” jadi “winner”. Banyak ahli pendidikan sampai Bill Gates merekomendasikan model pendidikan ini. Akhirnya saya melakukan beberapa observasi berikut, semoga bermanfaat bagi teman-teman yang bergerak di bidang pendidikan :

Merita merupakan siswa dari sekolah bernama KIPP. Ia termasuk golongan dari anak yang tidak mampu. Teman-temannya yang lain di KIPP juga banyak dari keluarga yang tidak mampu. Setiap hari ia bangun pagi-pagi, berangkat dari rumah pukul 5 pagi dan pulang rumah pukul 5.30 sore. Kalo ga ada PR dia menghabiskan waktu belajar sampai jam 9. Kadang sang Ibu menyela waktu belajarnya untuk makan. Kalau ada PR ia bisa tidur sampe jam 10 atau 11. Sekolahnya KIPP memang meminta muridnya untuk tidur tidak lebih dari jam 11. Suatu saat Merita tidur lebih dari jam 12 malam. Keesokan harinya habis di kelas gurunya bilang “Kamu harus tidur lebih awal”. Gurunya tau betul performa anak-anak didiknya.

Merita merupakan siswa pindahan dari sekolah sebelumnya. Di awal kelasnya ia masih sering maen ke tempat teman sekolah lamanya. Dia juga sering mengerjakan PR disana, tapi temannya itu tidak ada PR. Temannya bilang “Kamu telat masuk sana. Dulu saya pernah pengin masuk KIPP, tapi takut karena susah”. Merita menjawab “Banyak orang bilang KIPP susah, tapi ketika saya masuk sana biasa-biasa saja, malah saya enjoy”. Temannya bales lagi “Itu karena kau pintar”. “Tidak! setiap dari kita pintar”, jawab Merita.

Dari cerita di atas, KIPP memang patut dijadikan model. Ia mewariskan budaya ke anak-anak didiknya. Ada beberapa poin yang bisa disimpulkan bagaimana KIPP bisa mewariskan budaya tersebut. 

1. “Great Teacher”
Tidak hanya “Good” tapi “Great”. KIPP punya guru-guru “great” yang benar-benar mengerti kondisi siswanya satu-satu. Selain itu kalau datang ke kelas, anak-anak didik benar-benar merasa fun dalam belajar. Mereka menggunakan nyanyian-nyanyian atau yel-yel dalam belajar. Menariknya beberapa guru dari KIPP ini jebolan dari TeachForAmerica sebuah program yang mentraining guru-guru terbaik di seluruh penjuru Amerika. Bisa dibilang semacam “the next leaders” dalam bidang pendidikan.

2. Kedisiplinan
KIPP benar-benar tegas tentang masalah kedisiplinan. Mulai dari masuk kelas siswa-siswa KIPP harus tertib (bisa dilihat baris masuk kelasnya di Youtube) hingga sampe tidur harus tertib ga boleh lebih dari jam 11 malem. 

3. “Work Hard”
Siswa-siswa KIPP belajar lebih banyak daripada siswa-siswa lain di penjuru Amerika. Dengan banyak PR, mereka akan menjadi “better”. Waktu belajar mereka juga dari pagi sampe sore. Hari Sabtu mereka juga masuk. Lalu anda bertanya “Kapan waktu maennya?”. Jawaban pertanyaan tersebut bisa ditemukan dibuku “Work Hard be Nice” yang mengulas tentang filosofi pendidikan ala KIPP. selain itu, di dinding setiap kelas di KIPP juga bertuliskan “no shorcuts”.

4. SSLANT
Di KIPP ada aturan yang harus ditaati semua siswa yaitu SSLANT. “Smile, Sit up, listen, ask question, nod when being spoken to, and track with your eye”. Aturan ini benar-benar menarik. Menjadikan setiap siswa berpikir, aktif dan terapresiasi.

Dengan berbekal poin-poin tersebut, akhirnya banyak siswa-siswa miskin di Amerika bisa sekolah di universitas-universitas TOP di Amerika. Data menunjukkan 90% dari mereka mendapatkan beasiswa. 

Mungkin dari kita ga menyadari “kenapa sih kita harus kuliah di sekolah yang hebat?”. Mungkin karena karena alasan di atas, kita pengen dapet “WARISAN BUDAYA”.

“10.000 jam saja cukup untuk menjadi master di bidangmu”

Baru saja saya beli buku “OUTLIERS” yang mengulas teori kesuksesan yang ditulis oleh Malcolm Gladwell. Ia melakukan riset bahwa ternyata orang-orang sukses di bidangnya hanya membutuhkan latihan 10ribu jam untuk mencapai kesuksesannya. Ia menceritakan bagaimana Bill Gates, master violin, dan Bill Joy (Pencipta internet) menghabiskan 10rb jam tersebut.

Dalam ceritanya sebenarnya ia tidak hanya cerita 10ribu jam, melainkan juga OPPORTUNITY. Jadi kalo ga ada opportunity tapi kita melakukan 10rb jam itu tampaknya hasilnya ga bakalan seperti Bill Gates atau Bill Joy. Misal anda tukang becak, terus anda melakukan kayuhan 10rb jam. Apakah ini namanya kesempatan? tentu tidak. Lalu kesempatan seperti apa ya ng diceritakan Gladwell? mari kita simak cerita berikut (yang sudah saya paraphrase kan):

Universitas Michigan merupakan salah satu universitas pertama yang memiliki komputer waktu itu. Beruntung Bill Joy menjadi asisten komputer disana. Waktu itu memang belum banyak orang mengenal benda bernama komputer ini. Mangkanya dia dijuluki master oleh teman-temannya ketika itu. Dengan julukan itu ia semakin tertarik dengan dunia komputer, jam demi jam ia habiskan di depan komputer tersebut, sementara beberapa universitas bahkan belum mengajarkannya. Waktu PhD di Barkeley pun ia mulai masuk ke dalam jantung ilmu komputer. Ia pula yang menjadi orang pertama yang menulis kode perangkat lunak yang memungkinkan manusia berkoneksi lewat internet. Akumulasi kesempatan itulah yang menjadikannya bisa menciptakan perangkat lunak tersebut. Mulai dari kesempatan menjadi asisten komputer dimana orang lain belum mengenal komputer hingga kuliah di Barkeley yang mana pusat komputer waktu itu.  Ini yang dinamakan gladwell kesempatan + 10rb jam. Masih belum jelas? ok mari kita lihat contoh Gladwell lainnya.

Gladwell mengamati bagaimana master violinist diciptakan di sebuah akademi musik di Berlin. Akademi ini ternyata membagi peserta didiknya dalam 3 bagian. Kelas pertama mereka yang umumnya bakal menjadi solo stars di masa depan, kelas kedua mereka yang umumnya ‘good’ dan bermain di band, dan kelas ketiga adalah mereka yang ingin belajar violin hanya ingin jadi guru. Yang menarik ketika Gladwell bertanya ke mereka adalah mereka mulai memegang violin pada umur yang relatif sama, yaitu 5 tahun. Yang membedakan adalah jumlah latihan mereka. Kelas tiga umumnya latihan 3 jam seminggu ketika mereka dewasa (bahkan mungkin ga latihan karena sibuk ngerjain PR). Kelas dua lebih banyak lagi dan yang menarik kelas tiga yaitu sang calon solostars menghabiskan waktu 30 jam dalam seminggu sehingga pada umur 20an mereka telah menghabiskan 10rb jam untuk latihan. Dan tepat pada umur 20an itulah mereka umumnya menjadi master violin dunia. Dari sini Gladwell menyimpulkan, untuk menjadi master Violin anda harus kaya. Ga mungkin kan anda menghabiskan waktu anda untuk part time job untuk memenuhi kebutuhan anda? Disini Gladwell menegaskan opportunity yang dimiliki anak-anak yang orang tuanya sangat mendukung kegiatan mereka mulai dari segi dana hingga moral (lebih baik latihan violin daripada belajar sekolah). Mungkin itu juga yang menyebabkan anak musisi umumnya jadi musisi juga. Jadi belum tentu bakat! percayalah!!

Masih belum yakin? mari kita dengar cerita Bill Gates. Ia mengenal komputer pertama ternyata saat kelas 2 SMP ketika ia join Computer Club di SMPnya. SMPnya juga termasuk SMP pertama di Amerika yang punya komputer. Ini OPPORTUNITY pertama yang dimiliki Gates, yaitu SMP nya menganggarkan dana untuk komputer, bahkan universitas pun belum menganggarkan. Beruntungnya lagi waktu itu ada perusahaan perangkat lunak yang meminta computer clubnya Gates mengetes software buatan mereka. Langsung saja Gates belajar banyak sampai akhirnya ia kerja di perusahaan tersebut ketika SMA. Hari-hari SMA-nya juga ia habiskan dengan dunia programming dengan koneksi dari perusahaan tadi. Gladwell berpendapat, mungkin ketika Gates DO dari Harvard itulah ia telah menghabiskan waktu 10rb jam dalam dunia programming.

Dengan 10rb jam anda bisa tau apa yang harus anda lakukan dan apa yang tidak harus anda lakukan. Belajar adalah seni, ketika salah jangan diulang, ketika benar kita menemukan jalan yang benar.

Tags:

Namanya Christoper Kleem, direktur Austin Entrepreneurship Program di OSU. Beruntung saya bisa berdiskusi dengan beliau tentang Indonesia dan Amerika. Salah satu isu yang saya bawa adalah, masih tentang bagaimana Amerika bisa menghasilkan wirausaha-wirausaha hebat yang menjadi tulang punggung ekonomi Amerika. Menurut beliau ada 3 hal. Yang pertama adalah “People”. Amerika dulu adalah tanah kosong, banyak masyarakat Eropa yang bermigrasi ke Amerika. Mereka yang bermigrasi ini ternyata bukan orang sembarangan. Orang-orang Eropa yang punya ide-ide hebat tetapi dikekang oleh Gereja (kebanyakan dari Prancis). Orang-orang Eropa yang merupakan wirausaha tapi karena kondisi yang buruk di Eropa mengakibatkan mereka pindah ke Amerika. Dan juga Orang-orang Yahudi yang hebat karena adanya Holocaust sehingga mereka pindah ke Amerika. Mr Christ bilang “We have these people”.

Poin kedua adalah ‘Tradition’. Beliau bilang tradisi yang paling kental di Amerika adalah, mudahnya menjadikan ide menjadi bernilai ekonomi. Ini tidak dimiliki negara lain. Disini ide-ide baru sangat dihargai dan diapresiasi. Ini menimbulkan poin ketiga yang sangat krusial yaitu “Intelectual Property”. Setiap ide yang terlahir dilindungi oleh hukum. Di Amerika setiap hari ratusan mungkin ribuan paten terlahir dan ini menakjubkan. Yang menarik adalah, ada daerah-daerah tertentu yang sangat entrepreneurial seperti Silicon Valley, Mashachuset, dan Seatle. Daerah itu bisa menghasilkan ide-ide baru jauh lebih banyak dari daerah lain. Saya belum menemukan jawaban kenapa hal ini bisa terjadi.

Lalu saya tanya, dimana peran pendidikan di Amerika? Pendidikan di Amerika , kata beliau, tercipta setelah proses pembentukan ‘people’ dari Eropa tadi. Sebenarnya contoh yang menarik tentang bagaimana kesuksesan pendidikan dalam menumbuhkan jiwa entrepreneurship sehingga memajukan bangsanya ada di Korea Selatan. Taun 60an Korsel adalah Negara yang sangat miskin, bahkan lebih miskin dari Indonesia. Lewat push pendidikan yang kuat, mereka kita bisa menghasilkan LG, Hyundai, KIA, Samsung, bahkan beberapa paten produk dunia dipegang Korsel.

Pembicaraan mulai keluar dari topik entrepreneurship. Beliau mulai membicarakan bagaimana Negara-negara bisa maju. Amerika bisa melesat juga karena kondisi geografi, kesukuan, dan bahasanya. Demikian juga Korsel. Kondisi geografi yang satu hamparan membuat mereka lebih mudah dalam berdagang. Bahasa mereka yang satu membuat mereka mudah berkomunikasi dalam berbisnis. Suku-suku yang ada di Kedua negara itu juga seragam. Saya bertanya ke beliau, mungkinkah keberagaman suku di Indonesia menghambat kemajuan Indonesia? Beliau menjawab “bisa jadi”. Tapi ada satu yang menarik dari Indonesia kata beliau, yaitu satu agama yang dominan. Mungkin itu yang bisa menutup semua hambatan dan bisa menjadikan Indonesia menjadi bangsa yang besar.

Ini bukan studi ilmiah, tapi berdasarkan pengamatan kasat mata, bisa jadi bener bisa jadi salah. Sangat subjektif dan kasuistik, tapi mudah-mudahan mencerahkan. Tapi akan saya coba untuk objektif.
1. Proses-Hasil
Pendidikan bagi Amerika adalah proses. Saya merasakan betul bagaimana perbedaan pengajaran di US dan di Indonesia. Dosen disini sangat terpaku pada proses. Bobot penilaian juga banyak di tugas-tugas. Selain itu, hampir semua dosen mengamati perkembangan setiap anak didiknya. Mereka meminta kami untuk membawa hasil yang kemarin buat dibandingin, untuk menunjukkan improvement. Di Indonesia, saya terparadigma bahwa pendidikan adalah hasil. Kenapa bisa seperti itu? karena teman-teman saya melakukan demikian, jadi saya melakukan demikian juga.

2. Apresiatif-NonApresiatif

Tidak ada kata “jelek” disini. Semua dosen selalu bilang “great, good, very good, excellent”. Yang menarik buat saya adalah, dosen disini benar-benar berdedikasi. Mereka sangat mengerti betul perkembangan setiap murid dan apa yang murid kemarin lakukan. PR juga menjadi sangat penting bagi kami karena mereka selalu mengecek PR kami dengan sangat teliti. Ngga ada cerita nyontek PR disini. Di Indonesia, sepertinya iklim pendidikannya berkebalikan. Dosen jarang muji, trus juga PR ga dikoreksi sehingga menyebabkan banyak yang nyontek.

3. Ujian
Kebiasaan yang sering di Indonesia ketika masa ujian tiba adalah mencari soal tahun kemarin. Tapi apakah benar begitu pendidikan? di Amerika tidak ada budaya seperti itu. Mungkin karena dosennya kreatif membuat soal. Dan bobot ujian besar juga ga gede-gede amat. Mereka memilih PR yang banyak tapi kecil-kecil itu sebagai penentu sebagian besar nilai anak didik mereka.

4. Iklim Kelas:Dua Arah-Searah
Saya beruntung bisa ikut kelas reguler dengan warga Amerika disini. Mungkin saya satu-satunya warga asing di kelas itu (entrepreneurship). Suasana yang terjalin antara mahasiswa dengan dosen di US dan di Indonesia sangat berbeda. Mereka sangat aktif sekali. Mungkin persentase dosen dan murid ngomong 50:50. Kalo ada yang ga ngerti mereka juga tanya, jadi keluar kelas clear semua. Oh ya, tidak ada cerita ngobrol sendiri disini.

5. SD:Karakter-Matematika
Yang ini mungkin subjektif saya. Di SD rasanya saya mungkin hanya dapet pelajaran membaca dan matematika (yang masih dibawa sampe sekarang, pelajaran lain banyak lupanya). Tapi waktu ngobrol dengan anak SD di US , dapet pelajaran apa? “how to be good student, how to be good writer, how to be good reader, how to be good speaker”. Lah, trus aku tanya “emang ga ada how to be good mathematician?”. Anak itu ga tau…

Itu dulu, butuh komentar temen-temen untuk membuat tulisan diatas menjadi objektif dan tidak kasuistik.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.